
"Terima kasih, senang bekerja sama dengan Anda." Daniel mengulurkan tangannya dengan seorang pengusaha luar negeri yang juga sering menjadi investor di beberapa perusahaan berkembang lainnya.
Walau kali ini, Daniel juga harus memberikan beberapa persen saham miliknya untuk dijual agar bisa menutupi banyaknya kerugian yang diakibatkan oleh ulah Julio. Daniel masih cukup bersyukur karena kerja kerasnya hampir seminggu tidak pulang ke rumah dan kini dia sedang berada di Singapura untuk menemui pengusaha ini karena dia tidak bisa datang ke Indonesia.
"Senang bekerja sama dengan Anda juga, Mr Daniel," jawab laki-laki paruh baya yang memang sudah cukup terkenal di dalam dunia bisnis.
Entah bagiamana Livia bisa mengenal seorang Andrew Grissham. Seorang pengusaha kaya yang sudah banyak memiliki perusahaan dan juga investasi di berbagai macam bidang lainnya. Namun, keraguan Daniel pada Livia kini terbayar sudah karena dirinya bahkan kini dapat bertemu langsung dengan sang pemilik nama.
Keduanya berpisah setelah pertemuan bisnis ini berakhir, Daniel sama sekali tidak bisa memanfaatkan situasi untuk menggali tentang identitas Livia, dia terlalu takut untuk memulai pembicaraan mengingat kekuasaan yang dipunyai oleh Andrew. Seluruh kekayaan keluarganya mungkin hanya akan dianggap sebagai debu yang bahkan tak pernah terlihat oleh seorang penguasa seperti Andrew.
Daniel menyandarkan punggungnya di sandaran mobil yang akan mengantarkannya kemana pun selama di sini. Setelah ini dia harus segera pergi ke hotel dan kembali ke bandara dua jam kemudian karena Daniel harus segera kembali ke Indonesia, padahal baru tadi pagi dia datang ke negara ini.
"Kita sudah sampai, Pak," ujar kepala sekretaris yang sekarang bertugas untuk menemaninya mengingat Danis memiliki tugas lain di Indonesia.
Mendengar itu Daniel langsung menegakkan tubuhnya dan ke luar dari mobil, pening di kepala terasa semakin menjadi ketika dia berdiri di lobi hotel.
"Sepertinya Anda kurang sehat, sebaiknya Anda istirahat dulu sebelum kembali ke Indonesia," ujar kepala sekretaris sambil menahan tubuh Daniel walau itu hanya sekilas.
"Hem, sepertinya kamu benar. Tolong bangunkan aku satu jam setengah lagi, aku akan langsung tidur," angguk Daniel sambil mulai berjalan masuk ke dalam hotel dengan wanita itu mengikutinya.
"Baik, Pak," jawab sekretaris itu langsung.
__ADS_1
... ❤️🔥...
Dua jam kemudian Daniel benar-benar sudah kembali berjalan untuk ke luar dari hotel dengan wajah yang cukup segar walau masih ada garis lelah dan sedikit pucat di wajahnya. Namun, jangan ragukan pesona seorang Daniel, walau dia memang sedang kurang enak badan, tetapi sejak dia menginjakan kakinya di negara ini, banyak wanita yang terang-terangan menatapnya denggan penuh minat.
Namun, semua itu tidak bisa membuat Daniel berpaling. Dia yang memang sudah terbiasa menjadi pusat perhatian dan disukai banyak wanita malah tidak terlalu perduli. Sepertinya Daniel masih sangat anti dengan makhluk yang bernama perempuan, kecuali mami dan Livia. Ah, benar, dua wanita itu adalah pengecualian. Walau untuk Livia, Daniel sendiri belum tahu apa sebabnya dia bisa mengizinkan wanita itu untuk menyentuhnya.
Daniel hampir saja ke luar dari lobi hotel ketika tiba-tiba saja sebuah rombongan mobil datang dan berhenti tepat di depan lobi, kemudian beberapa laki-laki berbadan kekar tampak ke luar dan berbaris membentuk sebuah barikade.
"Siapa yang datang? Kenapa harus membuat kehebohan seperti ini?" tanya Daniel dengan kerutan di keningnya. Sungguh, dia sedang buru-buru sekarang dan dia tidak mau jadwalnya terganggu karena kepentingan orang lain.
"Entahlah, pak. Saya tidak menerima informasi apa pun," geleng sekretaris itu sambil ikut memperhatikan kedatangan seseorang yang kini akan segera muncul dari dalam mobil berwarna putih itu.
"Itu Selvia Anastasya, model terkenal yang kecantikannya tak terkalahkan!"
Daniel mengepalkan kedua tangannya dengan pembuluh darah di bagian leher yang tampak menonjol ke luar, untuk sesaat dia terpaku dengan pertemuannya dengan wanita yang menciptakan sebuah luka besar di dalam hati dan ingatannya.
"Wanita itu?" Daniel tampak menggeram lirih dengan mata memarah dan pandangan tampak goyah. Namun, kini dia kembali dibuat terkejut ketika mata keduanya sempat bertabrakan bahkan tampak bertaut beberapa detik lamanya.
Selvia terlihat ke luar dari mobilnya, dia tersenyum tipis pada beberapa orang yang tampak menjadikannya perhatian. Hari ini, dia akan mengadakan pemotretan di hotel ini untuk sebuah brand ternama. Namun, kini tubuhnya dibuat menegang ketika matanya melihat sosok yang sudah beberapa tahun ini tidak dapat lagi dia temui. Sosok yang sangat dia rindukan dalam hatinya walau sebuah kesalahan membuatnya tak berani hanya untuk menemuinya.
"Daniel?" gumam Selvia dengan mata melebar dan detak jantung yang kian meningkat karenanya.
__ADS_1
"Kita pergi sekarang!" Daniel yang menyadari jika Selvia sudah mengetahui keberadaannya pun memilih untuk melanjutkan langkahnya, bahkan lebih cepat lagi demi untuk menghindari wanita itu.
"D--Daniel!" Terdengar suara teriakan yang sangat familiar dari arah belakangnya, tetapi itu sama sekali tak membuat Daniel mau menoleh dan melihat pemilik suara.
Kesehatannya sedang tidak baik sekarang, jangan sampai hati dan mentalnya juga terganggu hanya karena pertemuan singkat dan tidak sengaja itu. Daniel memilih memeprcepat langkahnya dan segera masuk ke dalam mobil yang sudah siap terparkir di depan lobi, tidak jauh dari iring-iringan mobil yang tadi membawa Selvia.
Daniel menghembuskan napasnya kasar. Belum lagi masalah perusahaan dapat dia selesaikan kenapa dirinya malah dipertemukan dengan masa lalu buruknya. Masa lalu yang sealama ini berusaha dia lupakan.
...❤️🔥...
"Via, apa tidak apa-apa kamu mengirim Daniel ke sini hanya untuk mempertemukan dia dengan masa lalunya?" tanya Andrew dari sambungan telepon.
"Kenapa tidak? Aku sudah membantunya menyelesaikan masalah perusahaan yang disebabkan oleh kakak tirinya itu, jadi ini adalah imbalan yang harus aku terima ... melihat dia mengingat kembali masa lalunya," jawab Livia dengan nada suara datar.
Kemarin Agra yang tampak meragukannya, kini dia juga mendengar ayah angkatnya itu pun mulai berbicara melantur dan membela Daniel. Setidaknya, itulah yang sekarang Livia tangkap dari perkataan Andrew dan Agra.
"Baiklah jika itu memang sudah keputusan kamu--" Andrew terdengar menghela napas pelan sebelum melanjutkan perkataannya.
"Detail kontrak yang aku tandatangani dan perjanjian perusahaan Daniel padaku akan segera aku kirimkan padamu. Sekarang kamu sudah memiliki saham terbesar di perusahaan Daniel, jika digabungkan dengan yang ini," ujar Andrew dengan suara terdengar kembali serius.
"Hem. Makasih, Daddy. Tolong minta seseorang untuk mengurusnya dan menyatukan kepemilikan semua saham itu atas namaku," jawab Livia yakin.
__ADS_1
"Iya. apa pun untukmu, My Daughter," jawab Andrew yakin yang membuat Livia terkekeh kembali.
"I love you, Daddy," ujap Livia dengan nada sedikit manja, walau masih terdengar kaku.