
Livia mendesah kecil ketika melihat pantulan dirinya di cermin setelah beberapa jam berkutat dengan dua petugas salon yang dipanggil oleh Mama Luci. Semua penyamarannya setahun ini menjadi wanita kampung kini terbantahkan sudah karena ulah ibu mertuanya itu.
Wajah putih mulus dan segar terlihat di pantulan cermin, ditambah lagi dengan rambut sebahunya yang wangi dan tampak sehat. Dia kini sudah kembali pada rupanya yang asli, sebelum memutuskan untuk menyamar dan masuk ke dalam rumah ini.
Kulit kusam, rambut lepek dan bibir kering, sudah tidak ada lagi di sana. Livia kini menjadi gadis yang semuanya tampak terawat.
"Ya ampun, Livia kamu cantik sekali, Nak. Mami saja sampai pangling liat kamu yang sekarang," ujar Mami Luci begitu melihat perubahan Livia setelah mendapatkan perawatan.
"Kalau udah gini, mana bisa Daniel nolak kamu kayak kemarin," sambung Mami Luci sambil menyingkirkan anak rambut yang tampak menghalangi sedikit wajah Livia bagian sisinya.
"Makasih, Mami. Ini juga berkat, Mami," jawab Livia malu-malu.
"Sekarang tinggal ganti baju, biar kamu tambah cantik lagi," ujar Mami Luci sambil memberi kode pada pelayan yang memang bertugas untuk mengantarkan baju-baju yang baru saja dia beli dari salah satu butik milik temannya.
Livia melebarkan matanya ketika melihat dua orang pelayan yang mendorong banyak baju yang tergantung dia sebuah standing hanger besi. Mulai dari gaun panjang, gaun pendek, bahkan baju stelan yang terlihat formal maupun santai, ada di sana.
"Mami, ini apa?" tanya Livia kini beralih menatap sang mertua.
"Ini adalah baju yang Mami siapkan untuk kamu, Livia," jawab Mami Luci sambil mengelus rambut coklat Livia yang kini terlihat berkilau.
"Livia, sekarang ini kamu harus lebih memperhatikan penampilan kamu, karena saat ini kamu sudah menjadi istri dari Daniel. Jadi, Mami coba beli beberapa baju yang mungkin cocok untuk kamu pakai di beberapa acara atau pun untuk sesehari," sambung Mami Luci lagi kemudian mengajak Livia untuk berdiri.
"Ayo, coba kamu lihat, mana tau ada yang kamu suka," ujar Mami Luci.
Livia pun berjalan mendekati standing hanger untuk melihat jenis baju yang disediakan oleh mertuanya. Dia kemudian meringis pelan, ketika melihat baju yang ada di sana kebanyakan gaun yang bernuansa girly girl. Sungguh, itu sangat jauh dari apa yang dia suka selama ini.
"Coba ambilkan gaun berwarna putih itu," titah Mami Luci yang tidak sabar, karena sejak tadi Livia hanya menatap deretan baju di depannya tanpa mau menyentuhnya sama sekali.
"Livia, Mama mau coba lihat kamu pakai baju itu," sambung Mami Luci lagi beralih pada menantunya.
"T--tapi, Mam?" Livia merasa ragu. Entah bagaimana nanti kalau dia memakai baju seperti itu.
"Ayo, coba dulu, Mami yakin nanti kamu pasti keliatan cantik banget." Mami Luci mencoba merayu Livia.
__ADS_1
Livia menghembuskan napas pelan, dia kemudian mengangguk walau itu begitu berat dia lakukan. "Baik, Mami. Aku coba sekarang, ya." Livia masuk ke dalam kamar tamu untuk mencoba gaun yang dipilihkan oleh Mami Luci.
Beberapa saat kemudian, Livia tampak terdiam di depan cermin full body di depannya, dia menatap aneh pantulan dirinya sendiri yang menggunakan gaun berwarna putih selutut pilihan Mami Luci.
Untuknya yang tumbuh besar di tegah banyaknya laki-laki, Livia lebih suka berpakaian tomboy dengan memakai kaos biasa atau kemeja yang dipadukan dengan celana dan jaket. Itu juga lebih leluasa untuknya, jika terpaksa harus membela diri atau bertarung karena situasi tak terduga.
"Pakaian apa ini? Kenapa aku jadi aneh begini? Ish!" Livia mendesah berat. Dia benar-benar enggan ke luar dari kamar itu sekarang. Rasanya malu harus bertemu orang dengan pakaian terbuka seperti ini.
"Aku bisa ditertawakan habis-habisan sama Daddy dan Agra kalau sampai mereka tau aku memakai pakaian seperti ini. Apa lagi kalau bertemu Edo, habis pasti aku diejek sama dia," kesal Livia, membayangkan reaksi keluarga angkatnya ketika melihat penampilan dia yang sekarang.
"Livia, kamu sudah selesai, Nak?!" Mami Luci yang merasa Livia terlalu lama berada di dalam pun akhirnya mengetuk pintu.
"Heuh? I--iya, Mam sebentar lagi aku ke luar," jawab Livia dengan wajah terkejutnya.
"Oh, baiklah." Mami Luci kembali menunggu Livia dengan sabar.
.
"Dasar para wartawan sialan! Berani sekali mereka menyebarkan rumor tidak berdasar seperti itu tentangku!" geram Daniel, sambil membating tablet yang sebelumnya ia gunakan untuk memantau perkembangan media yang sedang gempar dengan berita tentangnya. Dia dicurigai sebagai penyuka sesama jenis.
Semua rumor itu berawal dari foto ketika Daniel terlihat masuk ke kamar hotel bersama seorang aktris laki-laki, hanya berdua saja. Foto itu beredar di dunia maya hingga membuat media dan para warga net berspekulasi liar sampai menuduhnya sebagai penyuka sesama jenis.
Semua itu didukung dengan Daniel yang tidak pernah terlihat bersama wanita sejak dia putus dengan salah satu model internasional lima tahun lalu. Dia masih asik melajang bahkan ketika kini umurnya sudah diatas tiga puluh tahun.
Rumor itu pun semakin melebar karena ada pihak-pihak yang ikut berbicara dan mengaku kalau tahu jika aktris itu memang tidak menyukai wanita. Tanpa mereka sadari, ulah mereka yang menyudutkan aktris yang tengah terkena skandal karena melakukan kekerasan terhadap pacarnya itu pun berdampak semakin buruk pada citra Daniel, juga perusahaan yang tengah dia pimpin.
Maka dari itu akhirnya dia terpaksa menyetujui permintaan ibunya untuk menikahi Livia, dengan niat menjadikan wanita itu sebagai alat agar rumor itu bisa mereda, sekaligus menjadi pembuktian bahwa dirinya bukanlah penyuka sesama jenis.
"Makanya, move on dong, Kak. Dari dulu aku sudah bilang, lupakan wanita ja*ang seperti Sharen. Kalau saja Kakak bisa mendengarkan perkataanku, pasti semua ini tidak akan terjadi," kesal Danis yang berada di kursi kemudi.
"Aku sudah move on, Danis! Tapi, sekarang aku tidak butuh seorang wanita. Mereka hanya bisa merepotkan dan membuat masalah! Lagi pula, di klub malam, aku bisa mendapatkan wanita yang aku inginkan dengan hanya menggunakan jari telunjukku saja," jawab Daniel tanpa melihat pada adiknya yang hanya berbeda dua tahun darinya itu.
"Gak usah sok menasehati, kalau kamu sendiri masih belum mengencani seorang wanita pun sampai sekarang. Harusnya yang terkena rumor itu bukan aku, tapi kamu!" sambung Daniel lagi sambil melirik Danis sinis.
__ADS_1
"Kalau aku jelas normal, karena aku mempunyai banyak daftar wanita yang siap aku sleksi dengan baik," jawab Danis sambil tersenyum mengejek.
"Ck! Bilang saja kalau kamu memang pemain wanita," decak Daniel yang langsung dibalas gelak tawa oleh Danis.
"Bukan pemain, Kak. Tapi, aku sedang melakukan seleksi untuk menemukan yang terbaik dari yang terbaik," jawabnya sambil tertawa terbahak, puas mengejek sang kakak.
Danis memang terkenal bermulut manis dan senang sekali tebar pesona di depan para wanita, walau ujung-ujungnya mereka hanya akan menjadi bahan permainan laki-laki yang satu ini.
"Sepertinya kita harus secepatnya mengumumkan pernikahan Kakak dan Livia ke publik, agar semua berita ini langsung bisa dihentikan," sambung Danis lagi yang kini sudah berganti menjadi mode serius.
"Entahlah, aku rasa itu tidak akan berpengaruh sedikit pun. Lihat saja dia, pakaiannya saja kampungan, belum lagi kulitnya yang kusam dan rambutnya yang berminyak. Ish, aku bahkan merasa malu sebelum bisa mengenalkannya kepada dunia jika dia adalah istriku," ungkap Daniel yan memang merasa jijik dengan Livia.
"Benar juga, kalau Livia masih dengan penampilan sekarang, mana mungkin ada yang percaya kalau dia adalah istri Kakak," angguk Danis menyetujui perkataan kakaknya.
Keduanya pun kembali terdiam, memikirkan jalan ke luar dari semua masalah yang sedang menimpa Daniel dan perusahaan. Hingga tanpa terasa Danis sudah menghentikan mobilnya di depan rumah mewah milik keluarga Hartoyo.
"Kita pikirkan lagi nanti saja, sekarang aku ingin istirahat dulu," ujar Daniel sebelum dia ke luar dari mobil.
"Oke," jawab Danis, yang ikut turun kemudian mereka berjalan bersama memasuki rumah.
"Mami, kami pulang!" Teriakan Danis terdengar menggema di seluruh ruangan, begitu laki-laki itu memasuki rumah.
"Mami di sini, Nak!" jawab Mami Luci yang masih menunggu Livia ke luar dari kamar tamu itu. Hingga---
Cklek ....
Pintu terbuka bersamaan dengan Daniel dan Danis yang sampai di belakang Mami Luci, mereka baru saja akan membuka suara untuk menyapa wanita paruh baya itu ketika perhatianya kini teralih pada pintu yang terbuka.
Mata keduanya melebar dengan mulut yang sedikit menganga, ketika melihat wanita yang tampak berjalan pelan ke luar dari dalam kamar tamu itu. Rambut coklat yang terurai hingga ke bahu, ditambah riasan tipis dan gaun putih yang sangat cocok dipakai Livia, membuat wanita itu terlihat sangat berbeda dari sebelumnya.
Mata Daniel sempat bertabrakan dengan iris hitam milik Livia, keduanya tampak saling terkejut ketika menyadari keberadaan satu sama lain.
__ADS_1