
"Livia, tolong susulin Kak Daniel ke rumah sakit, aku takut ada apa-apa sama kakek, soalnya tadi aku denger dari karyawan kalau kakak buru-buru pergi dari kantor," ujar Danis yang sedang ada acara di luar kantor dan dia tidak bisa pergi sekarang untuk menyusul kakaknya.
"Tapi, Mami--" Livia enggan meninggalkan Mami Luci sendiri di rumah. Lagi pula Daniel tidak akan setuju jika dia melakukan itu. Yang ada, laki-laki itu pasti akan menyalakan dirinya karena meninggalkan Mami Luci di rumah bersama Murti dan Julio.
"Gak apa, nanti setelah acara ini aku langsung pulang. kamu ke rumah sakit dulu saja." Danis langsung memotong perkataan Livia yang bahkan belum selesai.
"Oke," angguk Livia kemudian mematikan sambungan teleponnya. Dia lebih dulu meminta izin pada mami Luci sebelum akhirnya berangkat menggunakan mobil milik Daniel yang biasa dia gunakan.
Sampai di depan kamar rawat kakek Banu, Livia melihat Daniel dan Karlo yang sedang berdiri dengan wajah yang tampak khawatir, dia bahkan melihat Daniel yang berjalan mondar-mandir sambil menghela napas berulang kali.
"Ada apa, Daniel?" tanya Livia begutu dia sampai di dekat Daniel.
Daniel menoleh ketika telinganya mendengar suara Livia yang tiba-tiba. Keningnya berkerut ketika melihat wajah wanita yang kini menjadi istrinya memang berada di sampingnya, padahal dia sama sekali tidak menyadari kedatangannya.
"Kamu? Sedang apa kamu di sini? Mami?" Daniel melihat ke sembarang arah mencari keberadaan mami Luci.
"Aku diminta menyusul kamu sama Danis. Mami gak ikut, Danis bilang mau langsung pulang setelah acara," jawab Livia yang langsung menghentikan pergerakan kepala Daniel. laki-laki itu kembali menatap padanya.
"Jadi Danis yang menyuruhmu ke sini?" tanya Daniel lagi.
Livia mengangguk sebagai jawaban. Dia kemudian mengulang pertanyaan sebelumnya yang sepertinya tidak terlalu terdengar oleh Daniel. "Ada apa sama Tuan besar?"
"Kakek anfal, dia jatuh di kamar mandi," jawab Daniel sambil melihat ke arah pintu kamar rawat kakek Banu dengan tatapan nanar.
__ADS_1
"Kakek anfal? Gimana keadaannya?" tanya Livia yang juga ikut terkejut dengan jawaban Daniel.
"Sedang diperiksa--" Jawab Daniel terhenti ketika pintu ruang rawat kakek Banu terbuka dan dokter terlihat ke luar dari sana.
"Bagaimana keadaan kakek saya, Dok?" tanya Daniel yang langsung menghampiri dokter laki-laki paruh baya itu.
"Mafkan kami. Tapi, kakek Anda tidak bisa kami selamatkan," jawab Dokter itu dengan raut wajah penuh sesal.
Tubuh Livia mematung ketika mendengar jawaban dari dokter yang selama ini merawat kakek Banu, kepalanya perlahan menggeleng pelan, merasa tidak percaya akan semua itu.
"E--enggak mungkin ... ini gak mungkin terjadi, dokter jangan bercanda. Ini sama sekali gak lucu, Dok." Daniel terkekeh pilu walau matanya sudah mulai memerah dengan air menggenang di pelupuk. Wajah laki-laki itu tiba-tiba saja berubah pucat seolah tidak ada darah di sana.
"Maafkan kami, Tuan. Kami sudah berusaha semampu kami untuk menyelamatkan nyawa kakek Anda, tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain--"
"Maaf, Dok." Livia yang melihat itu mewakilkan Daniel untuk meminta maaf dengan tatapan mengikuti tubuh Daniel yang sudah masuk ke ruang rawat.
"Tidak apa, Nyonya. kami mengerti. Kami turut berbela sungkawa atas meninggalnya tuan Banu Hartoyo," ujar Dokter itu sambil tersenyum ramah pada Livia.
"Kakek, jangan tinggalin aku!" Terdengar teriakan Daniel dari dalam ruangan yang bahkan terdengar jelas oleh Livia dan orang-orang yang ada di sana.
Livia yang mendengar itu pun memutuskan untuk segera pergi ke dalam setelah berpamitan kepada dokter itu. Begitu dia memasuki ruangan, ternyata Daniel sedang menangis sambil memeluk kakek Banu, sementara Karlo yang tadi menyusul Daniel pun malah bersimpuh di lantai dengan air mata berlinang.
Livia mengepalkan tangannya, melihat tangis Daniel dan Karlo juga dengan tubuh kakek Banu yang sudah terbujur kaku, perlahan ingatannya tentang kematian keluarganya pun melintas di kepala. Berulang kali Livia mencoba menarik napas kemudian menghembuskannya lagi untuk menghilangkan bayangan yang menyiksa dirinya.
__ADS_1
Untuk beberapa saat Livia hanya terdiam sambil menatap kesedihan Daniel dan Karlo atas meninggalnya kakek Banu. Ada kebencian yang kembali tumbuh oleh rasa iri ketika dia mengingat jika dulu keluarganya bahkan tak ada yang menangisi ketika dibantai oleh Karsa dan Daniel.
Setidaknya ketika kamu meninggal, masih ada keluarga yang mangisi kepergianmu, Kakek tua. Tapi, bagaimana dengan orang tua dan keluargaku? Mereka bahkan tidak ada yang menangisi ketika anak dan cucumu ini ambil paksa nyawanya, batin Livia manahan perih yang teramat sangat di dalam hati.
Tanpa terasa tetas air mata pun mulai membasahi pipi, walau Livia tidak membiarkan itu berlangsung lama. Wanita itu langsung mendongakkan kepala dan menghapus air mata itu dengan kasar. Setelah memastikan dia sudah bisa mengendalikan dirinya sendiri, kini tatapannya beralih pada Daniel, dia menarik napas dalam kemudian menghembuskannya kasar sebelum mulai membawa kakinya melangkah menghampiri laki-laki yang kini menjadi suaminya.
"Daniel," panggil Livia sambil menyentuh pundak Daniel perlahan.
Daniel menoleh pada Livia dengan air mata berderai. Tatapan sendu dengan rasa sakit yang terpacar dari sorot mata merah Daniel itu entah mengapa membuat perasaan Livia menjadi aneh. Ada rasa sakit dan iba di dalam hatinya, padahal harusnya itu sama sekali tidak boleh ada pada dirinya.
"Kakek udah pergi, Livia," adu Daniel sambil memeluk Livia dengan tangis yang masih saja terdengar.
Livia terdiam, untuk beberapa saat. Livia masih belum terbiasa dengan sentuhan yang terlalu intim seperti ini. Wanita dingin itu tidak pernah sedekat ini dengan lawan jenis, walau dengan Andrew atau Agra sekalipun. Walaupun mereka adalah keluarga angkatnya, tetapi mereka masih menjaga jarak dengan dirinya mengingat dia adalah wanita satu-satunya dalam keluarga itu.
Namun, akhirnya Livia membalas pelukan Daniel, dia menepuk punggung Daniel pelan tanpa berkata apa pun. Livia membiarkan Daniel menumpahkan semua kesedihannya dalam pelukannya.
Livia mengerti bagaimana sakitnya kehilangan orang yang kita sayangi. Dia masih ingat jelas bagaimana rasa sakitnya ketika melihat keluarganya mati secara mengenaskan. Apa lagi, dulu Livia bahkan tak ada sandaran untuk berbagi rasa sedihnya, tidak ada orang yang memberikan pelukan hangat atau bahkan kata penenang untuk jiwa kecil yang sedang hancur.
Dengan teganya, mereka menjualnya ke tempat lelang ilegal untuk menjadi budak . Livia dipaksa memakai baju seksi yang hampir tidak menutupi apa pun di tubuhnya kemudian dimasukan pada sebuah sangkar burung raksasa berwarna emas, lalu tubuhnya dipertontonkan di depan banyak pasang mata yang menghadiri acara lelang ilegal itu.
Mengingat itu Livia kembali meneteskan air matanya. Sungguh, luka itu masih terasa sangat nyata hingga sekarang. Walau trauma itu sudah sedikit terobati oleh terapi yang lama dia lakukan sejak diangkat menjadi anak oleh Andrew, tetapi, rasa sakit dan kenangan itu tidak akan pernah hilang dari ingatannya.
Sakit yang kalian terima bahkan tak setimpal dengan apa yang aku rasakan. Ini baru seujung kuku saja, batin Livia dengan tangan mengepal kuat.
__ADS_1