Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.76 Nenek Lampir?


__ADS_3

"Hai, Daniel, aku bawain makan siang nih buat kamu," ujar wanita itu sambil memperlihatkan kotak bekal yang dibawanya kemudian langsung melingkarkan tangannya di lengan Daniel, seolah itu memang sudah biasa terjadi.


"Selvia?" gumam Livia dengan jantung yang seolah terasa terhenti untuk sesaat.


Daniel sama sekali tidak bereaksi oleh perlakuan Selvia, karena dirinya memang masih berada dalam kebingungan dan keterkejutannya sendiri. Matanya sama sekali tidak pernah beralih dari wanita yang kini tampak berdiri canggung di samping laki-laki yang dia tahu sebagai pemegang saham terbesar perusahaannya.


Apa hubungan mereka berdua? Kenapa mereka bisa datang bersama? Kenapa Livia bisa tersenyum kepada laki-laki itu? Apa ini semua masih tentang balas dendam? Apakah Livia sudah menikah lagi dengan pemegang saham terbesar dan sekarang sudah memiliki anak? Tidak! Tidak mungkin Livia berbuat sekejam ini padaku. Anak itu terlihat seperti berumur lima tahun, itu berarti dia adalah anakku. Iya, itu pasti anakku!


Berbagai prasangka pun mulai berputar di kepalanya. Seiring dengan rasa sakit dan panas yang dia rasakan di dalam dada.


"Kak!" Damis yang merasa geram dengan sikap Daniel pun menyenggol tubuh kakaknya itu dengan cukup keras untuk menyadarkan Daniel dari lamunannya.


"Heh?!" Daniel tampak menoleh pada Danis sebelum akhirnya dia menyadari keberadaan Selvia di sampingnya.


"Ish, ngapain kamu datang ke sini?" tanya Daniel sambil menyingkirkan tangan Selvia dari lengannya kemudian membawa kakinya beberapa langkah menjauh dari wanita itu.


Daniel yang sadar akan keberadaan Livia pun memilih langsung berjalan menghampiri wanita itu yang masih tampak berdiri di depan ruang tunggu lobi bersama dengan Ares dan Max.


"Selamat siang Tuan Max, saya senang sekali Anda dapat meluangkan waktu untuk berkunjung ke kantor ini," ujar Daniel sambil menyodorkan tangannya ke depan Max, sementara matanya tampak melirik Livia yang masih berdiri di samping laki-laki itu.


"Selamat siang, Tuan Daniel, maaf saya kemari tanpa pemberitahuan lebih dulu. Kebetulan atasan saya sedang berada di Indonesia dan dia ingin berkunjung ke sini," jawab Max sambil melirik Livia dan Ares bergantian dan menyambut tangan Daniel.


"Atasan Anda?" tanya Daniel yang tampak bingung.


"Benar, dia adalah pemilik saham sebenarnya," angguk Max sambil memegang pundak Ares hingga anak itu maju satu langkah ke depan.


'Apa? Pemegang saham terbesar di perusahaanku adalah seorang anak kecil? Apa Tuan Max tidak salah? batin Daniel sambil mengalihkan pandangannya pada anak kecil di depannya.

__ADS_1


Tunggu ... tiba-tiba saja, Daniel merasakan sesuatu yang berbeda di dalam hatinya saat melihat wajah anak laki-laki itu dari dekat. Jantungnya bahkan bedebar dengan labih cepat ketika semakin lama dia menatap anak laki-laki di depannya.


'Wajah anak ini sedikit mirip dengan wajahku ketika kecil? Apa benar dia anakku dan Livia? Jika dilihat dari dekat, matanya sama dengan Livia, bahkan bulu matanya saja tampak lentik seperti Livia. batin Daniel sambil menerka-nerka.


Sementara itu Danis memilih mengurus Selvia yang masih belum menyerah juga dan ingin kembali mendekati Daniel, padahal sudah sering kali Daniel menolak wanita itu dan menyuruhnya untuk menyerah


Perlahan Daniel mulai menekuk kakinya hingga tampak berjongkok di depan anak laki-laki itu kemudian tersenyum tulus sebelum mulai menyapa.


"Hai, kenalin aku--" Ucapan Daniel terhenti ketika anak laki-laki yang belum dia ketahui namanya itu tiba-tiba menghambur memeluknya.


"Papa, ini Papa Daniel, papanya Ares?" ujar Ares tiba-tiba, hingga membuat tubuh Daniel langsung menegang.


Jantung Daniel seolah berhenti beberapa saat ketika dia mendengar panggilan yang selama ini tidak pernah dia dapatkan sebelumnya. Dia yang sebelumnya sudah memliki firasat jika anak ini adalah anaknya bersama Livia pun tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, walau Daniel tetap masih berurusan menahan perasaan itu sebelum semuanya jelas.


Livia yang melihat itu tampak langsung membuang muka, dia tidak pernah menyangka jika dirinya akan menyaksikan adegan seperti ini begitu cepat. Rasanya sangat canggung dan bercampur aduk. Mata wanita itu pun tampak berkaca-kaca dengan dada yang terasa sesak dan tenggorokan tercekat.


Tak pernah Livia bayangkan sebelumnya, bagaimana kerinduan Ares pada Daniel yang merupakan ayah kandungnya sendiri. Ternyata, walaupun selama ini dia terus berusaha menghadirkan sosok ayah untuk anaknya, tetap saja Ares merindukan Daniel. Ayah yang bahkan belum pernah dia temui selama hidupnya.


Max tersenyum tipis sambil mengangguk pelan sebagai jawaban, sementara Livia tampak terdiam beberapa saat sebelum kemuduian ikut mengangguk samar.


Melihat itu, Daniel langsung membalas pelukan Ares dengan begitu lembut, air matanya tiba-tiba saja tidak bisa dia bendung lagi. Daniel bahkan lupa jika sekarang dirinya sedang berada di lobi kantor yang memungkinkan banyak karyawannya melihat dirinya yang sekarang.


"Iya, sayang. Ini papa, maafin papa karena sudah gagal. maaf, Nak." Daniel memberikan banak ciuman di kepala anak laki-lakinya yang baru saja dia ketahui keberadaannya itu, dia juga tak henti mengucapkan kata maaf karena dirinya tak bisa melihat perkembangan Ares dan mendampingi Livia selama ini.


"Ares kangen Papa," gumam Ares dengan isakan kecil dari bibir mungilnya.


"Maaf, sayang. Maafin papa." Hanya itu kata yang sekarang dia mampu ucapakan pada Ares maupun Livia. Air matanya bahkan sudah menetes membasahi pipinya karena terlalu bahagia.

__ADS_1


Sungguh, Daniel begitu merasa bersalah sekarang, karena tidak bisa menemukan keberadaan Livia dan anaknya sendiri selama lebih dari enam tahun. Laki-laki itu tiba-tiba saja merasa sangat bodoh dan tidak berguna sebagai seorang suami dan ayah.


Setelah cukup lama dalam keadaan yang sama, Daniel perlahan mulai mengendalikan dirinya, dia kemudian menggendong Ares yang masih saja melingkarkan tangannya di leher Daniel, kemudian berdiri di hadapan Livia dan Max lagi.


"Ayo kita ke ruangan saya dulu, biar kita bicara di sana, saya juga sudah menyiapkan laporan untuk Anda, Tuan," ujar Daniel sambil menatap Max dan Livia bergantian. Kini yang masih menjadi pertanyaanya adalah, hubungan antara Max dan Livia.


Semoga saja mereka hanya teman atau kerabat dan Livia masih memiliki perasaan itu untukku, batin Daniel dengan perasaan yang masih tak tenang.


Max tampak menoleh pada Livia lebih dulu sebelum menyetujui keinginan Daniel, dia kemudian menyetujuinya ketika Livia tampak mengangguk samar. Ketiga orang dewasa itu pun berjalan beriringan menuju lift dengan Daniel yang menggendong Ares tanpa ragu walau kini dirinya menjadi bahan perhatian semua karyawannya.


Sementara itu di luar lobi kantor, Danis tampak masih berusaha menghentikan Selvia yang terus memaksa untuk masuk dan bertemu dengan Daniel.


"Danis, kamu jangan kurang ajar ya sama aku. Aku ini calon kakak iparmu," ujar Selvia mencoba untuk mengancam Danis walau semua itu hanya mendapat sebuah senyuman remeh dari laki-laki itu.


"Dalam mimpi saja aku gak sudi menerima kamu jadi kakak iparku," ujar Danis sambil menatap Selvia dengan tatapan remeh.


"Liat saja, aku akan kembali lagi sama Daniel secepatnya. Saat itu, bahkan kamu gak akan bisa meremehkan aku lagi." Selvia tampak sangat marah dan merasa terhina oleh tatapan Danis padanya.


"Terserah kamu saja. Dasar nenek lampir tidak tahu malu! Udah, mendingan kamu burun pergi dari kantor ini, atau aku panggilkan satpam untuk menyeret kamu keluar." Danis yang sudah merasa geram dengan perdebatannya dan Selvia pun akhirnya memilih untuk memberi kode pada staf keamanan yang tampak berada di sekitar sana untuk mendekta padanya.


"Iiih, dasar adik ipar gila! Liat saja, aku akan aduin kamu sama Daniel nanti!" Melihat para staf keamanan mulai mendekat, tiba-tiba saja Selvia merasa nyalinya menciut, dia yang seorang model internasional, tidak mungkin kan dibiarkan diseret oleh satpam di depan kantor Daniel. Itu terlalu memalukan untuknya.


"Silahkan saja, aku yakin dia akan banga padaku karena berhasil mengusir setan sepertimu dari kantornya," jawab Danis santai.


Selvia berdecak marah sambil mulai masuk kembali ke dalam mobilnya, dia merasa sangat tidak dihargai dan terhina oleh semua ucapan Danis hari ini. Wanita itu juga sempat meliat Livia yang tampak tak asing di ingatannya, walau masih belum dia dapat diingat, di mana dia melihat Livia.


"Siapa wanita itu? Kenapa Daniel dan Danies terlihat sangat berhati-hati di depannya?" gumam Selvia setelah dia berada di dalam mobil. Wanita itu tampak melirik Danis yang masih berdiri di tempatnya sebelum mulai mengemudian mobil ke luar dari area kantor Daniel.

__ADS_1


Sementara itu, Danis tampak baru saja kembali ke dalam setelah melihat mobil Selvia benar-benar pergi dari area kantor. Laki-laki itu tampak menghembuskan napas pelan sebelum mulai melangkahkan kakinya untuk menyusul Daniel kembali.


"Semoga saja pertemuan ini akan membawa kebahgiaan untuk Kak Daniel," gumamnya dengan penuh harap. Rasanya sudah cukup selama ini dia melihat Daniel terus berada di dalam rasa bersalah dan kerinduannya pada Livia, hingga dia berharap hari ini bisa membuat kakaknya itu ke luar dari masalah perasaannya yang tak berujung itu.


__ADS_2