
"Apa ini? Jelas-jelas aku yang selama ini lebih dulu mendekatinya, tapi kenapa sekarang Daniel malah mau menikah dengan wanita murahan itu?!" teriak Selvia saat dia tidak sengaja mendengar kabar rencana pernikahan Daniel dan Livia yang akan dilaksanakan dua minggu lagi.
Tentu saja, berita itu membuat hati Selvia panas dan tidak terima. Selvia tampak melempar kartu undangan yang dia dapatkan dari salah satu temannya sambil berteriak histeris.
"Awas saja! Aku gak akan membiarkan kamu merebut Daniel dariku. Daniel adalah miliku, dia tidak boleh dimiliki oleh wanita lain," geram Selvia dengan mata menyorot tajam dan rencana jahat yang mulai terangkai di dalam kepala.
Wanita itu tampak mengambil ponsel yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya kemudian mencari nomor telepon seseorang dan mulai menghubunginya.
"Cari tahu semuanya tentang wanita itu, jangan sampai ada yang terlewatkan sedikit pun," titahnya setelah mendengar suara seseorang dari seberang sana, kemudian langsung menutup sambungan teleponnya begitu dirinya sudah menyampaikan apa yang dia inginkan.
...❤️🔥...
Kabar kembalinya hubungan Daniel dan Livia pun menyebar dengan sangat cepat, kini beritanya bahkan sudah tersebar di kantor dan beberapa tempat yang sering keduanya datangi bersama.
Tanpa terasa kini pernikahan yang sudah direncanakan sejak satu bulan yang lalu, hanya tersisa dua minggu lagi. Saat ini, keduanya tengah sibuk mempersiapkan pernikahan bersama. Perdebatan kecil, tentu sering terjadi, mengingat perbedaan yang pasti tetap akan ada.
Namun, semua itu hanya mereka jadikan sebagai bumbu untuk semakin menambah rasa cinta diantara keduanya. Daniel dan Livia selalu memilih jalan tengah, atau salah satu diantara mereka berdua akan ada yang mengalah demi mempertahankan hubungan.
Mengerti satu sama lain. Mungkin itu lah kata yang sekarang pantas disematkan pada pasangan yang tengah dalam masa menyambut hari bahagianya itu. Seperti saat ini, keduanya tengah berada di tempat fiting baju pengantin milik Livia.
Namun, Daniel merasa jika gaun yang dipilih oleh Livia terlalu terbuka dibagian atas, hingga dirinya merasa keberatan. Masalahnya, Livia merasa itu masih bagus dan terlihat sopan, apa lagi itu hanya baju untuk pesta, bukan untuk akad.
"Sayang, aku tidak suka kamu menggunakan gaun seperti ini. Aku gak rela tubuh kamu dinikmati sama laki-laki lain yang melihatnya," ujar Daniel masih dengan nada suara yang lembut.
"Tapi, aku rasa ini masih biasa saja. Dadanya juga tidak terlalu turun." Livia menimpali sambil menatap pantulan dirinya di cermin.
Sebenarnya, dia sangat suka dengan model gaun yang saat ini dipakai. Livia juga merasa nyaman dalam bergerak.
"Tidak-tidak, pokoknya kamu pilih model lain saja, jangan yang seperti ini," kukuh Daniel tetap pada pendiriannya.
Livia terdiam, sungguh susana hatinya langsung turun karena perdebatan ini. Namun, walau begitu dia tetap kembali ke belakang sambil meminta ganti model gaun yang lain.
'Salah dia sendiri yang gak bisa nemenin aku cari gaun pengantin minggu kemarin, sekarang setelah semuanya hampir selesai dia malah protes,' grutu Livia menahan kesal.
Ya, sebenarnya gaun itu sudah dipilih Livia satu minggu lalu, karena Daniel tidak bisa ikut menemaninya.
"Pilih saja gaun yang kamu suka dan nyaman untuk kamu. Aku tidak akan ikut campur." Itulah kata yang diucapakan Daniel pada dirinya saat laki-laki itu meminta izin tidak bisa menemaninya karena ada urusan mendadak.
__ADS_1
Akhirnya Livia memilih pergi bersama dengan Alisya dan memutuskan memilih gaun ini. Dia bahkan sempat mengirim foto gaun itu pada Daniel dan Daniel setuju. Namun, sekarang setelah ukuran gaunnya dirubah sesuai bentuk tubuhnya, laki-laki itu tiba-tiba mengajukan protes.
Livia kini mulai mengganti model gaun yang lebih tertutup lagi, dia ke luar untuk menunjukannya pada Daniel. Siang itu, Livia harus mencoba lebih dari lima gaun pengantin, hanya untuk memuaskan keinginan calon suaminya yang ternyata lumayan sulit.
Sore menjelang malam, keduanya baru saja pergi dari butik milik teman Alisya itu dengan wajah masam Livia.
"Mau makan malam dulu?" tanya Daniel begitu keduanya masuk ke dalam mobil.
"Terserah," jawab Livia tanpa menoleh pada Daniel.
"Mau makan di mana?" tanya Daniel lagi, sebelum dia mulai menjalankan mobilnya.
"Terserah."
Daniel terdiam sebentar, dia tahu kalau Livia sedang marah padanya.
"Mau makan sate atau nasi goreng?" tanya Daniel lagi.
"Terserah."
"Atau, gimana kalau kita makan sushi?"
"Steak? Soto?"
"Terserah."
Daniel menghembuskan napas pelan, sepertinya dia mulai menyerah dengan situasi ini. Akhirnya laki-laki itu membenarkan posisinya dan mulai mengambil tangan Livia lalu menggenggamnya lembut.
"Sayang, maafin aku. Aku tau salah, udah bikin kamu cape karena nyobain gaun pengantin. Maafin aku ya," ujar Daniel dengan nada suara lembut dan sorot mata memohon.
Livia tampak terdiam, dia masih melihat ke luar tanpa mau menatap wajah Daniel. Hembusan napas pelan pun terdengar menandakan jika wanita itu tengah mengatur emosinya.
"Hem," gumam Livia sebagai jawaban.
"Hem?" Daniel tampak tersenyum walau dia masih ingin menggoda calon istrinya itu.
"Iya," ulang Livia sambil merotasi bola matanya.
__ADS_1
"Iya, apa, sayang?" tanya Daniel lagi berpura-pura tidak mengerti dengan maksud ucapan Livia.
"Iya, aku maafin," jawab Livia masih dengan nada ketus.
"Kalau udah maafin, liat aku dong. Emang ada apa sih di sana, betah banget kayaknya liatin ke luar," ujar Daniel sambil memajukan sedikit wajahnya hingga kini pipinya berada sejajar dengan pipi Livia. "Jangan-jangan ada cowok lain lagi."
"Apaan si--mph." Livia yang refleks langsung menoleh tanpa tahu sekarang posisi Daniel tengah berada di sampingnya pun membuat bibirnya menabrak pipi Daniel.
"Daniel! Ngapain sih kamu di situ?" pekik Livia setelah berhasil menjauh dari wajah Daniel.
Daniel tersenyum melihat pipi kemerahan Livia. Dia kemudian kembali pada posisi duduk di kursi pengemudi tanpa ada rasa bersalah sama sekali.
"Aku hanya mau lihat, apa yang kamu liatin dari tadi, takutnya kamu lagi liatin laki-laki lain," jawab Daniel santai.
"Eh, tapi malah dapet bonus dari kamu," sambungnya lagi sambil menunjuk pipinya sendiri.
"Gak bakal cuci muka nih seminggu, biar wanginya enggak ilang." Daniel masih saja menggoda Livia.
Livia tampak mengulum senyumnya melihat tingkah Daniel yang terlihat berlebihan tapi malah menjadi lucu. Dia kemudian berbicara diiringi kekehan kecil karena tak bisa menahan tawa. "Apaan sih, bau dong kalau gak cuci muka seminggu. Kayak anak ABG aja."
Daniel ikut terkekeh sambil terus melihat wajah Livia yang sudah kembali tersenyum. "Nah, gitu dong ... senyum, jangan mendung terus mukanya, nanti kalau turun ujan terus banjir gimana? Kita gak bisa pulang dong."
"Dih, ngawur. Udah ah, ayo kita pergi, aku lapar," ujar Livia yang memang sudah menahan lapar dari tadi, karena tadi siang dia tak sempat makan.
"Oke, kita pergi. Makan di mana nih?" tanya Daniel sambil mulai mengemudian mobilnya.
"Jalan aja dulu, nanti kalau ada tempat makan yang enak kita mampir," jawab Livia sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Siap, Nyonya," jawab Daniel penuh semangat.
Akhirnya malam itu, masalah pun terselesaikan dengan baik, Livia yang tadinya kesal sudah kambali tersenyum karena tingkah konyol Daniel. Sementara Daniel sendiri merasa puas dengan pilihan gaun pengantin untuk pernikahan mereka.
Kini, tidak ada rasa canggung lagi diantara pasangan itu. Daniel yang sudah bisa bertingkah konyol hanya demi melihat senyum Livia dan meredam kemarahan wanita itu. Livia juga mulai bisa bertingkah manja pada Daniel dan memperlihatkan perasaannya pada laki-laki itu.
Semua itu mengalir begitu saja, seiring rasa cinta yang keduanya miliki satu sama lain, juga kepercayaan yang perlahan mulai tumbuh satu sama lain.
Bon
__ADS_1
Bonus, Livia yang sedang mencoba salah satu gaun pengantin🥰