Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.20 Kemarahan Kakek Banu


__ADS_3

Mobil yang ditumpangi oleh Kakek Banu sudah mulai memasuki kawasan kediaman keluarga Hartoyo, hingga akhirnya sopir pribadi yang bertugas untuk menjemputnya di bandara pun menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk utama di rumah itu.


Para pengawal dan anak buah yang setia ikut dengannya pun telihat sigap untuk ke luar dari mobil dan menyiapkan kursi roda untuk laki-laki tua itu. Namun, begitu pintu mobil terbuka, Kakek Banu tidak melirik sama sekali pada kursi rodanya, dia berdiri di samping mobil dengan pandangan yang mengedar, melihat kediaman keluarga Hartoyo yang sudah bertahun-tahun lalu dia tinggalkan, semenjak dirinya memutuskan untuk berobat di luar negeri.


Semuanya masih sama, tidak ada yang berubah walau sudah dia tinggalkan begitu lama. Semuanya masih sangat terawat dan penuh dengan kenangannya bersama sang istri. Sudut bibir kakek Banu tertarik ke atas sedikit saat sekelumit bayangan tentang istrinya terlintas di kepala.


Melihat wajah istrinya dan mengenang kebersamaan mereka, ternyata cukup membuat sedikit kemarahannya mereda, walau tidak sampai melupakan tujuannya untuk datang ke sini. Sedetik kemudian, raut wajahnya kembali berubah marah dan mengeras ketika dia melihat ada seorang pelayan yang membuka pintu tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"Saya sehat, jauhkan benda ini dari saya!" tekan Kakek Banu ketika Karlo --asisten pribadi Kakek Banu-- terlihat mengingatkan Kakek Banu agar kembali duduk di kursi roda.


Laki-laki tua itu tampak mulai membawa kakinya melangkah menuju pintu utama rumah yang sudah terbuka itu. Dia datang ke sini setelah bertahun-tahun pergi untuk berobat di luar negeri. Namun, apa yang terjadi? Dia hanya disambut oleh satu pelayan yang tampak kebingungan? Ke mana perginya menantu dan para cucunya? Kenapa mereka tidak menyambut kedatangannya?


"Kabarkan pada seisi rumah kalau aku datang!" ujarnya pada pelayan itu yang tampak membungkuk hormat.


"B--baik, Tuan," jawabnya takut-takut, kemudian berjalan masuk kembali ke rumah.


Kakek Banu murka ketika melihat dirinya yang datang ke rumah seperti seorang tamu. Padahal dirinya sendiri tidak mengabari menantu dan cucunya tentang kedatangannya ke Indonesia.


Wajahnya semakin mengeras, ketika melihat sang menantu yang datang dengan menggunakan kursi roda. Wanita yang dinikahi oleh anaknya tiga puluh lima tahun lalu itu, terlihat sedikit panik ketika melihat kedatangannya.

__ADS_1


"Apa kabar, Papah. Papah, sehat?" tanya Mami Luci, sambil menghampiri laki-laki tua itu sambil tersenyum lembut. Walau dirinya merasa sangat tegang dengan kedatangan ayah mertuanya itu, tetapi sekuat tenaga Mami Luci menyembunyikan semua itu.


Namun, walau begitu Mami Luci harus menelan kecewa ketika melihat wajah penuh amarah dan tak acuh kakek Banu. Sejak dulu, dia memang bukanlah menantu idaman kakek Banu, semenjak kematian suaminya karena kecelakaan, kakek Banu sudah tidak penah ramah lagi padanya semperti dulu.


Mami Luci dianggap telah membunuh anak pertamanya karena kakek Banu tahu jika malam itu mereka pergi berdua karena keinginan Mami Luci yang mendapatkan kabar kalau ayahnya dilarikan ke rumah sakit. Padahal waktu itu, suaminya baru saja datang dari luar kota, tetapi karena semua itu dia harus memaksakan diri untuk menyetir kembali karena semua sopir pribadinya sudah dia izinkan pulang untuk istirahat.


"Tidak usah basa-basi! Di mana cucuku sekarang?!" tanya kakek Banu dengan suara yang cukup tinggi, dia berjalan melewati Mami Luci begitu saja kemudian masuk ke rumah dengan langkah angkuhnya, diikuti dengan Karlo dan para pengawal lainnya.


"Daniel sedang ada rapat bersama dengan kolega bisnisnya, sebentar lagi dia pasti sampai," jawab Mami Luci yang juga sudah masuk menyusul kakek Banu.


"Kamu pikir saya bodoh? Ini adalah akhir pekan, mana ada jadwal rapat di akhir pekan seperti ini!" sentak kakek Banu yang merasa terhina ketika melihat wajah polos menantunya yang dia rasa sedang berdusta.


"Kamu pasti sedang menyembunyikannya, bukan? Atau dia terlalu pengecut untuk menemui aku setelah menikah, heh?" tanya Kakek Banu dengan wajah meremehkan.


"Tuan harus lebih tenang, jangan terlalu terpancing emosi," bisik Karlo sambil mengulurkan tangannya meminta kakek Banu untuk duduk dulu di sofa.


Laki-laki tua itu menurut, dia duduk di sofa single walau matanya masih menyorot tajam sosok menantunya.


"Kalian memang tidak tahu diri, terutama kamu, Luci! Kamu bahkan tidak mengabari aku kalau cucuku sudah menikah? Bagaiamana mungkin aku bisa terima kalau harus mengetahui semua itu dari sebuah kabar berita, heh?!"

__ADS_1


Nada suara kakek Banu sudah mulai rendah berbalut dengan kekecewaan di dalam hatinya. Sebagai seorang laki-laki yang harusnya memimpin keluarga besar dan dihormati oleh semua anggota keluarga. Tentu saja kakek Banu merasa sangat kecewa dan terhina ketika harus mendengar penikahan cucu pertamanya dari sebuah surat kabar atau berita yang beredar.


Kakek Banu yang merasa harus menjadi salah satu orang pertama yang ikut andil saat mengambil keputusan di dalam keluarga, sebagai satu-satunya tetua di dalam keluarga Hartoyo pun, kini dia merasa sudah sangat dikecewakan oleh menantu dan cucunya sendiri. Kakek Banu merasa sudah dibuang dan tidak dihargai lagi, hanya karena umurnya yang sudah tua dan sering sakit-sakitan.


"Maafkan saya, Papah. Ini semua memang salah saya, saya min--"


"Semua ini memang salah kamu, Luci! Sebagai ibunya, kamu bahkan tidak becus dalam mendidik anak! Seharusnya, sejak awal saya memang tidak pernah meninggalkan kalian!"


Kakek Banu bahkan langsung menyela ucapan Mami Luci, dia yang sudah diliputi oleh kemarahan tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan salah. Kakek Banu terlalu kecewa pada menantu dan cucu yang sudah sangat dia percaya untuk memegang hak waris atas perusahaan dan rumah besar miliknya.


Mami Luci menundukkan kepala dalam, rasa bersalah, takut, kahwatir, dan banyak lagi lainnya kini muai berkecamuk di dalam dada. Mami Luci memang tidak pernah menyangka jika Daniel akan menerima keinginannya untuk menjadikan Livia menantu secepat itu, bahkan Daniel langsung melakukan persiapan pernikahan tanpa dia ketahui sebelumnya.


Tidak ada kata lain yang bisa ke luar dari mulut bergetar dan sedikit pucat Mami Luci selain kata maaf, dia terus bergumam walau mungkin tidak terdengar oleh mertuanya itu. Semenjak ibu mertuanya meninggal, Mami Luci memang tidak bisa lagi membuat kakek Banu bersiakap seperti dulu. Sikap Kakek Banu berubah menjadi lebih keras kepala dari sebelumnya, hingga membuat Mami Luci selalu menjadi bahan pelampiasan ketika ada masalah.


Hingga akhirnya Mami Luci bisa sedikit lega ketika kakek Banu memilih untuk pergi berobat ke luar negeri. Setidaknya hatinya tidak harus selalu lelah ketika menghadapi kemarahan kakek Banu yang selalu menyalahkannya atas semua kesalahan yang terjadi, termasuk kesalahan yang dilakukan oleh Daniel dan Danis. Kesalahan yang sebetulnnya sangat lumrah untuk dilakukan anak muda seperti mereka berdua, tetapi selalu dianggap besar oleh kakek Banu.


"Mami?"


Suara lembut dari seorang wanita yang baru saja datang pun, mengalihkan atensi semua orang yang berada di sana. Mami Luci tampak menatap terkejut Livia yang kini tempak berdiri tidak jauh dari tempatnya saat ini. Sementara, kakek Banu pun terlihat menatap rumit kedatangan seorang wanita muda yang tampak berdiri dengan senyum tipis di wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2