Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.63 Objek percobaan


__ADS_3

Daniel langsung menerobos masuk ke kamar Danis begitu melihat adiknya itu baru saja pulang dari kantor. Danis yang baru saja sampai di kamar pun langsung menoleh begitu dia sadar jika ada yang mengikutinya masuk ke kamar.


"Kak Daniel? Kirain siapa," ujar Danis sambil menghembuskan napas lega kemudian duduk di sisi ranjang miliknya.


"Gimana keadaan Livia? Apa dia sudah sembuh?" tanya Danis lagi santai, tangannya berusaha melonggarkan dasi di lehernya kemudian membuka kancing kemeja paling atas agar bisa bernapas lega.


Daniel mengepalkan kedua tangannya yang masih tegantung di sisi tubuhnya, tatapannya berubah begitu tajam hingga membuat Danis yang melihatnya bergerak waspada.


"Dasar sialan!" geram Daniel sambil berjalan cepat menghampiri Danis dengan langkah lebarnya kemudian mencengkram kerah kemeja adiknya dan membawanya hingga berdiri kembali.


"A--apa? Aku salah apa?" tanya Danis dengan wajah yang mulai pucat. Di keluarga ini, hanya Daniel yang dia takuti ketika marah. Sungguh, kini jantung Danis bahkan langsung berdebar cepat, akibat terlalu panik.


"Dasar playboy cap kodok! Kamu mau membuat rumah tanggaku hancur, heh? Dasar adik kurang ajar!" kesal Daniel yang sudah tidak bisa lagi menahan marahanya karena saran dari adiknya malah membuat hubungannya dan Livia malah semakin berjarak.


"A--apa, Kak?" Danis masih bingung dengan maksud kakaknya, dia mencoba mengingat apa yang baru-baru ini dia sampaikan pada Daniel mengenai hubungan rumah tangga kakaknya itu.


"Ah! Kakak benar-benar melakukan apa yang aku katakan? Hahahaha!" Danis melebarkan matanya kemudian tertawa terbahak ketika mengingat apa yang dia kirimkan dalam pesan siang tadi pada kakaknya.


"Hei! Jadi kamu mengerjaiku, heh?!" Daniel memukul kepala Danis dan menjatuhkannya ke lantai tanpa rasa iba sama sekali, dia bahkan tak perduli ketika melihat Danis yang jatuh tersungkur karena ulahnya sambil mengaduh kesakitan.


"Bu--bukan gitu, Kak. Aku hanya asal saja mengirimkan itu karena mendengar para staf kantor yang sedang membicarakan sebuah adegan yang sama di dalam sebuah novel. Mana aku tahu hasilnya akan berhasil atau tidak," jawab Danis sambil duduk selonjoran di lantai. Tawa bahkan masih terdengar di sela ucapannya.


"Ish! Dasar adik kurang ajar! Jadi kamu menjadikan aku objek percobaan, heh?" kesal Daniel sambil bersiap ingin memukul Danis lagi, tetapi tangannya hanya terhenti di udara saja.

__ADS_1


"Katanya kamu itu pemain wanita, hobinya merayu staf di kantor, tapi ketika aku minta saran hanya berakhir dengan memalukan! Nyesel aku minta saran dari kamu!" umpat Daniel sambil duduk selonjoran di samping Danis. Napasnya masih memburu karena kekesalannya pada Danis.


"Dasar palyboy amatir!" sambung Daniel lagi sambil memukul pundak Danis hingga tubuh laki-laki itu sedikit terlempar ke samping.


"Aku hanya spesialis merayu yang mau dirayu saja, Kak. Aku bahkan tidak pernah berhubungan serius dengan satu orang pun. Kakak tau itu, kan?" Danis tampak mengerucutkan bibirnya, ketika mengakui apa yang selama ini dia perbuat.


Daniel melirik adiknya kemudian memilih merebahkan diri di atas lantai tanpa alas itu, napasnya bahkan belum sepenuhnya kembali normal, tetapi kini pikirannya kembali teralihkan pada Livia yang bahkan belum ke luar dari kamar mandi ketika dia tinggalkan ke sini.


"Terus, sekarang apa yang harus aku lakukan? Sepertinya kali ini kakak iparmu marah padaku gara-gara usul gak guna kamu itu," tanya Daniel tanpa mengalihkan pandangannya pada langit-langit kamar Danis.


Daniel menoleh ke belakang, di mana Daniel tertidur, dia kemudian ikut merebahkan diri di samping kakaknya. "Memang apa yang kakak lakuin sampe Livia marah?"


Daniel menghembuskan napas pelan sambil menutup mata kemudian menaruh tangan kananya di atas kening. Masalah hubungannya dengan Livia terasa lebih memusingkan dari pada menghadapi masalah di kantor.


"Hah?! Kakak langsung melakukannya begitu saja? Tanpa ada pendekatan lebih dulu?" Danis refleks langsung bangun dan duduk kembali dengan pandangan tertuju pada kakaknya.


"Iya," jawab Daniel dengan nada pasrah.


"Astaga ... pantes aja Livia marah," desah Danis merasa prustasi dengan kakaknya sendiri.


"Padahal kakak yang pernah pacaran, tapi kenapa aku merasa sedang biacara dengan orang yang tidak penah berhubungan dengan wanita sama sekali." Kini, giliran Danis yang menggerutu pada kakaknya.


"Kamu tau hubungan kita gimana, kan? Aku tidak pernah melakukan hal yang spesial padanya, hubungan kita mengalir dari awal karena memang dia yang mendekatiku lebih dulu," jawab Daniel, mengingat hubungannya terdahulu.

__ADS_1


"Iya, tapi ujung-ujungnya kakak yang bucin sama nenek lampir itu, sampe patah hati dan trauma pas tahu nenek lampir itu selingkuh," ejek Danis sambil melirik kakaknya kesal.


"Itu dulu, Danis. Gak usah kamu ungkit lagi deh," kesal Daniel sambil melirik adiknya.


"Kenapa? Takut kepikiran lagi sama nenek lampir itu, heh? Bukannya sekarang Kakak udah bucin sama Livia?" sindir Danis.


"Udah lah, berisik! Gak guna aku bicara sama kamu," kesal Daniel sambil mulai beranjak berdiri kemudian berjalan ke luar dari kamar Danis.


"Ck!" Danis hanya menggeleng lemah ketika melihat ekspresi wajah Daniel yang tampak langsung berubah ketika dia membahas lagi tentang Selvi.


"Semoga saja perasaan kakak pada Livia memang benar-benar nyata, bukan hanya karena rasa bersalah atas apa yang dilakukan sama Papah pada keluarga Livia. Aku mungkin tidak akan menahan diriku lagi kalau sampai kakak masih mengingat wanita murahan itu," ujar Danis dengan tatapan yang berubah serius, saat pintu kamar sudah tertutup rapat.


... ❤️‍🔥...


Sementara itu, Livia yang memutuskan untuk mandi agar tubuhnya terasa lebih segar pun, baru saja ke luar dari walk in closet. Dia mengedarkan pandangannya melihat seisi kamar yang sudah kosong. Tidak ada lagi Daniel yang sejak tadi terus memanggilnya dari pintu kamar mandi.


"Kayaknya, dia udah ke luar," gumam Livia sambil berjalan menuju ranjang kemudian merapihkannya.


Benar saja, mandi memang membuat tubuhnya lebih segar, Livia merasa pening di kepala sudah jauh berkurang. Namun, pergerakannya terhenti ketika matanya melihat mangkok bubur yang ada di atas nakas, bayangan kejadian beberapa saat lalu kembali melintas di kapala hingga membuat jantungnya yang baru saja terasa tenang kini kembali berdebar lebih cepat.


"Heuh!" Livia menghembuskan napas kasar sambil memegang dadanya yang terasa tidak nyaman. Dia berusaha tak mengacuhan mangkuk bubur itu, kemudian meneruskan kegiatannya membereskan tempat tidur.


Dalam hati dia terus begumam untuk meyakinkan diri agar tidak tergoda oleh Daniel, dia terus mengingat apa tujuannya datang ke dalam keluarga ini.

__ADS_1


"Sepertinya ini semua tidak bisa ditunda lagi, aku harus segera melakukan rencana selanjutnya," gumam Livia.


__ADS_2