Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.19 Tamu tak diundang


__ADS_3

Livia baru saja selesai menyajikan sarapan untuk semua orang di meja makan, ketika tiba-tiba saja terdengar suara mobil yang berhenti tepat di depan rumah. Wanita itu tampak mengernyit bingung, mengingat sepertinya hari ini dia tidak diberi tahu jika akan kedatangan tamu.


"Siapa yang datang, Mbak?" tanya Livia pada seorang pelayan yang baru saja berjalan masuk.


"Gak tau, kayaknya tamunya nyonya, atau mungkin Tuan Daniel," jawab pelayan itu tak acuh, kemudian melanjutkan langkahnya ke belakang rumah.


Livia tak menanggapi, dia sudah terbiasa diperlakukan seperti itu. Setelah melihat semuanya sudah tertata rapih, Livia memilih untuk membawa kakinya melangkah menuju ke pintu utama. Pagi-pagi begini, semua pekerja di rumah memang sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, hingga sepertinya tidak ada yang menyadari kehadiran beberapa mobil di luar sana.


"Bi, tolong buka pintu ya, aku mau panggil Mami Luci dulu," ujar Livia memilih menghentikan langkahnya di tengah jalan kemudian meminta tolong pada Bik Piah --pelayan senior yang sudah mengabdi lebih dari sepuluh tahun di rumah itu.


"Baik, Nona," angguk Bik Piah yang masih memegang kain lap di tangannya.


"Terima kasih, Bik." Livia langsung memutar langkahnya menuju ke kamar sang ibu mertua setelah mengatakan itu.


"Mami, ini Livia." Livia mengetuk pelan pintu kamar milik mertuanya sebelum kemudian membuka pintu dengan sangat hati-hati, setelah mendengar izin dari dalam.


Livia tersenyum ketika melihat wanita paruh baya itu tengah duduk di kursi roda sambil tersenyum lembut padanya.


"Sarapan sudah siap, Mami. Tapi, sepertinya ada tamu yang datang," ujar Livia sambil berjalan masuk ke dalam kamar.


"Tamu?" Mami Luci tampak mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapan Livia. Pasalnya, selama ini jarang sekali ada tamu yang datang ke rumah, mengingat Daniel memang membatasi orang yang bisa datang ke rumah ini.


"Iya," angguk Livia.


"Daniel gak bilang akan ada tamu yang datang," gumam Mami Luci yang masih bisa didengar oleh Livia.


"Daniel sama Danis ke mana?" tanya Mami Luci beralih menatap Livia.


"Mas Daniel sama Danis sepertinya tadi pergi untuk berolahraga. Katanya ada jadwal rapat sambil olahraga bersama," jawab Livia.


Mami Luci tampak terdiam cukup lama sebelum kemudian kembali menatap Livia dan berucap dengan nada menenangkan. "Ya sudah, kita temui saja dulu tamunya, siapa tahu penting."


Livia mengangguk sambil beranjak ke belakang Mami Luci untuk mendorong pelan kursi rodanya. Keduanya pun ke luar dari kamar bersama-sama. Namun, keduanya kini tampak terkejut ketika mendapati Bik Piah terlihat lari tergopoh-gopoh menghampiri mereka dengan wajah panik hingga terlihat pucat.


"Nyonya, i--itu ada--" Bik Piah tampak berusaha berbicara walau selalu terhalang oleh napasnya yang tersengal.

__ADS_1


"Pelan-pelan saja, tarik napas dulu," ujar Mami Luci masih tampak tenang, walau ada sedikit kekhawatiran dari sorot matanya. Bik Piah yang mendengar itu pun langsung melakukan apa yang dikatakan oleh Mami Luci, hingga setelah dirasa lebih tenang, Bik Piah kembali berbicara.


"Itu, Nyonya, di luar ada Tuan besar," ujar Bik Piah dengan suara bergetar.


Deg!


Tubuh Mami Luci menegang dengan mata melotot, terkejut pada perkataan Bik Piah. Tanpa terasa tubuhnya sedikit bergetar dengan raut yang terlihat semakin panik. Semua itu dapat terlihat jelas oleh Livia yang sejak tadi hanya diam sambil memperhatikan.


Ternyata dia datang lebih cepat dari yang aku perkirakan, batin Livia sudah menebak kedatangan orang yang menjadi pokok utama di dalam keluarga Hartoyo.


"Livia, tolong hubungi Daniel dan Danis, suruh mereka segera pulang. Biar Mami ke luar dengan Bik Piah dulu," ujar Mami Luci kini beralih pada Livia.


Mendengar itu, Livia pun menegakkan kembali tubuhnya kemudian membawa kakinya dua langkah mundur ke belakang.


"Baik, Mami," angguk Livia kemudian.


Setelah melihat Mami Luci semakin menjauh darinya, Livia pun mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Daniel dan Danis. Namun, sudah panggilan ke tiga dirinya pada dua kakak beradik itu, teleponnya tidak juga mendapatkan jawaban.


Tidak pantang menyerah Livia beralih pada telepon rumah, dia mengira jika Daniel dan Danis memang sengaja tidak menerima tetepon karena tahu itu adalah nomor teleponnya.


Banu Hartoyo, laki-laki tua yang keras kepala dan penuh ambisi, batin Livia sambil menatap tajam ke arah suara itu terdengar.


.


Daniel dan Danis sedang mengendarai sepeda bersama beberapa orang pengusaha dan anggota petinggi pemerintah yang sering melakukan kerja sama dengannya. Mereka semua memanfaatkan akhir pekan untuk olahraga santai bersama sambil membicarakan salah satu rencana proyek besar yang akan segera dilakukan,


"Sudah mulai terik, bagaimana kalau kita sudahi saja. Kami yang sudah tua ini sudah tidak kuat ternyata kalau harus bersepeda dalam waktu yang lama," ujar salah satu anggota petinggi pemerintah yang mungkin sudah berumur lima puluh tahunan.


"Iya, kita yang tua ini sudah tidak sekuat para anak muda seperti Tuan Daniel dan Tuan Danis. Lihatlah, mereka bahkan terlihat masih segar." Salah satu pengusaha di bidang perbankan itu ikut menimpali.


Danel terkekeh ringan sambil menimpali perkataan yang entah itu merupakan pujian atau sebuah keluhan dengan sedikit candaan. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk berhenti berolah raga dan berjalan ke sebuah kedai soto jaman dulu yang sudah mereka targetkan sejak awal.


Semuanya ikut terhanyut dengan obrolan mereka, bahkan Daniel, Danis, dan beberapa pemuda lainnya yang ikutt pun tampak harus memaklumi dan mengerti tentang pembahasan orang tua di dekatanya. Sambil menikmati sarapan pagi dengan satu mangkok soto betawi yang sangat berlemak itu, Daniel dan Danis harus terus menebar senyum, demi mendapatkan proyek besar yang pastinya akan diperebuatkan banyak orang.


Jam delapan pagi, Daniel dan Danis baru berpamitan untuk pulang, dia cukup terkejut ketika mendapati pesan dari Livia dan banyaknya panggilan tak terjawab.

__ADS_1


Livia: [Daniel, Mami menyuruhmu cepat pulang, ada tamu yang menunggu]


Livia: [Daniel, sudah sampai di mana, tolong jawab teleponku?]


Livia: [Daniel tamunya kakekmu, sepertinya dia sedang marah]


Livia: [Daniel cepat pulang, aku khawatir sama Mami]


Deg!


Empat pesan berderet dari Livia yang baru saja terbuka, membuat jantung Daniel langsung berpacu cepat, dia lupa jika pagi ini kakeknya mendarat di Indonesia.


"Sial! Karena dia, aku jadi lupa dengan kedatangan Kakek," geram Daniel sambil mengepalkan tangan erat.


Ya, karena terus memikirkan sikap Livia tadi malam, Daniel jadi lupa dengan kedatangan Banu pagi ini. Ditambah dengan ajakan bersepeda bersama dengan para kolega bisnisnya di kawasan kota tua. Sungguh, fokusnya pada sang kakek jadi terlupakan dalam sekejap.


"Percepat, kita harus segera sampai di rumah!" ujar Daniel dengan wajah yang berubah tegang dan sorot mata tajam.


Danis yang mendengar itu langsung menoleh pada Daniel, walau itu hanya sekejap karena memang dirinya yang menyetir. "Ada apa?" tanyanya kemudian.


"Kakek datang," jawab Daniel datar.


"Apa?!" tanpa terasa, Danis bahkan langsung mengerem laju mobilnya hingga kini berhenti secara mendadak di tengah jalan, belum lagi suara teriakannya yang sangat kencang hingga terasa memekakkan telinga.


Daniel menutup mata dengan salah satu tangan menahan tubuhnya yang hampir saja membentur dashboard mobil, karena sikap ceroboh adiknya itu. Untung saja tidak ada kecelakaan, walau banyak klakson mobil dan umpatan protes dari pengguna jalan lainnya di luar sana juga terdengar jelas.


"Cepat jalan! Siapa suruh kamu berhenti?" geram Daniel.


"Sorry, aku terlalu terkejut." Danis yang baru saja sadar dengan apa yang dia lakukan pun akhirnya kembali melajukan mobilnya sambil menyengir kuda, merasa bersalah pada kakaknya dan para pengendara lainnya.


Daniel hanya menghembuskan napas kasar, saat ini yang ada di pikirannya hanya Mami Luci. Dia tahu, jika kakeknya akan langsung menyalahkan Mami Luci atas penikahannya dengan Livia. Apalagi, dia sama sekali tidak pernah berhasil menemukan asal usul Livia, selain sebagai mantan tenaga keja imigran di luar negeri.


Entah apa yang harus dia lakukan jika saja kakeknya yang lebih mengetahui tentang masa lalu Livia. Mungkin saja, pernikahan yang dia gunakan hanya sebagai pembantahan agar rumor buruk tentang dirinya yang menyukai sesama jenis segera berakhir pun mungkin akan terbongkar.


Semoga saja wanita itu tidak bertindak bodoh di depan kakek, batin Daniel.

__ADS_1


__ADS_2