Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.80 Pelatihan?


__ADS_3

"Kamu yakin bisa membahagiakan anak dan cucuku?" tanya Andrew dengan tatapan tajam menyorot wajah Daniel yang kini duduk di depannya. Sementara Livia sudah mereka suruh masuk dan menemani Ares tidur.


"Tentu, Tuan," jawab Daniel dengan suara yang dia paksa untuk terdengar tenang, walau kenyataannya dia sudah mati-matian menahan gugup.


Entah mengapa, dia merasa seluruh suasana ruangan langsung berubah begitu kedua orang itu datang. Hawa dingin dan mencekam terus menekan kepercayaan dirinya, walau kedua orang itu tampak tak melakukan apa pun.


Sorot mata penuh intimidasi ditambah raut wajah datar dan suara yang dalam, sanggup membuat seorang Daniel gugup. Namun, laki-laki itu tampak tak menyerah, dia terus berusaha mengendalikan diri agar terlihat tenang di hadapan dua orang penting di hidup Livia.


"Kamu yakin bisa menjaga adik dan keponakanku dengan baik?" Kini giliran Agra yang bertanya.


Daniel tampak mengangkat kepalanya dan menatap wajah Agra, walau itu tak bertahan lama. Dia memilih kembali mengalihkan pandangannya demi menghindar dari laki-laki itu.


"Saya yakin, Tuan," jawab Daniel lagi.


"Tapi, kenapa kami tidak bisa yakin kepadamu?"


Daniel terdiam ketika mendengar perkataan Agra yang langsung menusuk ke dalam hatinya. Ternyata rumor di luar yang mengatakan jika mulut Agra bagaikan bilah pedang yang sangat tajam, itu benar adanya. Dia bahkan langsung merasakannya dalam kalimat kedua yang diucapkan kakak angkat Livia.


"Ilmu bela dirimu saja sepertinya jauh dibawah Livia, mana mungkin aku bisa mempercayaimu dan membiarkan adik dan keponakanku dijaga oleh kamu. Yang ada nanti malah dia yang menjagamu!" sambung Agra lagi dengan wajah yang tampak acuh, tetapi masih terlihat dingin.


"Benar kata anakku. Kami tidak bisa mempercayakan Livia padamu, jika kamu tidak memenuhi standar kami," angguk Andrew menyetujui ucapan Agra.


Daniel tampak memberanikan diri menatap Andrew dan Agra bergantian sebelum mulai berujar sopan, untuk membantah ucapan Andrew dan Agra tanpa menyinggung kedua orang berkuasa itu.

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Saya mungkin memang tidak bisa melampaui Livia jika tentang bela diri, tetapi saya akan berusaha sebaik mungkin untuk bisa menjaga Livia dan Ares sekuat tenaga saya. Saya juga berjanji akan selalu menjaga rasa cinta saya kepada Livia sampai akhir hidup saya," jawab Daniel dengan nada suara tenang.


"Aku menghargai semua tekad kamu. Tapi, kamu juga harus ingat, sebuah perkataan hanya akan menjadi omong kosong belaka jika tidak diikuti dengan usaha," debat Agra.


Daniel mengangguk, menyetujui ucapan Agra. "Kalau begitu, apa yang harus saya lakukan agar Tuan bisa melihat usaha saya?" tanya Daniel.


Agra tersenyum miring saat mendengar ucapan yang sebenarnya sejak tadi dia nantikan.


"Berlatihlah dengan kami dan buktikan jika kamu bisa menjaga Livia dan Ares dengan baik. Kamu bisa datang setiap akhir pekan. Kami akan merestui hubungan kalian jika kamu sudah mencapai kemampuan yang kita inginkan," ujar Agra datar.


"Baik. Saya bersedia menjalani pelatihan itu," angguk Daniek tanpa ragu. Kini dia mengerti jika ternyata tujuan dari pembahasan mereka adalah untuk melatihnya. Dia sama sekali tidak keberatan, asalkan itu bisa membuatnya bersatu kembali dengan Livia.


"Datanglah besok lusa. Nanti aku suruh Livia mengirimkan alamatnya padamu." Andrew tampak mengambil alih pembicaraan. Sejak tadi dia sengaja memilih diam dan membiarkan Agra untuk berbicara, sementara dirinya memperhatikan setiap gerak-gerak Daniel.


Dia menghembuskan napas lelah sambil merebahkan dirinya di atas ranjang. Sepertinya kali ini perjuangannya untuk mendapatkan Livia dan Ares akan cukup sulit. Andrew dan Agra bukanlah laki-laki sembarangan yang mudah untuk dia lawan. Mereka berdua adalah pebisnis hebat dengan banyak perusahaan di dalam maupun luar negeri. Dia bahkan tidak berani untuk menyinggung mereka, apa lagi melawannya.


"Demi mendapatkan Livia, bahkan dua orang berkuasa seperti mereka saja berani aku hadapi," gumam Daniel sambil mengumpulkan tekad dalam hatinya.


...❤️‍🔥...


"Livia, kirimkan alamat pelatihan anggota baru pada Daniel, suruh dia datang jam enam pagi," ujar Andrew begitu mereka sampai di rumah setelah merayakan ulang tahun anak kedua Agra.


"Pelatihan anggota baru? Ngapain kalian suruh dia ke sana?" tanya Livia yang belum tahu isi pembicaraan Daniel, Andrew, dan Agra, malam tadi.

__ADS_1


"Kami sepakat akan melatih dia ilmu bela diri, agar dia bisa menjaga kamu dan Ares dengan baik," jawab Andrew santai, sambil duduk di sofa.


"M--melatih? Daddy dan Kak Agra?" tanya Livia dengan nada suara terdengar gugup.


Bukan tanpa alasan Livia terlihat gugup seperti itu. Dia tahu betul bagaimana cara Andrew dan Agra melatih para anggota baru. Bahkan dirinya sendiri pun pernah mengalami bagaimana rasanya dilatih oleh kedua orang itu. Memikirkannya saja sudah mampu membuat bulu kuduk Livia merinding, karena kekerasan mereka, apa lagi membayangkan Daniel melakukan semua itu.


"Kenapa harus memilih jalan itu sih, Dadd, Kak? Memang kami berdua akan baku hantam setelah menikah? Kan, tidak," desah Livia sambil duduk lemas di sofa yang lainnya.


"Kami mengajarkannya bela diri bukan untuk memukulmu, Livia. Tapi, agar dia bisa berjaga dan membantu kamu kalau sesuatu terjadi. Bahaya itu tidak pernah memberitahu dulu sebelum datang, Livia," debat Agra yang baru saja datang sambil menggendong Syakira.


"Ya, terserah kalian saja lah. Tapi, jangan sampai berbuat berlebihan. Ingat, dia sudah tidak muda, bahkan umurnya saja lebih tua dari Kak Agra." Livia memilih pasrah, dari pada harus nerdebat dengan dua laki-laki yang sama keras kepalanya itu.


"Nah, gitu dong. Itu baru adik kakak yang paling cantik," puji Agra begitu dia kembali setelah menurunkan anak perempuannya di area bermain dalam rumah.


Livia tak menjawab, dia memilih berpamitan dan pergi ke kamar untuk membersihkan diri. Setelah semua kegiatannya selesai, sebelum tidur dia pun mengirimkan pesan pada Daniel, sesuai perintah Andrew. Dia juga berpesan agar Daniel menyerah saja jika sudah tidak kuat dengan pelatihan yang dilakukan oleh Andrew dan Agra, biar nanti dirinya yang berbicara pada kedua laki-laki itu.


Daniel yang mendapat pesan dari Livia tentu saja merasa bahagia, apa lagi dia bisa merasakan perhatian wanita itu padanya.


"Aku tau, kita masih memiliki perasaan yang sama, Livia. Aku janji akan meyakinkan ayah dan kakak angkat kamu hingga mereka memberikan restu untuk kita berdua," janji Daniel sambil menatap foto Livia dalam layar ponselnya.


Laki-laki laki itu memutuskan untuk segera tidur, agar besok pagi dia tidak bangun terlambat dan mengecewakan dua pria yang akan menentukan nasib hubungannya dan Livia ke depannya.


"Semoga saja semuanya akan berjalan lancar dan aku bisa mengambil hati Tuan Andrew dan Agra secepatnya."

__ADS_1


__ADS_2