Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.54


__ADS_3

"Sebenarnya, nona Oliv belum meninggal. Dan kemungkinan--"


"Mungkin Oliv itu Livia? Benar, kan?!" tanya Daniel dengan wajah sumringah. Ada sebuah harapan besar dalam hatinya, jika perkiraannya memang benar.


Karlo menghembuskan napas pelan. Melihat reaksi Daniel yang menggebu-gebu ketika mengatakan itu, membuat Karlo merasa bersalah pada cucu dari majikannya itu.


"Itu belum pasti, Tuan. Saya dan tuan besar sednag menyelidikinya, tapi kemudian saya mneghentikannya setelah tuan besar masuk ke rumah sakit," jawab Karlo dengan nada seidkit tertahan.


"Benarkah? Kakek bukan orang yang gampang menyerah atau teralihkan oleh rasa penasarannya, Karlo. Aku tau betul itu. Kakek tidak akan melepaskan apa yang sudah dia mulai, walau dia dalma keadaan sekarat sekali pun," ujar Daniel, sedikit memberikan tekanan pada Karlo.


'Iya. Tuan besar memnag seperti itu, dan aku tau sifatnya kini menurun padamu, walau kamu tak sekejam dia, batin Karlo.


Malam itu Daniel terus menekan Karlo dan memaksanya untuk mengatakan yang susungguhnya. Gadis kecil yang selama ini dia anggap sudah tiada ternyata masih hidup. Tentu saja Daniel sangat senang, apa lagi mungkin saja gadis itu adalah wanita yang sekarang sudah menjadi istri sahnya.


❤️‍🔥


Sekitar satu setengah jam menjeang subuh, Daniel baru saja ke luar dari kamar kakek Banu bersama dengan Karlo di belakngnya. Keduanya berpisah begitu saja dengan wajah lelah Karlo yang snagat kentara. Dua laki-laki berbeda usia itu pun berpisah begitu saja. Karlo yang kembali ke kamarnya di bagian belakang rumah, sementara Daniel mulai menaiki anak tangga ke lantai dua.


Daniel menghentikan langkahnya tepat di depan pintu masuk kamarnya. Entah mengapa, dia meras asangat gugup, hingga jai jemarinya terasa dingin dan sedikit lembap akibat keringat. Debar jantung yang terasa begitu bertalu hingga penuh sesak di dalam dada, ikut serta menambah rasa tak karuan yang kini Daniel rasakan.

__ADS_1


Tidak pernah dalma hidupnya Daniel merasakan gugup yang seperti ini, bahkan ketika dia memutuskan untuk menyatakan perasaannya pada wanita yang dia sukai. Berulang kali Daniel mendongak sambil menarik napas dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan.


Perlahan, Daniel memutar gagakng pintu kamarnya dengan tangan yang sedikit bergetar. Begitu pintu kamar itu terbuka, dia langsung disambut oleh kamarnya yang sudah gelap, seperti malam-malam sebelumnya. Lampu tidur dan lampu utama sudah mati, hanya tersisa sinar temaram dari lampu balkon yang dibiarkan menyala sepanjang malam.


Daniel mulai membawa kakinya melangkah masuk dengan sangat hati-hati, takut membangunkan wanita yang tengah tertidur di sofa kamarnya yang terlihat sangat sempit. Sofa yang sudah berbulan-bulan ini berubah menjadi tempat tidur untuk wanita yang sudah sah menjadi istrinya.


Mengingat itu, Daniel meringis, merasa bersaah pada wanita yang kini sedang menutup matanya dengan selimut berwarna abu-abu tua yang menutupi tubuhnya.


'Tega sekali aku ini. Kenapa menyuruhmu tidur di sofa begini, padahal kamu adalah seorang wanita? batin Daniel mengutuk dirinya sendiri.


Daniel berjongkok tepat di bagian kepala Livia, matanya fokus pada wajha tenang yang selalu dia sukai dari wanita yang sudah beberapa bulan ini menjadi istrinya. Ada rasa senang yang begitu membuncah di dalam dada, walau tak bisa dipungkiri jika dia juga merasakan perih dan sakit tak terhingga, karena rasa bersalahnya pada wanita di depannya itu.


"Berhati-hatilah dengan wanita itu, Tuan. Saya takut dia datang ke rumah ini dengan maksud tertentu. Jangan sampai Tuan lengah dan memberikan celah untuknya memebalas dendam pada Anda."


'Kenapa aku harus takut jika kamu membalas dendam padaku, Oliv? Aku tidak akan perduli, apa maksudmu datang ke rumah ini dan kini masuk ek dalma hidupku, batin Daniel.


Perlahan tangan Daniel terangkat ketika dia melihat kening wanita itu mulai mengkerut dan tubuh yang nampak gelisah. "Dia masih suka bermimpi buruk? gumamnya mengingat beberapa bulan lalu, ketika dia mendapati Livia tidur gelisah saat mengobati luka di kakinya.


"Ssshh, jangan khawatir, ada aku di sini. Aku berjanji akan menjagamu, Oliv," gumam Daniel mencoba menengakan tidur Livia sambil mengusap rambut wanita itu.

__ADS_1


'Aku rela menyerahkan nyawaku padamu, Oliv, jika itu bisa menebus semua kesalahan yang sudah diperbuat oleh papah, lanjut Daniel lagi dalam hatinya.


"Maafkan aku karena tidak bisa mengenali kamu, gadis kecil. Maaf, karena aku datang terlambat. Dan, maaf, karena keluargaku adalah sumber penderitaan kamu." Daniel kembali bergumam dengan kening berkerut dalam.


Sungguh sangat menyakitkan, ketika dia mengingat semua yang dilakukan oleh ayahnya sendiri pada gadis kecil dan sahabat yang sangat dia sayangi. Dia bahkan sudah menganggap Angga sebagia kakaknya sendiri, karena laki-laki yang lebih tua bebrapa tahun darinya itu adalah tempatnya berkeluh kesah.


❤️‍🔥


Livia membuka mata ketika waktu menunjukkan pukul lima pagi. Wajanghnya tampak lebih segar dari biasanya. Wanita itu bahkan terlihat tersenyum di tengah kesadaran yang belum pulih sebelumnya.


'Tidurku benar-benar nyaman malam ini. Sepertinya, hutang tidurku selama smeinggu sudah terbayar, makanya tubuhku terasa segar, batin Livia sambil menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan.


Setelah sekian lama, entah kenapa tadi malam dia bisa bermimpi indah. Pertemuan dengan orang tua dan kakaknya tak berujung menjaid malapetaka sepeti sebelumnya. Mereka hanya bermain dan saling mencurahkan kasih sayang. Mungkin, itu juga yang membuat suasana hatinya terasa sangat baik pagi ini.


Namun, kening Livia tampak mengkerut ketika menyadari jika kini Daniel tampak tertidur di sofa single tidak jauh darinya. Laki-laki itu bakan tidur dalam keadaan duduk.


'Dia sudah ada di sini? Kenapa ku tak mendengarnya? batin Livia penuh tanya. Wanita itu tampak bingung, mengingat selama ini dia sellau sadar jika ada yang masuk ke dalam kamar. Walau wanita itu tak membuka mata, setidaknya dia sadar akan keberadaan Daniel di dekatnya. Namun, malam ini berbeda. Dia tidak bisa mendengar kedatangan laki-laki itu.


Livia beranjak duduk dengan tatapan tak pernah teralih dari wajah Daniel yang masih saja menutup matanya.

__ADS_1


"Apa dia mabuk? Kenapa dia tidur di sini?" gumam Livia, merasa aneh melihat Daniel yang tidur di sofa.


Namun, sesaat kemudian wanita itu hanya mengangkat bahu acuh sambil mulai membereskan bekas tidurnya dan membawanya ke dalam walk in closet untuk di simpan dengan baik. Lvia memilih untuk langusng menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum pergi ke bawah dan menyiapkan sarapan untuk suami dan mertuanya.


__ADS_2