Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.45 Curiga


__ADS_3

Daniel terdiam dengan mata menatap punggung Livia yang semakin menjauh darinya, dia kemudian menghembuskan napas pelan ketika sudah tak dapat melihat lagi Livia yang sudah kembali masuk ke kamar mandi.


Tatapannya kini beralih pada handuk dan baju yang sudah Livia siapkan untuknya. Selalu seperti itu. Livia menyiapkan dan menata semua keperluannya dengan sangat baik. Perlahan Daniel mulai bangun dan melepaskan pakaiannya yang sudah basah kuyup karena diguyur air shower oleh Livia, dia kemudian mengambil jubah mandi tanpa mengganti pakaian. Tubuhnya yang awalnya mengigil kedinginan kini perlahan menghilang ketika ingatannya tentang semua yang Livia ucapkan ketika dia mabuk mulai kembali.


Apa dia memilik dendam padaku? Tapi, bagiamana bisa? Kita bahkan baru bertemu setelah Mami membawanya ke rumah ini, batin Daniel penuh tanya.


"Enggak mungkin. Selama ini dia selalu membantuku dan menjaga mami dengan baik. Tidak mungkin dia ada dendam padaku," gumam Daniel kemudian mulai melangkahkan kakinya menuju ke pintu kamar mandi.


Baru saja Daniel ingin mengetuk pitu, tiba-tiba pintu sudah terbuka dengan Livia yang sudah mandi dan ganti baju, hingga kini wangi sabun dan sampo Livia menguar ke luar bersama dengan pintu yang terbuka semakin lebar. Tubuh Daniel membeku dengan mata yang tak lepas dari wanita yang kini berdiri tepat di depanya.


"Kamu belum ganti baju?" tanya Livia datar, ketika melihat Daniel malah berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Hah! A--aku ... aku mau mandi dulu," jawab Daniel dengan nada suara terbata, karena terkejut akan pertanyaan Livia.


"Oh." Livia membuka pintu kamar mandi semakin lebar kemudian segera menggesar tubuhnya agar Daniel bisa masuk ke kamar mandi.


"Masuklah," sambung Livia, ketika melihat Daniel yang masih berdiri di depan kamar mandi dengan mata melihatnya.


"Ah, iya-iya. Makasih," jawab Daniel sambil menggaruk belakang kepalanya, merasa canggung sendiri pada sikapnya yang tidak biasa.


...❤️‍🔥...


"Kakek dirawat di rumah sakit, kesehatannya mengalami penurunan, dia sempat pingsan setelah kami membawanya ke kamar tadi," ujar Livia setelah kini keduanya duduk di sofa dengan Daniel yang sudah semakin sadar dari pengaruh alkohol.


"Kakek pingsan? Tapi, dia tidak apa-apa kan?" tanya Daniel panik sambil mulai bangkit dan berjalan manuju tempat penyimpanan kunci mobil.


"Mau ke mana?" Livia yang melihat sikap Daniel kini memilih untuk ikut bangun dan mencekal tangan Daniel yang hendak ke luar dari kamar.


"Aku harus melihat kakek ke rumah sakit, ini semua pasti gara-gara aku," ujar Daniel dengan wajah yang masih terlihat sangat panik.


"Kamu mau memperlihatkan mata merahmu dan bau alkohol di mulutmu pada kakek dan semua orang yang ada di rumah sakit, heh? Jangan bertindak bodoh!" cegah Livia tanpa melepaskan cekalannya di tangan Daniel.

__ADS_1


Daiel terdiam, dia baru sadar jika saat ini bahkan kepalanya masih pening akibat efek alkohol yang masuk ke dalam tubuhnya.


"Kakek sudah lebih baik setelah mendapat pertolongan dari dokter. Sebaiknya kamu temui kakek besok saja, setidaknya setelah pengaruh alkoholmu sudah hilang," sambung Livia dengan nada sinis. Dia kemudian melepaskan tangan Daniel kasar dan kembali duduk di sofa.


Daniel yang sudah berdiri di depan pintu ke luar kamar pun kini mengikuti Livia dan duduk di samping wanita itu. Perkataan Livia ketika dia mabuk terus terngiang di kepalanya hingga membuat dia ingin berada lebih dekat dengan wanita itu.


Livia menggeser tubuhnya agar menjauh dari Daniel, keningnya berkerut cukup dalam ketika melihat sikap Daniel yang tidak bisa, walau dia juga tahu jika pengaruh alkohol dalam tubuh laki-laki itu belum menghilang sepenuhnya.


"Eh?" Tubuh Livia semakin menegang ketika Daniel tiba-tiba merebahkan kepalanya di pangkuannya hingga membuat Livia refleks mengangkat kedua tangan dengan napas yang terhenti sejenak.


"A--apa yang kamu lakukan?" tanya Livia dengan mata melebar.


Sial! umpat Livia dalam hati saat dia menyadari jika kini jantungnya kembali berdebar kencang hingga suara yang ke luar pun terdengar sedikit gagap.


"Aku lelah, aku mau istirahat di sini," ujar Daniel sambil mulai menutup matanya.


"T--tapi, e--enggak di sini juga ... Daniel? Hei, bangun, tidur di ranjangmu sana, jangan di sini," ujar Livia yang mulai panik, pasalnya kini laki-laki itu sudah benar-benar tertidur dengan dengkuran halus yang terdengar.


...❤️‍🔥...


Pagi harinya Livia memutuskan untuk mengantarkan Daniel ke rumah sakit, dia tidak bisa membiarkan Daniel untuk menyetir sendiri karena semalam baru saja minum alkohol. Keduanya tampak berjalan menyusuri setiap koridor rumah sakit menuju ruangan tempat kakek Banu dirawat.


Begitu mereka sampai di depan ruangan kakek Banu, langkah Daniel langsung dihentikan oleh Karlo yang tampak terus berjaga di luar ruangan, sementara di dalam sana ada Danis dan Mami Luci yang menunggu kakek Banu.


"Gimana keadaan Kakek?" tanya Daniel dengan wajah khawatirnya.


"Kesehatan kakek Banu sebenarnya sudah mulai menurun semjak dia memutuskan kembali ke Indonesia, apa lagi setelah dia berada di sini, dia melihat sendiri bagaimana banyak masalah yang terjadi, hingga membuatnya mengalami banyak pikiran dan stres berlebih. Sekarang, Tuan besar terpaksa harus dirawat di rumah sakit, agar dokter lebih leluasa untuk memantau kesehatannya," jelas Karlo sesuai apa yang dikatakan oleh dokter yang selama ini merawat kakek Banu.


"Aku mau masuk," ujar Daniel yang kini mulai merasa menyesal atas semua yang dia lakukan pada kakeknya.


"Silahkan, tuan muda," angguk Karlo. Namun, setelah mengatakan itu, dia menatap Livia dan memberikan isyarat pada wanita itu dirinya ingin berbicara pada Livia.

__ADS_1


"Sepertinya ada yang tertinggal di mobil, kamu ke dalam duluan saja," ujar Livia memberi alasan pada Daniel.


Setelah melihat Daniel masuk ke ruangan perawatan kakek Banu, Livia pun mengikuti Karlo menuju ke tangga darurat, di mana jarang sekali orang menggunakan itu, hingga di sana terasa hening dan cocok unttuk mereka berbicara.


"Ada apa?" tanya Livia begitu mereka sudah berada di tengah-tengah tangga darurat.


"Siapa kamu sebenarnya? Aku yakin kamu bukanlah orang biasa?" tanya Karlo langsung pada intinya.


Livia tersenyum tipis sambil mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, dia yakin jika Karlo selama ini memang mencurigainya mengingat informasi tentangnya yang sangat sedikit.


"Aku?" tanya Livia dengan wajah yang datar.


"Aku adalah Livia, istri dari Daniel Arslan Hartoyo. Siapa lagi?" sambung Livia dengan wajah santainya.


Karlo mengepalkan kedua tangannya yang menjuntai di sisi tubuhnya, wajahnya mengeras dengan mata yang muali emnatap nyalangg LIvia.


"Jangan main-main dengaku, Livia! Aku tau, kamu jelas tahu apa yang aku maksud bukanlah itu," geram Karlo memperingatkan Livia.


"Apa? Kamu menanyakan siapa aku? Sudah aku jawab. Lalu, apa lagi maumu sekarang?" Bukannya takut, kini Livia malah tampak menyeringai tak acuh.


"Jika begini ... baiklah, kamu yang membuatku melakukan semua ini," ujar Karlo sambil memiting LIvia dengan gerakan cepat dan memojokannya ke dinding hingga tubuh LIvia kini terhimpit.


"Apa yang kamu lakukan, Karlo?"


"Kamu yang memaksaku berbuat begini, Livia. Jika kamu ingin segera lepas, maka jawab saja pertanyaannku sekarang," desak Karlo sambil semakin mempererat cengkraman tangannya di pundak Livia.


Livia meringis menahan sakit di pundaknya juga tangan yang dipelintir oleh Karlo, wajahnya bahkan tak bisa berbalik saking kuatnya tekanan yang laki-laki paruh baya itu berikan padanya.


"Aku yakin kamu bukanlah mantan TKW biasa, Livia. Katakan sekarang, siapa kamu sebenarnya?!" sentak Karlo.


"A--aku"

__ADS_1


__ADS_2