Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.14 Masa lalu


__ADS_3

"Mah, Via dapat bunga bagus!" teriak anak kecil yang tampak berlari riang ke arah wanita paruh baya yang tengah asik duduk di kursi taman dengan tumpukan bunga segar di depannya.


Wanita itu tampak tersenyum sangat lembut ke arah gadis kecil yang terus berlari sambil sesekali tertawa riang, seolah begitu bangga setelah mendapatkan bunga mawar berwarna merah di tangannya. Warna yang senada dengan baju yang kini sedang gadis kecil itu pakai.


"Wah, anak mamah pintar sekali, bunganya sangat cantik, sama seperti Via," ujar wanita paruh baya itu, begitu gadis kecilnya berhasil sampai di depannya dengan napas memburu dan senyum cerahnya.


"Ini Via petik khusus buat Mamah!" ujar gadis kecil itu sambil menyerahkan punya mawar merah yang baru saja dia petik di kebun belakang rumahnya.


"Beneran? Ini untuk mamah?" tanya wanita paruh baya sambil mengambil bunga mawar merah itu dengan senyum yang yang tampak merekah.


"Eum!" angguk gadis kecil itu yakin.


"Buat papah mana?"


Atensi dua orang perempuan berbeda usia itu langsung terlihat ketika mendengar suara seseorang yang begitu mereka kenali. Pandangan keduanya pun beralih pada arah suara, hingga perlahan senyum di wajah ibu dan anak itu pun semakin merekah.


Dua orang laki-laki tampak berjalan beriringan dengan pakaian rapih khas pekerja kantoran pun terlihat menghampiri mereka.


"Papah! Kak Angga!" teriak gadis kecil itu sambil berlari menghampiri kedua laki-laki itu kemudian menghambur pada pelukan sang ayah yang langsung menangkapnya lalu membawanya ke dalam gendong.


Mereka pun berjalan terus menghampiri wanita paruh baya itu, kemudian mengelus puncak kepalanya sambil memberikan ciuman kilas di kening dengan gadis kecil masih di dalam gendongannya.


"Seharusnya kita yang mendapatkan bunga dari Via, karena aku dan Angga berhasil mendapatkan tender besar," ujar laki-laki paruh baya itu sambil duduk di kursi berbahan besi. Sementara gadis kecil itu kini memilih turun dan beralih pada pria muda yang masih berdiri.


"Kak Angga hebat!" serunya sambil mendongakkan kepala, melihat wajah laki-laki muda yang merupakan kakak pertamanya.


Pria muda itu menunduk sambil tersenyum, kemudian meraih tubuh kecil adik bungsunya itu sebelum menjawab ucapan bernada bangga itu. "Iya, dong. Kakak siapa dulu?"


"Kakaknya Via!" seru gadis kecil itu dengan suara kencang dan sangat riang, hingga mengundang tawa semua orang yang ada di sana.


Namun, suasana bahagia yang penuh dengan canda tawa itu pun tiba-tiba berubah, seiring dengan langit yang tiba-tiba saja gelap dan petir menggelegar terdengar.

__ADS_1


"Mamah, Via takut," lirih gadis kecil itu yang kini tampak memeluk tubuh ibunya, menyembunyikan diri sambil mencari ketenangan dari rasa takut tak terkira karena hujan deras yang diiringi petir menggelegar di malam buta. Dirinya sampai terbangun dari tidur dan menangis histeris karena terlalu terkejut.


"Tenang sayang, ada mamah di sini," ujar wanita paruh baya itu sambil mengelus lembut punggung anak bungsunya yang entah kenapa begitu takut dengan petir.


Brak!


Suara asing seperti pintu yang terdorong secara paksa di tengah petir yang bersahutan kini mengalihkan perhatian keduanya. Gadis kecil itu pun semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh hangat wanita yang telah melahirkannya itu.


"Apa, itu, Mah?" tanya gadis kecil itu dengan bibir bergetar dan mata yang berkaca-kaca. Dia sudah sangat ketakutan dengan suara petir, dan kini ada suara aneh lagi yang membuat malam itu terasa begitu menenangkan.


"Tunggu di sini, ya. Mungkin itu Papah sama Kak Angga yang baru pulang," ujar wanita paruh baya itu sambil melihat lembut pada anak bungsunya. Wanita itu berusaha sekuat tenaga untuk tidak terlihat panik dan ketakutan di depan anak bungsunya itu.


"Tapi, Via takut, Mah."


"Via ditemani sama Mbak Imah. Mama cuma mau lihat Papah dan Kak Angga sebentar," bujuk wanita paruh baya itu sambil mulai mengendurkan pelukannya pada sang anak, diikuti dengan datangnya seorang wanita yang masih cukup muda. Mbak Imah, pengasuh Via sejak masih bayi.


"Imah, aku titip Via, ya," ujarnya dengan tatapan yang sulit diartikan sebelum membalikan badan.


"Iya, Nyonya," angguk Imah sambil mulai memeluk anak asuhnya yang masih terlihat ketakutan.


Hanya sekejap. Semuanya hanya sekejap, hingga tiba-tiba suara gaduh dari lantai bawah terdengar mengerikan. Sahutan teriakan mengancam terdengar jelas dari kamar gadis kecil itu yang ada di lantai dua, tangis sang ibu pun mulai terdengar hingga mengalihkan perhatian gadis kecil yang masih meringkuk ketakutan.


Jerit dan teriakan ketakutan dari para pelayan pun terdengar mengikuti, membuat Mbak Imah yang sepertinya mulai sadar akan situasi mencoba berpikir cepat, untuk menjaga anak majikannya yang sudah dia asuh sedari bayi.


"Mbak, Via mau ke luar, Via juga mau ketemu sama Papah, sama Kak Angga," lirih gadis kecil yang terlihat polos itu.


"Jangan, Non Via. Kita tunggu di sini saja, ya," cegah Imah dengan wajah yang perlahan berubah pucat, seolah tidak lagi memiliki darah. Wanita muda itu kemudian berjalan ke pintu dan menguncinya. Tindakan itu tentu saja membuat gadis kecil itu menatap bingung ke arahnya.


"Kok pintunya dikunci? Nanti kalau mamah mau masuk gimana?" tanya Via, sambil menatap Imah dengan sorot mata bingung.


"Nanti Mbak bukain," jawab Imah singkat.

__ADS_1


Gadis kecil itu tampak mengangguk, sepertinya dia cukup mengerti jika situasi di luar sedang tidak baik-baik saja, hingga membuat pengasuhnya terlihat berkeringat dingin.


"Ya Tuhan, lindungi kami semua. Lindungi keluarga baik ini," gumam Imah dengan gemuruh di dalam dada. Sebisa mungkin, dia menahan diri untuk tetap tenang, di saat suara teriakan dan jeritan majikan dan para teman-temannya terdengar jelas di telinga.


Tidak! Ini bukan ulah majikannya. Selama ini mereka begitu baik hingga membuat orang yang bekerja di sana akan betah. Walau memang pekerjaan mereka cukup berat. Dia tahu, pasti ada yang tidak beres, mengingat tadi sore Tuannya dan anak pertama mereka berjalan terburu-buru dengan wajah tegang, dan hingga malam selarut ini keduanya belum pulang. Ini sangat mencurigakan.


Pikiran Imah semakin rancu dan kacau ketika suara derap langkah di luar kamar terdengar. Jantingnya semakin berdebar tak karuan dengan tangan yang semakin terasa dingin. Hingga--


Brak!


Pintu berwarna merah muda itu terlempar ke dalam dengan suara yang memekakan telinga.


Imah berdiri di samping tempat tidur, dia melihat takut-takut ke arah beberapa orang berwajah seram yang kini tampak berdiri di ambang pintu.


"Mana anak itu?!" Teriakan tertahan dari seorang laki-laki muda yang mungkin hanya berbeda beberapa tahun di bawah usia Angga pun terlihat muncul dari balik barisan pria berwajah seram.


"Tidak ada siapa pun di sini! Ini adalah kamarku!" teriak Imah, mencoba tetap tegar, walau tubuhnya sudah bergetar hebat menahan takut.


Sementara gadis kecil itu menutup mulutnya dengan tubuh gemetar hebat di balik pintu salah satu lemari bajunya. Matanya mengintip apa yang terjadi di luar, dari celah pintu.


"Di mana anak itu atau nasibmu akan sama dengan yang lainnya!" teriak laki-laki muda itu sambil menodongkan sebuah belati yang meneteskan cairan berwarna merah di ujungnya.


Imah melebarkan mata melihat belati itu kemudian menggeleng pelan dengan tubuh yang bergetar. Dalam hatinya, dia selalu berdoa untuk keselamatan keluarga yang sudah begitu baik padanya. Terutama anak kecil yang sudah sejak bayi dia asuh.


"T--tidak ada, hanya ada aku di sini!" teriak Imah, berusaha untuk berkata tegas, walau nyatanya terdengar getaran dari suaranya.


"Jadi kamu masih memilih untuk melindungi keluarga sialan ini demi nyawamu sendiri?! Baiklah." Pria muda itu menyeringai kemudian melemparkan belati itu dengan santainya hingga mengenai dada Imah dan membuat tubuh Imah jatuh ke atas ranjang dengan belati menancap di dadanya.


"Itu akibatnya jika kamu terus melawanku!" desis pria muda itu sambil membungkukkan tubuhnya kemudian memegang gagang belati itu dan menusukkannya semakin dalam dengan sesekali memutarnya.


"J--jangan b--bunuh a--ku," suara terbata itu terdengar seiring darah yang terus mengalir dari luka di dadanya.

__ADS_1


Gadis kecil yang tidak seharusnya menyaksikan kejadian mengerikan itu tampak menggigit tangannya dengan sangat keras. Mencoba meredam jeritan dan tangis yang ingin sekali ke luar dari mulutnya. Wajah pucat dengan lelehan air mata yang membanjiri pipi gembul gadis itu pun tampak terlihat jelas.


"Nona Via," lirih Imah sebelum wanita itu menutup matanya rapat.


__ADS_2