Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.24 Kambuh


__ADS_3

"Masuk!" Suara jawaban dari dalam membuat Daniel perlahan mendorong gagang pintu kamar milik kakeknya itu.


"Aku ganggu kakek?" tanya Daniel setelah membuka setengah pintu kayu itu. Dia menatap wajah yang sudah dipenuhi keriput laki-laki tua.


"Masuklah." Kakek Banu berucap sambil menatap wajah cucu kesayangannya itu. Cucu yang memiliki wajah sangat mirip dengan sang anak, walau matanya seperti Luci.


Daniel membuka penuh daun pintu yang terbuat dari kayu jati itu, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar bernuansa etnik khas ruangan di tahun delapan puluhan. Sangat sederhana, seperti sikap neneknya yang memang tidak pernah berubah, dia suka sesuatu yang kuno hingga kamarnya pun tidak mau ada unsur modernisasi di sana.


Kakek Banu memilih untuk mmepertahankan semua itu walau istrinya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Kamar itu seolah memberikan dia ingatan tentang istrinya yang semakin lama semakin samar terasa.


"Kakek--" Daniel baru saja ingin berucap kembali, tetapi suaranya tertahan ketika kakek Banu lebih dulu menyela perkataannya.


"Duduk di sini," ujar Kakek Banu sambil emnepuk sisi ranjang tepat di sampingnya duduk sekarang.


"Bicara baik-baik dengan kakekmu, ingat dia sedang sakit. Kita sebagai yang lebih uda dan sehat harus lebih mengeri kondisinya dan mengalah agar kakek tidak terlalu banyak pikiran."


Perkataan mami Luci beberapa saat yang lalu membuat Daniel menelan salivanya pelan, berharap emosinya juga ikut tertelan bersama. Daniel kemudian mengangguk lalu mengikuti keinginan kakek Banu untuk duduk di sampingnya.


Namun, sesaat kemudian tubuh Daniel menegang ketika merasakan sentuan lembut dan membuai di belakang kepalanya. Itu adalah tangan kakek Banu. Daniel menoleh dengan wajah yang terlihat begitu kaku karena terlalu terkekjut. Dia memaksa bibirnya untuk tersenyum ketika melihat laki-laki itu sedang menatapnya dengan penuh kasih sayang dan senyum tipisnya.


"Cucuku, kamu sekarang sudah dewasa," ujar kakek Banu masih dengan posisi tangan di atas kepala Daniel dan tatapan penuh kasih sayangnya.


Daniel mengerjap beberapa kali, jantungnya tiba-tiba saja bertalu hebat saat melihat semua itu.


"Sekarang kamu harus terjun langsung untuk mengurus perusahaan, menggantikan papahmu."


Deg!


Tidak! Daniel menggeleng lemah ketika mendengar ucapan pelan kakeknya. Perkataan, yang diucapkan kakeknya tepat setelah tujuh hari sang ayah meninggal.

__ADS_1


Penyakit kakek sedang kambuh? Apa dia tidak meminum obat lagi? batin Daniel sambil menoleh ke sana ke mari mencari obat yang biasa diminum oleh kakeknya.


"Kakek, tunggu sebentar, Daniel mau cari Karlo dulu," ujar Daniel sambil beranjak berdiri dan langsung ke luar begitu saja meninggalkan kakek Banu yang menatapnya dengan wajah bingung.


Begitu sampai di luar dia langsung mencari Karlo. Daniel baru menemukannya sedang menyeduh kopi di dapur.


"Ikut dengaku sekarang!" ujar daniel tajam sambil berbalik dan berjalan menuju ke ruang kerjanya di lantai dua. Karlo yang mendapatkan perintah pun langsung mengikuti agkah Daniel tanpa berbicara apa pun.


"Ada apa, Tuan muda?" tanya Karlo begitu mereka berada di ruang kerja Daniel.


"Apa kakek tidak meminum obatnya lagi? Kenapa penyakitnya bisa kambuh? Apa yang kamu lakukan selama ini, hah? Bukannya aku mempercayakan kesehatan kakek padamu, Karlo!" Daniel langsung membentak Karlo, dia benar-benar kecewa pada asisten pribadi kakeknya itu.


"Itu biasa terjadi kalau tuan besar sedang banyak pikiran, Tuan muda. Saya bisa menjamin kalau tuan besar tidak bernah terlambat meminum obatnya," jawab Karlo masih dengan wajah tenang dan nada suara yang tidak terintimidasi sama sekali.


Daniel terdiam dengan kening yang bertaut dalam, dia kemudian menatap tajam Karlo yang masih berdiri tegap di depannya. "Lalu, kamu menyalahkan aku atas kambuhnya penyakit kakek?" tanyanya kemudian.


"Tidak, Tuan muda. Hanya saja, jika saya boleh memberi saran, sebaiknya Tuan muda bisa lebih mengerti dengan keinginan tuan besar, agar tuan besar tidak terlalu banyak pikiran yang akan membuat penyakit tuan besar semakin parah," ujar Karlo dengan nada masih terdengar tenang.


Karlo yang melihat itu sebenarnya merasa sedikit iba pada tuan mudanya yang terlihat sangat frustasi. Namun, dia juga tidak bisa bberbuat apa pun pada semua keputusan tuan besarnya.


"Lalu, apa aku harus mengalah dan membiarkan dia masuk ke kantorku? Kamu pasti juga sudah tahu betul, bagaimana sikap dua orang itu, kan?" Daniel mendesah pelan dengan tatapan yang terlihat berubah brgitu rumit. Baru saja dia menyelesaikan satu masalah tentang rumor dirinya, kini malah datang masalah yang lebih rumit lagi.


"Sepertinya, untuk saat ini keputusan itu lebih baik untuk kesehatan tuan besar," angguk Karlo walau tatapan matanya sempat jatuh untuk sesaat sebelum kembali menatap yakin pada Daniel.


Daniel terdiam kemudian memilih untuk duduk di sofa dan menyandarkan tubuhnya di sana. Laki-laki itu tampak menutup mata dengan kepalan tangan di atas keningnya.


"Kamu boleh ke luar sekarang," ujarnya dengan nada suara sangat lemah hingga terdengar samar oleh Karlo.


"Baik, Tuan muda." Karlo membungkuk samar di hadapan Daniel sebelum kemudian berbalik dan melangkahkan kakinya ke luar dai ruang kerja Daniel.

__ADS_1


.


Livia mengernyitkan kening ketika telinganya mendengar samar suara ponsel yang dia biarkan tergeletak di atas meja. Perlahan, wanita itu bernajak duduk sambil menyingkap selimut berwarna biru laut yang kini menutupi tubuhnya. Matanya mengerjap beberapa kali sambil menatap jam dinding yang berjarak tidak jauh darinya.


"Jam setengah dua?" gumam Livia sambil meraih ponsel yang kembali berdering entah untuk keberapa kalinya.


"Danis?" Livia kembali bergumam ketika mendapati nama yang terlihat di layar ponselnya.


Ah, iya, Livia lua jika tadi sore Daniel pergi dari rumah tanpa pamit padanya, lalu beberapa saat kemudian disusul oleh Danis. Mengingat itu, Livia menarik napas pelan kemudian menghembuskannya cepat sambil merapihkan bajunya yang sedikit kusut kemudian memakai sendal rumah dan beranjak berdiri sambil menempelkan ponselnya di telinga.


"Ya?" jawabnya singkat.


"Tolong aku, Kak Daniel mabuk lagi! Jemput kami di BA klub!" ujar Danis dari seberang sana.


"Hem," jawab Livia dengan suara yang tampak malas. Walau begitu, dia sigap mengambil salah satu kunci mobil milik Daniel dan segera ke luar dari kamar.


"Jangan sampai ada orang rumah yang tahu," peringat Danis lagi.


"Iya." Livia langsung mematikan sambungan teleponnya dengan Danis sambil berjalan cepat menuju garasi. Namun, langkahnya terhenti ketika Karlo dirinya berpapasan dengan Karlo yang ternyata belum tidur.


"Mau ke mana, Nona muda?" tanya Karlo sambil menatap penampilan Livia yang hanya menggunakan piama satin panjang berwarna hitam.


"Ada yang harus aku beli di luar!" ujar Livia dengan wajha datarnya.


"Kalau begitu biar saya bantu belikan, Nona tidak perlu repot ke luar sendiri. Ini sudah larut, tidak baik jika wanita ke luar sendiri," ujar Karlo menawarkan diri.


"Tidak usah, ini urusan wanita, kamu tidak berhak untuk tahu masalah pribadiku!" tekan Livia, lalu melanjutkan langkahnya menuju garasi untuk mengambil mobil milik Daniel.


Karlo menatap punggung Livia yang semakin berjarak darinya. Tatapan yang begitu rumit hingga suulit untuk diartikan. Setelah melihat Livia pergi menggunakan mobil Daniel, dia tampak megambil ponsel di saku kemudian mencari sebuah nomor.

__ADS_1


"Ikuti nona muda, laporkan apa saja yang kamu lihat ketika mengikutinya!" ujar Karlo pada seseorang di seberang sana, dia langsung memutuskan kembali sambungan teleponnya ketika sudah mendapat jawaban singkat dari orang di seberang sana.


'Benar kata tuan besar, sepertinya dia memang bukan orang sembarangan.


__ADS_2