Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.50 Aku tau rasanya


__ADS_3

"Kamu temani saja suamimu dulu, Livia. Mami tau, dia adalah orang yang paling terpukul atas kejadian ini. Tolong jagain dia ya," ujar Mami Luci ketika mereka hendak akan masuk ke rumah setelah dari pemakaman.


"Tapi, Mami--"


"Mami bisa dibantu sama siapa aja, Livia. Tapi, Daniel. Sejak dia kecil dia sudah belajar mandiri sejak adiknya lahir dan tidak mau dibantu oleh orang lain selain mami. Sekarang, hanya kamu yang bisa mmebantunya. Tolong, nurut sama Mami. Temua suami kamu, ya." Mami Luci menggenggam tangan Livia yang masih memegang kursi rodanya, kepalanya sedikit mendongak agar bisa melihat wajah menantunya itu.


Livia terdiam sebentar, dia menghembuskan napas pelan sambil mengangguk pasrah. Livia kemudian mencari pelayan yang biasa menggantikannya menjaga mami Luci sebelum dia meninggalkan mertuanya itu.


... ❤️‍🔥...


Livia berhenti melangkah tepat di depan sebuah pintu berbahan kayu yang dia tahu pasti itu adalah kamar siapa. Jantungnya yang tiba-tiba berdebar pun membuat dadanya terasa sesak. Livia lebih dulu menarik napas perlahan kemudian menghembuskannya kembali, sebelum dia mengulurkan tangannya untuk memutar gagang pintu.


Namun, belum sempat tangannya menyentuh gagang pintu, benda itu sudah terbuka dari dalam dan menampilkan Danis yang hendak ke luar dari kamar.


"Mau ke mana?" tanya Livia.


"Aku mau ke kamar. Kakak meminta dibawakan minuman," jawab Danis, seolah melampiaskan sebuah kesedihan dengan minuman adalah sesuatu hal yang biasa.


"Tidak boleh!" Livia langsung menyela dengan nada suara yang tinggi dan tegas, hingga membuat Danis terkejut dibuatnya.


"Tidak ada yang boleh memberikan dia minuman beralkohol di saat seperti ini. Kamu, lebih baik urus saja dirimu sendiri. Dia, biar aku yang mengurusnya," ujar Livia dengan nada suara yang datar dan sedikit menggeram seolah panuh dengan amarah.


"Tapi, dia akan marah kalau sampai aku tidak membawakannya minuman--"


"Kamu mau dia mati?! Selama aku menikah dengannya, sudah berapa kali dia mabuk berat, hah? Kamu pikir itu tidak berpengaruh pada kesehatannya? kamu mau membunuh kakakmu secara perlahan?" tanya Livia dengan wajah yang mengeras dan mata menatap tajam pada Danis.

__ADS_1


Melihat raut wajah serius Livia dan nada suara yang berbeda dari biasanya, membuat Danis langsung bungkam, dia hanya bisa mengangguk kemudian berjalan ke luar melewati Livia dengan rasa terkejut di dalam hatinya.


Selesai urusan dengan Danis, kini Livia mulai melangkah masuk ke dalam kamar tidur Daniel dan dirinya. Begitu dia berada di sana, matanya langsung bertemu dengan mata sembap dan merah milik laki-laki yang kini duduk meringkuk di sofa, tempat dirinya bisa tertidur. Diam-diam dia mengunci pintu kamar kemudian membawanya, agar tidak ada yang bisa masuk atau ke luar dari ruangan itu.


Livia menghembuskan napasanya kembali, sebelum mulai membawa kakinya melangkah menghampiri laki-laki yang kini tengah terpuruk.


"Aku siapkan air dulu, kamu harus segera mandi," ujar Livia sambil berjalan begitu saja melewati Daniel dan masuk ke kamar mandi.


Sementara Daniel tak menggubris, dia hanya menghembuskan napas berat kemudian kembali terdiam begitu saja. Dia lelah terus berpura-pura kuat, kini dia ingin menjadi dirinya sendiri yang juga bisa lemah dan terpuruk.


"Ayo, kamu harus membersihkan diri dulu." Livia mengulurkan tangannya ke depan Daniel agar laki-laki itu bisa menyambutnya.


Daniel menatap uluran tangan itu cukup lama kemudian memilih melihat wajah Livia yang tampak biasa saja. Tidak ada kesedihan di sana, walau jelas sekali di rumah sakit Daniel melihat Livia menangis. Daniel lebih dulu menarik napas dalam, kemudian menghembuskannya kasar, sebalum berucap lirih tak bertenaga pada Livia. "Kamu saja dulu, aku mau menyusul Danis ke kamarnya."


Daniel hendak beranjak bangun ketika tangan Livia menahannya. Dia kemduian kembali menatap Livia dengan kening berkerut dalam. Tatapan tajam keduanya tampak bertemu untuk beberapa saat sebelum kemudian Daniel mengalihkan pandangannya.


"Danis tidak ada di kamarnya. Aku menyuruhnya untuk menemani Mami di bawah," jawab Livia. Dia tentu tahu, untuk apa Daniel menyusul Danis.


Setelah kejadian mabuk di kamar tempo hari, Livia sudah membuang sisa minuman beralkohol yang Daniel simpan secara tersembunyi di kamarnya. Hingga kini laki-laki itu tidak memiliki stok minuman seperti itu lagi. Livia mengancam akan memberitahu Mami Luci tentang kebiasaan Daniel minum minuman keras di belakangnya jika Daniel mencegah Livia membuang minuman itu.


"Gak apa. Aku sudah terbiasa masuk ke kamarnya sendiri." Daniel masih saja kukuh untuk pergi. Laki-laki itu pun berjalan menuju pintu, hingga saat dia mau membukanya, Daniel baru menyadari kalau pintu itu terkunci.


"Apa yang kamu lakukan, Livia?" tanya Daniel dengan tatapan tajamnya.


"Mandi dan tenangkan dirimu dulu, baru aku akan membuka pintu, itu pun kalau kamu berjanji tidak akan menyentuh minuman keras lagi," jawab Livia santai. Yang malah membuat emosi Daniel naik.

__ADS_1


"Livia!" teriak Daniel dengan tangan terkepal erat.


"Jangan pikir karena aku sudah bersikap lunak sama kamu, aku sudah menerima kamu sebagai istriku. Tidak sama sekali! Kamu masih seorang pelayan di mataku. Jadi, jangan melunjak dan berikan kuncinya sekarang juga!" sentak Daniel dengan wajah memerah. Tangannya menengadah bersiap untuk menerima kunci dari Livia.


"Aku juga tidak berharap dianggap sebagai istri oleh kamu, Daniel. Tapi, setidaknya kamu hormati hari kematian kakek kamu. Jangan kamu gunakan hari ini untuk meminum minuman keras dan mabuk-mabukan. Itu bukan sebuah solusi untuk menghilangkan kesedihan."


Livia meringis kesal, sejak datang ke rumah ini dan menikah dengan Daniel, sepertinya dia sudah mulai terbiasa menggunakan kalimat panjang seperti ini. Itu sangan menjengkelkan. Ditambah lagi emosinya yang tidak bisa keluarkan, membuat Livia harus mencari pelampiasan.


"Jangan ikut campur dengan urusanku, Livia. Kembalikan kuncinya sekarang!" Daniel yang sudah terlanjur dikuasai emosi kini tak bisa mendengar maksud dari Livia.


"Tidak akan!" Livia berujar sambil memalingan wajahnya.


"Livia!" geram Daniel sambil mulai melangkahkan kakinya menghampiri Livia.


"Jangan seperti anak kecil, Daniel. Kami semua tau kamu sedang terpuruk. Tapi, tidak semua masalah harus diselesaikan menggunakan alkohol!" Livia masih mencoba bersabar menghadapi manusia macam Daniel yang sudah terlanjur bergantung pada alkohol.


"Gak usah sok perduli, Livia! Kamu gak akan ngerti gimana rasanya jadi aku!" sentak Daniel sambil mencengkram pipi Livia dengan cukup kencang, hingga Livia bisa merasakan pegal di tulang pipinya.


Namun, bukannya takut Livia malah menyeringai miris, kemudian berkata dengan nada suara parau dan tatapan yang terus bertaut dengan mata Daniel. "Aku memang tidak tau rasanya jadi kamu. Tapi aku tau rasanya kehilangan semuanya hanya dalam sekejap."


"Kamu seharusnya bersyukur karena bisa mengurus jenazah kakekmu dengan baik dan mengetahui di mana makamnya. Setidaknya kamu bisa mengunjunginya ketika sedang merindukannya," sambung Livia lagi dengan mata yang datar, walau tersimpan sebuah luka dan rasa sakit di dalamnya.


Daniel terdiam, cengkraman tangan di pipi Livia pun perlahan mulai mengendur. Dalam hatinya, dia membenarkan semua ucapan Livia, tetapi rasa sakit akibat kehilangan yang terlalu mendadak belum sempat hilang dari dada. Daniel belum bisa menerima semuanya.


Perlahan Livia melepaskan tangan Daniel dari pipinya, lalu melangkah maju lebih dekat lagi hingga akhirnya dengan gerakan sedikit kaku, Livia mencoba melingkarkan tanganya di pinggang Daniel, memberi ketenangan untuk laki-laki yang kini sedang terpuruk itu.

__ADS_1


Tubuh Daniel kaku, ketika merasakan kehangatan yang Livia berikan di saat dirinya membutuhkan sebuah pelukan. Daniel juga terkejut dengan sikap Livia yang tiba-tiba saja berubah menjadi lembut padahal sebelumnya Livia bahkan tidak pernah melakukan sentuhan fisik dengannya kecuali memakaikan dasi.


Aku semakin tidak mengerti dengan kamu, Livia? Siapa sebenarnya kamu?


__ADS_2