Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.91 Hadiah tak terduga


__ADS_3

Daniel mengikuti Livia dari belakang setelah berterima kasih pada Agra melalui isyarat tangannya. Namun, langkahnya semakin cepat ketika melihat tubuh Livia yang oleng hingga tiba-tiba ambruk begitu saja tepat di saat dia sampai di belakang wanita itu.


"Livia?!" Alisya dan Agra yang melihat itu pun ikut terkejut saat melihat Livia pingsan.


"Livia? Hei, bangun sayang. Sayang, jangan buat aku khawatir," ujar Daniel sambil beranjak duduk dengan tubuh Livia di dalam pangkuannya.


"Ayo kita bawa ke rumah sakit sekarang!" Agra yang melihat itu langsung menghampiri Daniel yang tampak kacau dan menyarankan untuk membawa Livia ke luar.


Sigap, Agra berjalan setengah berlari ke luar untuk menyiapkan mobil, sementara Daniel menggendong Livia yang sudah tak sadarkan diri untuk dibawa ke rumah sakit.


"Kasih kabar padaku. Aku akan tetap di sini bersama anak-anak," ujar Alisya pada Agra saat laki-laki itu hendak kembali masuk ke dalam mobil setelah memastikan jika Daniel dan Livia masuk ke kursi belakang.


"Iya. Jangan bilang apa-apa dulu pada Ares," pesan Agra yang langsung diangguki oleh Alisya.


"Hati-hati," ujar wanita itu yang bahkan tak sempat dijawab oleh Agra karena laki-laki itu sudah masuk ke mobil kemudian melajukannya dengan kecepatan tinggi.


Sesampainya di rumah sakit terdekat, Livia langsung diperiksa oleh dokter yang bertugas. Daniel tampak tak bisa tenang, laki-laki itu bahkan terus berjalan mondar-mandiri di depan ruangan Livia diperiksa.


Sementara itu, Agra sedang menghubungi Edo agar segera menyusul dan mengurus registrasi rumah sakit. Setelah itu, dia tampak menghampiri Daniel lalu menepuk pundak laki-laki itu, hingga membuat Daniel berhenti dan berbalik melihatnya.


"Tenanglah, aku yakin Livia tidak apa-apa. Dia wanita yang kuat," ujar Agra mencoba menenangkan Daniel.


"Bagaimana aku bisa tenang? Istriku sedang tidak sadarkan diri di dalam sana dan aku tidak tahu bagaimana kondisinya," jawab Daniel dengan wajah yang benar-benar kacau.


Agra terdiam sambil menatap prihatin wajah Daniel, dia kemudian menepuk pundak adik iparnya itu sambil membuang muka. Dalam hati, Agra juga merasa sangat khawatir pada keadaan Livia saat ini. Namun, dia juga harus terlihat tegar karena ada Daniel yang kini membutuhkanseorang penopang.


"Aku yakin, Livia akan baik-baik saja. Adikku adalah wanita yang kuat. Kamu tau itu, kan?" ujar Agra sambil menahan sesak di dalam dada.


Beberapa menit berlalu, akhirnya seorang dokter ke luar dari ruangan. Tentu saja, semua itu langsung menjadi perhatian Agra dan Daniel, kedua orang itu langsung menghampiri dan menanyakan kondisi Livia saat ini dengan wajah yang masih saja terlihat panik.


"Tidak ada masalah, Nyonya Livia hanya kecapean, saat ini Nyonya Livia bahkan sudah sadar. Tapi, untuk memastikannya kami akan melakukan tes darah," jawab dokter wanita itu dengan ramah.


"Lakukan yang terbaik untuk adik saya, Dok," ujar Agra sigap.


"Tentu," angguk dokter itu.


"Apa boleh saya menemuinya?" tanya Daniel yang tampak terus mencuri pandang ke dalam ruangan.

__ADS_1


"Silahkan." Dokter itu tampak memberikanjalan untuk Daniel sambil tersenyum.


"Terima kasih, Dok." Daniel langsung berlalu masuk untuk menemui Livia. Sementara itu, Agra memilih untuk berbincang lebih lanjut dengan dokter itu.


"Sayang," panggil Daniel begitu dia melihat istrinya yang tampak masih berbaring dengan salah satu tangannya terpasang jarum infus.


Mendengar suara Daniel, Livia langsung menoleh sambil tersenyum. Wanita itu tampak membenarkan posisi kepalanya Daniel pun membantunya dengan sigap.


"Aku bilang juga apa. Jangan terlalu memaksakan diri, kamu butuh istirahat. Kenapa kamu bandel banget sih, kan jadi gini. Aku khawatir banget sama kamu, sayang." Seperti biasa, laki-laki itu langsung mengomeli Livia begitu dia memastikan jika wanita itu berbaring dengan nyaman.


Daniel menggenggam lembut tangan Livia kemudian menciumnya berulang kali disela omelannya yang bahkan belum selesai. "Aku gak tau apa yang akan terjadi kalau sampai terjadi sesuatu padamu, sayang. Jangan begini lagi, ya. Aku hampir saja mati berdiri karena mengkhawatirkanmu."


Daniel kemudian menghembuskan napas berat sambil beranjak mencium kening Livia lembut dan sangat dalam. Laki-laki itu menutup matanya, sambil berucap pelan. "Untung saja tidak terjadi apa-apa padamu, jadi sekarang aku bisa bernapas lega."


Livia tersenyum saat mendapati perhatian dari suaminya yang memang berbeda dari suami lainnya. Daniel lebih cerewet dan mudah mengungkapkan perasaannya hingga terdengar seperti orang mengomel. Livia tak pernah merasa keberatan, dia mengangap itu sebagai bentuk perhatian dari Daniel padanya. Itu juga sebuah bertuk kasih sayang sang suami untuknya.


"Maaf, aku sudah membuat kamu khawatir, ya," jawab Livia sambil tersenyum. Wanita itu ikut menutup matanya, menikmati kehatan yang Daniel berikan.


"Jangan ulangi lagi," pinta Daniel sambil kembali bernajak duduk. Kini salah satu tangannya beralih mengusap lembut pipi Livia yang masih tampak pucat.


Livia hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Kata dokter kalau tidak ada masalah dengan hasil tes darah kamu, kamu sudah boleh pulang," ujarnya sambil berjalan menghampiri Livia kemudian berdiri di sisi barankar wanita itu, tepat di depan Daniel.


"Jangan sampai semua ini terjadi lagi atau aku akan langsung membawa kamu dari dia," ujarnya tiba-tiba sambil menatap penuh permusuhan pada Daniel.


"Dia istriku, kalau kamu lupa," balas Daniel tidak terima.


"Tapi, dia lebih dulu jadi adikku," debat Agra tidak mau kalah.


"Tidak bisa. Sekarang dia istriku jadi dia juga akan memilih untuk tetap tinggal denganku!" Daniel menatap sengit Agra.


"Iya, kan sayang?" sambungnya lagi dengan nada bicara yang berubah dan tatapan lembut pada Livia.


"Di juga adikku. Aku yang membesarkannya, kalau kamu lupa!" Agra masih tidak mau kalah.


"Kamu harus ikut sama aku kalau sampai dia tidak bisa menjaganya titik," sambungnya lagi sambil menatap Livia lembut walau nada suaranya terdengar tegas.

__ADS_1


"Tidak bisa! A--" Daniel hendak kembali membantah, ketika Livia memegang tangannya dan memberi isyarat untuk diam.


"Ini semua gak akan terjadi lagi, Kak. Aku janji," putus Livia sambil menatap yakin pada Agra.


"Oke, kesepakatan dibuat," putus Agra.


Daniel hendak kembali protes, tetapi langsung dicegah oleh Livia. Wanita itu sebenarnya tahu kalau semua kata-kata Agra tidaklah sungguhan. Agra memang sudah terbiasa menunjukkan perhatiannya dengan sikap seperti itu setiap kali dia sakit. Jadi, Livia sudah tidak terkejut lagi.


Setelah perdebatan yang hanya sebuah omong kosong itu, kedua laki-laki itu tampak kembali duduk tenang, mereka bekerja sama untuk menjaga Livia. Hingga setelah beberapa waktu berlalu, perhatian ketiganya pun kembali teralihkan ketika melihat dokter yang tadi memeriksa Livia kini kembali masuk ke ruangan.


Daniel dan Agra langsung berdiri dan memberi jalan untuk dokter itu memeriksa Livia. Namun, ternyata dokter itu datang hanya untuk memberitahu hasil tes darah milik Livia.


"Jadi, bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Daniel dengan wajah kembali gugup dan khawatir.


"Tidak ada yang serius. Sebenarnya saya menyarankan untuk tes darah karena saya mencurigai sesutu, dan ternyata kecurigaan saya benar."


"Kecurigaan apa, Dok? Cepat bilang, tidak usah bertele-tele." Daniel langsung memotong perkataan dokter itu karena mulai kembali panik.


"Ah, Anda tidak perlu panik begitu, Tuan. Karena sebenarnya kabar yang ingin saya sampaikan adalah kabar baik," ujar Dokter itu sambil menatap satu per satu orang yang ada di sana.


"Menurut hasil tes darah ini. Saya menyimpulkan jika Nyonya Livia kini sedang mengandung," sambung dokter itu dengan wajah tersenyum.


Daniel teridam dengan mata melebar debar jantungnya seolah terhenti untuk beberapa saat ketika mendengar ucapan dokter, tubuhnya menjadi lemas seolah tidak ada lagi tulang dan otot yang menopangnya.


Sementara itu, Agra tampak tersenyum dengan wajah menatap Livia yang juga mulai tampak menteskan airmatanya tanpa sadar. Namun, Agra kembali mengalihkan perhatiannya pada dokter dan memilih untuk berterima kasih pada dokter itu.


Daniel langsung mengalihkan perhatiannya pada Livia. Laki-laki itu tampak langsung menghambur pada wanita itu dengan air mata yang juga tak dapat dia tahan.


"Sayang, selamat. Selamat, sekarang kamu sudah bisa memberikan kado ulang tahun sesuai keinginan Ares," gumam Daniel dengan rasa bahagia yang begitu membuncah di dalam dada.


Hampir satu tahun mereka menikah dan menunggu hadirnya sang buah hati kedua mereka. Tentu saja, kabar ini manjadi kabar yang sangat membahagiakan untuk keduanya bahkan mungkin seluruh keluarga.


Tangis Livia pecah begitu saja dalam pelukan Daniel. Wanita itu bahkan belum bisa mengatakan apa pun selain hanya isak tangis bahagia yang tak bisa lagi dia tahan. Sesuatu yang sangat dia nantikan, kini akhirnya hadir. Dia bisa kembali memberikan buah hati untuk Daniel dan adik yang Ares inginkan.


...❀️‍πŸ”₯❀️‍πŸ”₯❀️‍πŸ”₯...


...Sesuatu yang berawal dari niat buruk tak akan pernah berjalan lancar atau bahkan hanya menjadi bumerang untuk diri kita sendiri. Namun, jika kita menyesal dan meminta maaf dengan sungguh-sungguh, setra bertekad untuk merubah hidup ke jalan yang lebih benar dengan niat yang baik pula ... yakinlah jika akan ada jalan untuk menuju kesempatan kedua....

__ADS_1


...TAMAT...


Terima kasih semuanya sudah nemenin aku nulis cerita ini. Semoga kedepannya aku bisa menulis lebih baik lagi dan menyajikan cerita yang lebih seru untuk kalian semua. Sampai jumpa di cerita aku yang lainnyaπŸ‘‹πŸ‘‹πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


__ADS_2