
Mami Luci terdiam di kamarnya, pandangannya terlihat kosong. Sejak sore tadi Livia tidak ada di rumah, dan itu saja sudah membuat dia merindukan menantunya itu. Setahun terus bersama dengan Livia, dari mulai awal pagi dia bangun tidur higga malam dia mau tidur lagi, membuat Mami Luci ternyata terbiasa bergantung dengan wanita itu.
Sikap Livia yang lembut dan mudah untuk diajak berbicara, membuatnya merasa nyaman bahkan setelah pertemuan pertama mereka. Namun, kini pikirannya melayang, mengingat saat dia memindahkan semua barang Livia ke kamar Daniel. Selama ini, dirinya pikir, jika Livia tidak memiliki barang berharga, karena memang selama ini Livia selalu bersikap sederhana.
"Dari mana dia bisa memiliki semua barang mewah itu? Ponsel dan laptop itu, bukanlah barang yang bisa dimiliki oleh sembarang orang," gumam Mami Luci sambi menatap jauh ke depan.
Untung saja, waktu itu dia sendiri yang menemukan barang rahasia milik Livia. Mami Luci pikir, itu rahasia karena memang disimpan di tempat yang sangat tersembunyi. Jika saja waktu itu, salah satu pelayan yang menemukannya, mungkin semua itu sudah menjadi bahan gunjingan dan masalah besar di rumahnya.
Namun, walau begitu tetap saja, itu semua menjadi sebuah pertanyaan besar di dalam dirinya, walau sampai sekarang dia memutuskan untuk menyimpan semua itu sendiri, tanpa memberitahu siapa pun termasuk Daniel. Dia juga memilih untuk tidak bertanya pada Livia, dan mencoba mencari tahu sendiri, apa yang Livia lakukan untuk mendapatkan semua barang itu.
Kecurigaannya semakin bertambah, ketika mendengar dari pemilik butik yang tadi sore membantu Livia berdandan, dia mengatakan jika di sana Livia terlihat sangat anggun dan berkelas, bahkan temannya itu sampai bertanya padanya, dari mana dia mendapatkan menantu sebaik dan sesempurna seperti Livia. Bukan hanya etikanya yang bagus, tetapi juga dia pintar dalam mencintai diri sendiri. Pemilik salon itu, terus memuji Livia di dalam sambungan telepon, karena ternyata selama Livia di sana, dia yang memilih semua riasan dan baju yang dia kenakan.
.
__ADS_1
Sementara itu di lain tempat, Daniel dan LIvia memutuskan pulang lebih dulu melalui pintu belakang, walau acara belum sepenuhnya selesai, demi menghindari para pencari berita yang pasti sudah menunggu mereka di pintu depan. Namun, walau begitu, ternyata ada saja pewarta yang meliat kepergian mereka dan memotret mereka dari jauh. Untung saja semua itu bisa diatasi dengan baik oleh Daniel dan Livia, karena memang sebelum mereka masuk ke dalam mobil, samdiwara itu masih terus berlanjut.
Daniel bahkan terus menggenggam tangan Livia ketika mereka berjalan meninggalkan tempat acara. Walau ... begitu mereka duduk di dalam mobil, maka jarak di antara keduanya kembali terlihat jelas. Baik, Daniel atau Livia bahkan terlihat duduk di dekat pintu, tanpa mau bertegur sapa sama sekali.
Danis yang melihat situasi itu hanya bisa geleng-geleng kepala, dia tidak menyangka jika Daniel dan Livia memiliki bakat terpendam yaitu bermain peran di depan umum. Sepanjang jalan, tidak ada yang berani bersuara apa lagi ketika Daniel terlihat menutup mata dan Livia yang membuang pandangannya ke luar jendela. Danis yang biasanya cerewet pun, tampak terdiam dan fokus pada jalanan di depanya
Beberapa saat berkendara Danis akhirnya berhasil menghentikan mobilnya di depan rumah besar kediaman Hartoyo. Tanpa menunggu Livia dan Danis, Daniel langsung ke luar dari mobil, laki-laki itu tampak berjalan dengan langkah gontai.
"Makasih." Livia berucap sebelum turun dari mobil, dia kemudian melangkah masuk ke dalam rumah, dengan sepatu hak tinggi yang dia tenteng di tangan, karena kakinya yang sudah lecet akibat tidak terbiasa memakai sepatu seperti itu.
Kedua alis Danis tampak bertaut ketika melihat Livia yang berjalan tanpa alas kaki, dia juga bisa melihat dengan jelas warna kemerahan di kaki bagian belakang Livia, akibat bekas gesekan antara kulit dan sepatu. Danis menghembuskan napas pelan, untuk pertama kalinya dia merasa iba pada Livia.
.
__ADS_1
Livia menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya sambil melangkah ke dalam rumah.
"Udah jam sebelas, Mami udah tidur belum, ya?" gumam Livia sambil terus melangakhkan kakinya menuju kamar mertuanya itu.
Sore tadi dia tidak tahu Mami Livia makan apa dan tidur jam berapa, itu semua membuat dirinya sedikit gelisah. Livia memberanikan diri untuk mendatangi kamar wanita yang kini sudah menjadi mertuanya itu. Entah kenapa, Livia tidak bisa mengacuhkan wanita yang telah membantunya untuk masuk ke dalam keluarga ini. Di dalam keluarga Hartoyo, hanya Luci yang membuatnya tidak bisa berpaling, mengingat ketulusan dan kepercayaan yang selalu wanita itu berikan untuknya.
"Mami, Livia masuk ya?" ujarnya dengan suara pelan, meminta izin dulu, walau mungkin tidak akan terdengar.
Pintu kamar Mami Luci memang tidak pernah dikunci jika malam, hingga Livia dengan mudah masuk ke ruangan pribadi mertuanya itu. Dalam suasana temaram, Livia melihat Mami Luci yang sudah terlelap di atas ranjang. Senyum tipis terbit, ketika dia melihat wajah tenang Mami Luci, perlahan dia menarik selimut yang menutupi tubuh wanita itu dengan sangat lembut hingga dada. Livia bahkan memeriksa air minum yang selalu tersedia di nakas, memastikan jika itu sudah terisi, hingga Mami Luci tidak akan kesulitan jika ingin minum malam-malam.
"Selamat tidur, Mami, semoga Mami mimpi indah. Maaf aku gak bisa nemenin Mami tadi sore," gumamnya sebelum kemudian berbalik dan pergi dari kamar mertuanya itu.
Namun, tanpa Livia tahu, ketika dia menutup pintu dengan rapat, Mami Luci terlihat membuka mata. Wanita paruh baya itu memang sudah bangun ketika mendengar pintu kamarnya terbuka, tetapi dia memutuskan untuk tetap berpura-pura tidur dan ingin mengetahui siapa yang datang ke kamarnya malam-malam begini. Hembusan napas berat terdengar, dengan mata yang terus melihat ke arah pintu, seolah dia bisa melihat Livia di sana.
__ADS_1
Apa aku sudah berburuk sangka padanya? Sudah jelas selama ini dia mengurusku dengan baik, bahkan ketika dia sedang lelah pun, Livia masih sempat melihat kondisiku dulu, batin Mami Luci yang kini merasa bersalah karena sudah berburuk sangka pada Livia.
Mungkin saja Livia membeli barang-barang itu dari hasil dia bekerja di luar negeri, mengingat Livia adalah seorang yatim piatu, jadi dia tidak memiliki beban atau siapa pun untuk berbagi uang yang dia hasilkan sendiri. Ya, untuk sekarang Mami Luci hanya berpikir sampai ke sana saja, karena tidak ada gunanya mencurigai wanita yang jelas-jelas begitu baik seperti Livia.