
Daniel menggeliatkan tubuhnya, ketika tidurnya terganggu oleh cahaya matahari yang terasa jatuh tepat di wajahnya. Dia membalik badannya menjadi miring ke tengah ranjang sambil mulai mengerjapkan matanya.
Keningnya mengernyit ketika ingatan tentang kejadian malam tadi kembali berputar di kepalanya, dengan cepat Daniel mmebuka mata dengan jantung yang berdebar begitu kencang. Dia melihat ke depannya yang ternyata sudah tidak ada siapa pun di sana.
"Livia?" panggil Daniel sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar hotel yang tampak lebih kecil dari luas kamarnya sendiri.
Tidak ada siapa pun. Daniel perlahan beranjak duduk dan mengedarkan pandangannya sekali lagi, memastikan jika memang tidak ada Livia di sana. Dia kemudian melihat tubuhnya sendiri yang masih dalam keadaan tak memakai apa pun.
Daniel mengangkat kepalanya cepat dengan wajah terkejut dan mata melotot. "Berarti itu semua bukan mimpi? Aku benar-benar melakukannya dengan Livia?"
"Mungkin dia sedang ke luar," ujarnya lagi sambil tersenyum tipis dengan wajah yang merona ketika mengingat itu semua.
Tiba-tiba saja Daniel merasa tergelitik seperti ada banyak kupu-kupu di dalam perutnya hingga dia tidak sanggup untuk menahan diri agar tidak terkekeh kecil. Akhirnya setelah sekian lama, hubungannya dan Livia memasuki fase baru. Sungguh, hatinya sangat berbunga karena semua ini.
"Aku harus berterima kasih pada orang yang memberiku obat itu, karenanya aku bisa memiliki kamu, Livia," ujarnya lagi tanpa menghilangkan senyum di wajahnya.
Dia kemudian beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Pagi menjelag siang ini, tubuhnya teras sangat bersemangat hingga dirinya sendiri tidak bisa menghentikan ledakan di dalam dadanya, seolah ada kembang api di sana.
Beberapa saat kemudian Daniel tampak ke luar dari kamar mandi dengan wajah berseri dan tampak lebih segar dari sebelumnyan. Dia kemudian mencari letak baju gantinya, hingga dia menghentikan pandanganya pada lipatan baju yang berada di atas meja.
Daniel tersenyum sambil berjalan menuju meja itu kemudian mulai memakai baju ganti yang pasti sudah disiapkan oleh Livia sebelumnya. Namun, pergerakannya terhenti ketika dia mengambil dasi yang sudah diikat longgar untuk memudahkannya memakai.
Tiba-tiba saja perasaan Daniel menjadi resah, apa lagi saat melihat sebuah map berwarna biru yang menjadi alas dasi tersebut. Daniel menaruh Dasi itu kemudian memilih untuk mengambil mapnya lebih dulu.
"Apa ini?" gumamnya sambil duduk di kursi kemudian mulai membuka map berwarna biru itu dan membaca isi di dalamnya.
__ADS_1
Sedetik kemudian mata Daniel melebar dengan jantung yang seakan berhenti berdebar. Tangannya bahkan bergetar dengan mata memarah. Tiba-tiba saja tenggorokannya terasa sangat perih dan sesak seolah sedang tercekik sesuatu hingga untuk membuka suara saja terasa sangat sulit.
"S--surat cerai?" gumamanya dengan satu tetes air mata yang menetes begitu saja, membasahi pipinya.
"I--ini gak mungkin. I--ini semua pasti hanya rencananya untuk mengerjaiku. Iya, dia hanya sedang mengerjaiku," ujar Daniel sambil menggelengkan kepala, mencoba menyangkal prasangka buruk yang ada di dalam hatinya.
Ting!
Suara pesan masuk di ponselnya tiba-tiba mengalihkan perhantinnya, dia langsung mengambil ponsel di atas meja tanpa melepaskan map di tangannya.
Livia: [Sesuai perjanjian tadi malam, kamu harus mengabulkan semua permintaanku. Selamat tinggal, Daniel]
"A--apa ini? Ini semua gak bisa terjadi, aku gak akan melepaskan kamu lagi, Livia," ujar Daniel sambil mencoba menghubungi Livia. Namun, ternyata nomor telepon Livia sudah tidak bisa dihubungi lagi.
Jika saja Daniel tahu permintaan Livia adalah sebuah perceraian, dia tidak akan pernah mengikuti permainan Livia. Daniel lebih rela jika dirinya harus tersiksa sepanjang malam daripada harus berpisah dengan istrinya.
...❤️🔥...
Sementara itu, di tempat lain, Danis yang baru saja bersiap untuk berangkat ke kantor, dikejutkan oleh berita tentang perselingkuhan Daniel. Dalam berita itu disertakan beberapa foto ketika Daniel berada di hotel tadi malam dan ada juga foto Livia dengan dandanan berbeda yang masuk menyusul Daniel ke kamar.
"Apa ini? Bukannya Livia sudah mengurus semuanya? Kenapa sekarang berita ini sampai beredar?" gumam Danis dengan wajah bingung sekaligus marah.
Berita buruk seperti ini kembali bisa membuat kondisi perusahaan tidak stabil. Pagi itu, Danis langsung menghubungi beberapa pihak media yang menyebarkan berita tak berdasar dan memberikan klarifikasi, lalu menyuruh mereka menarik segera apa yang sedang beredar.
Akibat dari berita tidak benar itu, kini Danis kembali disibukan dengan telepon dari berbagai pihak yang ingin mencari tahu kebenaran tentang berita itu.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan Livia bekerja sama dengan Julio, untuk melakukan semua ini pada Daniel? Tapi--" Danis tampak mulai menerka-nerka, apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
...❤️🔥...
Setelah menenangkan diri, Daniel segera pergi ke luar dari hotel, dia sama sekali belum sadar dengan berita yang beredar tentang dirinya, hingga ketika dirinya berada di dalam taksi untuk pulang dan mencari keberadaan Livia, dirinya mendapatkan beberapa pesan tentang berita dirinya yang sedang banyak dibicarakan.
Daniel terdiam dengan tubuh lemas dan tangan bergetar, matanya tampak semakin tidak fokus, laki-laki itu menghembuskan napas kasar sambil tersenyum miris. Mungkin, sekarang, dia mengerti apa yang sebenarnya terjadi, walau hatinya tetap menolak pemikiran yang telrintas di kepalanya tentang Livia.
"Tidak, ini pasti adalah bagian dari rencana Livia untuk menangkap Julio," gumam Daniel sambil meminta kembali ke hotel.
Daniel mencoba meminta izin untuk melihat CCTV hotel agar dirinya bisa membuktikan semua berita itu tidaklah benar. Namun, itu tidak mudah, dia harus melakukan negosiasi yang cukup alot dengan pihak hotel, hingga akhirnya menjelang siang Daniel berhasil melihat CCTV di depan kamarnya. Sayang sekali, ada beberapa video yang sepertinya memang sengaja dihilangkan, itu termasuk video ketika dirinya dan Livia masuk ke kamar hotel.
Semuanya seolah sudah dibersihkan hingga tidak ada jejak Livia sama sekali di sana, dia bahkan tidak melihat Livia masuk ke dalam hotel.
Aku tidak mungkin salah mengenali orang, jelas sekali jika yang datang ke kamarku semalam adalah Livia, gumam Daniel dalam hati. Dia mulai ragu dengan keyakinannya, mengingat dirinya yang sedang terpengaruh oleh obat.
Kerutan di kening laki-laki itu tampak dalam, dia semakin dibuat bingung dengan yang terjadi saat ini. Hingga akhirnya dia ingat untuk menghubungi adiknya dan menanyakan keberadaan Livia di rumah sekaligus memastikan wanita yang datang ke kamarnya tadi malam.
"Livia belum pulang, Kak. Aku pikir dia masih bersama dengan Kakak," jawab Danis dari seberang sambungan telepon.
"Dia sudah tidak ada ketika aku bangun, Danis. Tolong bantu aku cari Livia, aku mau tau di mana dia sekarang." Daniel langsung pergi dari hotel untuk mencari keberadaan Livia.
"Tapi, berita ini juga harus segera kita selesaikan, Kak. Kalau tidak, bisa berdampak buruk untuk perusahaan," jelas Danis.
"Aku tidak peduli, Danis! Abaikan berita tidak penting itu dan cari keberadaan Livia secepatnya!" sentak Daniel yang sudah terlanjur tak bisa mengatur emosinya lagi.
__ADS_1
Daniel bahkan belum makan apa pun sejak pagi, dia terlalu terkejut dengan semua ini hingga kini napsu makannya menghilang begitu saja.
"Kamu boleh melakukan apa pun padaku, Livia. Aku tidak akan menghalanginya, tapi aku mohon, jangan tinggalkan aku," gumam Daniel dengan mata yang memerah.