Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.68 Mencari


__ADS_3

Livia tampak sedang berdiri tegak dengan tatapan lurus, di luar sana terlihat hiruk pikuk kota yang bahkan tak pernah dilirik oleh wanita itu. Dia baru saja datang ke apartemen miliknya sekitar satu jam yang lalu setelah pergi meninggalkan Daniel di hotel.


Wajahnya masih tampak datar dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Livia menghembuskan napasnya pelan, sambil sedikit menundukkan kepala. Entah apa yang kini wanita itu pikirkan dan rasakan setelah semua yang dia lakukan pada Daniel sebagai perwujudan dari dendamnya selama ini.


"Kamu yakin melakukan ini semua, Via?" tanya laki-laki yang kini tampak menghampirinya dan berdiri beberapa meter di belakang Livia.


"Aku sudah berjanji pada mendiang semua keluargaku, kalau aku akan membuat mereka meraskan apa yang dulu kami rasakan, Dad," jawab Livia tanpa mengalihkan pandangannya.


Andrew tampak mengangguk samar, sambil menghela napas pelan. Dia memang tidak bisa merubah apa yang sudah menjadi keputusan anak angkatnya itu, apa lagi Livia sudah menunggu lama untuk mewujudkan keinginanya selama hidup.


Namun, setelah dia mengamati hubungan Livia dan Daniel, Andrew menemukan sesuatu yang memebuatnya khawatir dengan keputusan anak angkatnya saat ini. Dia meraskana jika hibungan antara Livia dan Daniel telah memiliki ikatan khusus. Itu bukan hanya sekedar karena dendam, tetapi ada rasa lainnya yang terlihat jelas di mata Livia untuk Daniel.


Apa lagi setelah Andrew sudah mengetahui yang sebenarnya terjadi malam itu. Daniel, tidak ada hubungannya dengan pembantaian di keluarga Livia, seperti keyakinan Livia selama ini. Walau dia juga tak menyangkal jika semua itu berhubungan dengan ayah dan kakek Daniel.


"Ini belum apa-apa dibandingkan dengan apa yang mereka sudah lakukan padaku, Dad. Harusnya mereka bersyukur karena aku tidak membunuh mereka semua, sama seperti apa yang sudah mereka lakukan pada keluargaku," sambung Livia lagi dengan tangan mengepal erat dan mata memerah. Amarahnya kembali memuncak ketika mengingat bagaimana seluruh keluarganya harus meregang nyawa hanya karena persaingan bisnis.


"Via--"


"Dad!" Livia langsung memotong perkataan Andrew sambil membalikan badan, dia menatap ayah angkatnya itu dengan raut wajah yang tampak kalut. Walau begitu, sedetik kemudian Livia langsung menundukkan kepala, sambil berkata dengan nada lirih dan penuh penyesalan. "Sorry, Dad."


Andrew tampak tersenyum tipis kemudian mulai melangkahkan kakinya menghampiri anak perempuannya. Tangannya terangkat kemudian membawa tubuh Livia perlahan ke dalam pelukannya. Dia tahu, walaupun selama ini Livia selalu telihat kuat seolah tidak membutuhkan sandaran, tetapi Andrew tahu, sebagai seorang wanita dan anak, Livia tidaklah sekuat yang terlihat, dia tetap membutuhkan seseorang untuk mendampinginya dan tempat bersandar.

__ADS_1


Livia langsung menghambur pada tubuh ayah angkatnya itu, hanya kepada Andrew Livia bisa menjadi seorang anak seutuhnya yang bisa mengadu dan mencurahkan semua keluh kesahnya. Namun, dirinya memang jarang berbicara apa yang dirinya rasakan pada siapa pun, termasuk pada Nadrew dan Agra.


"It's okay. Daddy tahu ini semua juga sulit untuk kamu, my daughter," ujarnya sambil mengelus pelan puncak kepala Livia.


Bukan hal mudah, bertahan hidup demi sebuah dendam. Bahkan untuk seorang laki-laki yang dia didik menjadi sosok yang kejam seperti Agra saja, sangat sulit untuk melakukan itu. Apa lagi bagi seorang wanita seperti Livia. Sekuat apa pun dia mencoba mengobati rasa sakit yang terlanjur tertanam dan mengkar di dalam hatinya, Andrew tetap kalah. Kalah oleh kebencian dan dendam dari anak-anak angkatnya.


Jujur saja, sebenarnya setelah dia melihat Agra saat baru saja menyelesaikan dendamnya, ada rasa bersalah di dalam hatinya karena telah membantu Agra membalas dendam pada sahabatnya sendiri, tetapi semuanya sudah terlambat. Kini semuanya terjadi lagi, Livia bahkan terlihat lebih parah, karena terjebak oleh rasa benci dan cinta yang menyatu di dalam hatinya.


Sebagai seorang ayah, Andrew angkat merasa gagal mendidik kedua anak angkatnya. Mereka memang fisik lebih kuat dan kesuksesan yang menakjubkan, juga kenyamana dalam hidupnya dari saat pertama kali bertemu dengannya, tetapi dia gagal mendidik mereka kedamaian dalam hati, hingga tidak ada dari mereka yang melupakan dendam masa lalu.


Livia memeluk erat tubuh laki-laki yang sudah tidak muda lagi itu, dia menutup wajahnya menggunkan dada Andew untuk meredam tangis yang tiba-tiba saja tidak bisa dia tahan lagi. Entah kenapa, dia meraskan sesak dan ikut sakit setiap kali dia berusaha melukai Daniel.


Namun, kali ini Livia tidak bisa menunda lebih lama lagi, atau mungkin ke depannya dia tidak akan pernah sanggup melakukan ini semua. Livia bukan wanita bodoh yang tidak tahu apa yang terjadi pada hatinya untuk Daniel, karena itu juga dia terus berusaha menyangkal perasaan itu.


"Dad, ayo kita segera selesaikan semua ini, dan kembali ke rumah. Aku ingin ke luar dari negara ini," ujar Livia dengan suara parau.


Andrew menundukkan kepala menatap wajah sembab Livia yang juga kini tengah mendongak untuk menatapnya. Laki-laki itu tersenyum teduh, dia kemudian mengangguk sambil menghapus sisa air mata yang masih basah di pipi anak perempuannya.


"Kalau itu sudah menjadi keputusan kamu, Daddy hanya bisa membantu," jawab Andrew.


Daddy harap semua ini tidak akan membuat kamu menyesal dan semakin menyakiti dirimu sendiri, Via, lanjut Andrew dalam hatinya.

__ADS_1


Livia tersenyum haru, ayah angkatnya memang tidak pernah mengecewakannya. "Terima kasih, Daddy. I love you so much."


"I love you too, My Daugther," jawab Andrew sambil kembali memeluk Livia dengan penuh kasih sayang.


...❤️‍🔥...


Sementara itu, Daniel mencoba terus mencari keberadaan Livia ke segala tempat yang mungkin ada Livia di sana. Keterbatasan pengetahuan dirinya tentang Livia membuat Daniel merasa lebih sulit untuk mengetahui ke mana wanita itu pergi.


Namun semua itu tak menyurutkan semangat Daniel untuk menemukan Livia.


"Selama ini Livia tiidak pernah pergi ke mana pun. Gimana kalau ternyata di dalam bahaya?" ujar Mami Luci dengan wajah yang panik.


Dia menyadari jika ada sesutu yang salah dalam hubungan Daniel dan Livia, apa lagi sampai malam begini Livia tidak pulang ke rumah atau bahkan meneleponnya untuk memberi kabar. Menantunya itu bagaikan menghilang tanpa jejak.


Sementara itu, Daniel dan Danis pun terlihat sibuk dengan tugasnya masing-masing. Daniel hanya pulang sebentar tadi pagi untuk mengambil mobil kemudian pergi lagi dan belum pulang sampai saat ini. Melihat dari raut wajah anaknya, Mami Luci tahu jika anaknya sedang mengalami masalah yang besar.


"Aku yakin dia ada di suatu tempat dan dalam keadaan baik-baik saja. Mami jangan terlalu khawatir, lebih baik Mami istirahat saja, aku akan mencari kak Daniel dulu," ujar Danis yang baru saja pulang dari kantor dan kini dia baru saja menerima beberapa pertanyaan dari ibunya tentang hubungan kakaknya dan Livia.


"Livia itu perempuan, Danis. Mana mungkin dia bisa hidup di luar seorang diri. Cepat kamu bantu kakakmu untuk mencai Livia, Mami tidak akan tenang kalau Livia belum ditemukan." Mami Luci masih saja khawatir pada menantunya itu dan mendesak Danis.


"Iya, aku akan mencarinya, asal Mami mau istirahat dan menjaga kesehatan Mami. Aku janji akan langsung membawa Livia bertemu Mami kalau sampai bertemu dengannya." Danis akhirnya menyetujui untuk menemukan Livia walau dia masih kesal karena kakak iparnya itu telah menyebabkan masalah bagi mereka semua.

__ADS_1


Danis tidak menyangka jika Livia bahkan berani sampai meninggalkan Mami Luci seperti ini. Dia yakin jika Livia sudah merencanakan ini semua sejak lama, untuk membalas dendam kepada keluarganya. Namun, dia tidak menyangka jika Livia bahkan bisa menghilangkan bukti dan bekerja dengan sangat bersih.


"Mungkin aku harus kembali ke klub. Setiap kali aku dan Kak Daniel dapat masalah di klub, etah gimana dia bisa datang dengan tepat waktu. Pasti ada kenalannya di sana, atau mungkin informan yang selalau mengawasi kami untuknya," gumam Danis sambil mulai mengendarai mobilnya dan menghubungi Daniel yang sekarang entah sedang berada di mana.


__ADS_2