
Dengan terpaksa akhirnya Alya pun memakaikan kemeja suaminya, namun hatinya begitu kesal karena harus melakukan itu, dan Alya bertambah kesal lagi karena suaminya itu hanya berdiri mematung tanpa menggerakkan tangannya.
"Bagaimana aku bisa memasangkan kemeja kak David, kalau kakak saja hanya diam seperti itu, angkat sebelah tangan kak David" kata Alya, dan lelaki itu sama sekali tidak menggubris ucapannya, malah menautkan kedua tangannya ke belakang.
"Kau tau kan bagaimana cara memakaikan baju pada bayi, seperti itulah kau harus memasangkan kemeja ku" kata David, ia menarik sudut bibirnya mengembangkan senyum puas melihat wajah yang sering di katainya jelek itu terlihat kesal karena ulahnya.
Alya pun mengangkat sebelah tangan kekar itu lalu memasukkan nya ke lubang lengan kemejanya, sampai kemeja itu sudah terpasang di tubuh atletis itu dan hanya tinggal memasang kancing nya saja.
"Sudah" kata Alya, ia mundur berdiri di tempatnya semula.
"Sudah apanya? Kau tidak lihat ini kancing nya belum terpasang" Lelaki itu berkacak pinggang dan matanya melirik ke arah kancing kemeja yang belum terpasang, lalu menatap Istrinya sebagai perintah untuk memasangnya.
"Aku sudah memasangkan kemeja kakak, dan kak David hanya tinggal memasang kancing nya saja" kata Alya, ia langsung menatap kearah lain karena sudah terlalu jengah dengan suasananya.
"Kalau mengerjakan sesuatu itu jangan tanggung-tanggung, cepat selesai kan dan pasang kancing nya atau aku tidak akan mengizinkan mu pergi menemui kekasihmu itu" sergah David.
Alya benar-benar muak dengan perkataan lelaki itu, menuduh yang tidak sebenarnya. Namun Alya mendiamkan nya saja, tak perduli dengan pemikiran lelaki itu tentang nya.
Dengan malas Alya pun kembali melangkah mendekati suaminya, lalu kedua tangannya terulur memasangkan kancing kemeja sang suami, suami yang dulu begitu ia cintai bahkan sejak ia masih remaja. Namun cintanya itu telah memudar saat ia mengetahui bahwa Suaminya itulah dalang dibalik penculikannya bersama kekasih yang juga sekertaris nya dan begitu tega membuang dirinya ke tengah hutan di luar kota.
Alya memasangkan kancing kemeja suaminya dengan menundukkan kepala, meski cinta untuk suaminya sudah memudar namun entah mengapa jantung masih berdegup kencang saat jarak nya saat ini begitu dekat dengan suaminya itu.
"Apa ini Alya, kenapa kau masih merasa deg-degan saat berdekatan dengannya. Sadar Alya, dia memang suamimu tapi dia tidak pernah menganggap mu sebagai istrinya. Dia sudah mempunyai kekasih sebelum kau menjadi istrinya" ucap Alya dalam hati, berbicara pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Sementara David, ia tersenyum sinis merasa puas bisa mengerjai istri jeleknya itu. Namun senyum sinis itu menghilang begitu saja saat ponselnya yang berada di atas nakas berdering, yah David tau pasti itu dari Lestari, kekasihnya.
Alya memasangkan kancing kemeja suaminya mulai dari bawah dan menyisahkan satu kancing lagi dibagian leher, dan aktivitas nya itu ikut terhenti saat ponsel suaminya berdering.
"Kak David ponselmu berdering, di angkat dulu" kata Alya menegur suaminya yang terlihat seperti tidak mendengar apa-apa.
"Yah aku dengar, biarkan saja kau selesaikan saja pekerjaan mu" kata David.
Alya pun menurut dan kembali mengulurkan kedua tangannya untuk memasang kancing terakhir yaitu dibagian leher. Lagi-lagi jantungnya berdegup kencang saat wajahnya begitu dekat dengan wajah suaminya.
Dengan tak berperasaan, David mengangkat sebelah tangannya lalu membawa jari telunjuknya menelusuri garis-garis bekas luka diwajah Istrinya itu.
"Wajah mu ini seperti papan ular tangga, banyak garis-garis seperti ular" dan David pun memainkan jari telunjuknya diwajah itu seperti pion. "Yah ada ular, cussss turun deh" sama seperti saat bermain ular tangga, saat pion berhenti tepat di kepala ular lalu pion itupun akan kembali turun kebawah, seperti itulah David memainkan jari telunjuknya diwajah Istrinya itu dan berhenti tepat dibibir ranumnya.
Sementara si pemilik wajah hanya berdiam diri hingga menyelesaikan tugasnya memasangkan kancing kemeja suaminya, Alya pun memundurkan langkahnya.
"Eh tunggu dul.....
Drttt drttt drttt 🎶🎶🎶 Ponsel David berdering, ia pun tidak jadi meneruskan kalimatnya yang akan menyuruh Alya lagi untuk memasangkan dasi nya.
David melihat ponselnya, dan ternyata itu adalah Lestari yang menelpon. Lelaki itupun mendengus kesal, sementara Alya ia langsung pergi dari kamar itu tanpa menunggu izin dari si empunya kamar, Alya tau itu pasti adalah telepon dari kekasih suaminya, maka dari itu lebih baik Suaminya itu memarahinya karena pergi tanpa izin daripada ia harus mendengarkan percakapan suaminya dengan kekasihnya itu.
David pun mengangkat telpon itu dengan kesal apalagi melihat Alya yang pergi begitu saja dari kamarnya, lelaki itupun mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Ya ada apa Lestari?" tanyanya, lalu ia melangkah menuju lemari dan mengambil dasi nya dari dalam sana.
•••••
Tiba lah David di perusahaannya, dan seperti biasa Lestari yang berprofesi sebagai sekertaris nya itu jika diperusahan sudah menunggunya di lobi. David tersenyum simpul pada kekasihnya itu lalu melangkah menuju ruangan nya dan Lestari pun mengikuti dibelakangnya.
Didalam ruangannya David langsung menuju kursi kebesarannya lalu duduk disana, ia melupakana kebiasaannya melepas jas dan memberikan pada Lestari.
"Sayang kamu kok semalam gak bales pesan aku, telpon aku juga kamu gak angkat" kata Lestari, ia bergelayut manja dileher kekasihnya itu.
"Maaf sayang, semalam aku ketiduran" Dusta nya, lelaki itupun tersenyum, namun senyumnya itu berbeda dari biasanya.
"Oh aku kira kamu tidak membalas pesan ku karena kau sedang..... bersama istrimu itu" Lestari tersenyum mengejek.
"Apa maksudmu sayang? jangan menuduhku seperti itu"
"Aku kira kau sudah jatuh hati pada istrimu itu makanya kau tidak membalas pesan ku"
"Aku kan sudah bilang tadi, kalau semalam aku ketiduran" ucap David, nada suaranya meninggi karena tidak terima dengan tuduhan kekasihnya itu.
"Hei kenapa kau marah sayang, kalau itu tidak benar kau tidak perlu marah bukan?" Lestari memainkan jari-jarinya pada wajah kekasihnya itu.
"Karena kau menuduhku, aku tidak terima itu" David membawa tubuh Lestari duduk di atas pangkuannya. "Dengarkan aku, Lestari. Hanya kau satu-satunya wanita yang aku cintai, jadi jangan pernah menuduhku yang macam-macam lagi, apalagi dengan wanita jelek itu" kata David meyakinkan Lestari, tapi entah kenapa ia merasa lain saat mengatakan itu, padahal bukan sekali ia mengatakan cinta pada kekasihnya itu.
__ADS_1
Lestari tertawa mendengar kalimat yang bukan sekali diucapkan oleh David padanya, namun Lestari juga merasakan ada yang berbeda dengan sikap kekasihnya itu saat ini, namun Lestari juga tidak begitu tau apa.
Sementara Alya, ia sudah sampai didepan kantor cabang yang didirikan oleh Kevin dikota nya. Alya ingin menemui Kevin dan memperlihatkan kan hasil pemakaian cream penghilang bekas luka diwajahnya selama seminggu ini.