
"Reno...tolong, aw...
Lestari yang hendak mandi, tiba-tiba saja merasakan nyeri yang luar biasa pada perutnya, tubuhnya pun roboh didepan pintu kamar mandi karena saking sakitnya.
Reno yang berada di ruang tamu, langsung berlari menuju kamarnya mendengar suara teriakan Lestari dari dalam kamar.
"Lestari, astaga kamu kenapa?" Reno terkejut mendapati Lestari yang sudah meringkuk di lantai memegangi perutnya. Reno pun mengangkat tubuh Lestari, kemudian membaringkan nya di atas ranjang.
"Ya ampun Lestari kamu kenapa? muka kamu pucat sekali" Reno panik, dia menyentuh pipi Lestari yang memucat, beserta tangannya yang terasa dingin.
"Aku tidak tau, Reno. Tiba-tiba saja perutku sakit sekali" Lestari terus meringis menahan sakit di perutnya.
"Kalau begitu aku akan membawamu kerumah sakit" Reno menggendong Lestari menuju mobilnya.
Sesampainya dirumah sakit, Reno berteriak memanggil perawat dan tak lama datanglah dua orang perawat dengan membawa brankar. Lestari pun dibawa oleh dua perawat itu keruangan UGD untuk diperiksa lebih lanjut oleh dokter.
"Dokter bagaimana keadaan istri saya? kenapa dia bisa tiba-tiba sakit perut seperti itu, padahal sebelumnya dia tidak apa-apa" Saat ini Reno tengah berada diruangan dokter.
Sementara dokter, dia dengan ekpresi datarnya menatap Reno, kemudian membuka amplop yang baru saja dibawakan oleh petugas Lab.
Setelah melihat lembaran kertas yang tertera hasil pemeriksaan Lestari, dokter itu menghela nafasnya, kemudian meletakkan lembaran kertas itu di hadapan Reno.
"Istri Pak Reno terkena kanker rahim" ucap dokter itu dengan berat hati mengatakan pada Reno.
"Apa??? " Reno terkejut, dengan cepat dia mengambil lembaran hasil tes Lab yang berada di hadapan nya, kemudian menatap dokter dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Dokter, apakah istri saya masih bisa disembuhkan?"
"Bisa, dengan menjalani operasi pengangkatan rahim, Pak" kata dokter, dan itu membuat Reno lemas seketika, tubuhnya sudah berasa seperti tak bertulang.
Reno keluar dari ruangan dokter, dengan langkah gontai dia berjalan menuju ruangan dimana saat ini Lestari dirawat. Mengetahui Lestari sakit dan harus menjalani operasi pengangkatan rahim, membuat Reno juga merasa sakit, padahal baru 3 bulan yang lalu dia merasakan bahagia menikahi wanita ibu dari anaknya itu, dan sekarang dia harus menghadapi kenyataan kalau istrinya itu tiba-tiba terkena penyakit yang bisa saja merenggut nyawanya.
Di buka nya pintu ruangan perawatan Lestari, diatas ranjang sana istrinya terbaring lemah dengan mata terpejam serta selang infus yang tertancap ditangan kirinya.
Reno berjalan dengan pelan memasuki ruangan itu seakan dia tidak ingin istrinya itu terganggu oleh derap langkah kakinya.
__ADS_1
Di pandangnya wajah yang pucat itu, sangat berbeda saat hari biasanya Lestari selalu tampil mempesona dengan riasan diwajahnya. Dan kini bahkan si empunya wajah seakan tak berdaya hanya sekedar memoles pewarna dibibirnya.
Disentuhnya wajah pucat Lestari, tak terasa airnya matanya pun luruh mengalir di kedua pipinya melihat wanita yang baru 3 bulan lalu dia nikahi terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
"Kamu harus sembuh, Lestari. Aku tidak perduli bagaimanapun caranya, kamu harus sembuh!"
Air matanya semakin deras membasahi pipi, kala dia mengingat percakapannya dengan Lestari tempo hari.
'Sudah tiga bulan kita menikah, tapi kok aku belum hamil juga ya?'
'Sabar, mungkin memang belum waktunya. Kenapa jadi kamu yang tidak sabaran, seharusnya kan aku'
Lestari terkekeh, yang dikatakan Reno benar juga, seharusnya Reno yang berkata seperti itu.
'Apa kamu ingin punya anak lagi? kita kan sudah punya Aditya' kata Reno.
'Aditya sudah besar, gak lucu kalau aku cium-cium dia sambil cubit pipinya, yang ada Aditya bakalan marah, hehehe'
'Iya kamu benar juga, gak terasa ya Aditya sudah besar. Seandainya aku tidak dipenjara, pasti aku juga bisa melihat pertumbuhannya'
'Iya, semoga di perut kamu segera tumbuh adiknya Aditya' Reno mengusap perut istrinya, berharap akan segera hadir buah hati mereka yang kedua.
Mengingat percakapannya dengan Lestari tempo hari membuat Reno menangis sesenggukan. Bukannya buah hati mereka yang tumbuh di dalam perut Lestari, tapi malah sebuah penyakit yang malah akan memusnahkan harapan mereka untuk memiliki anak lagi.
Reno menangis, dia menundukkan kepalanya menggenggam erat tangan Lestari. Hingga saat dia merasakan gerakan jari-jari tangan Lestari membuatnya segera mengangkat kepalanya, kemudian mengusap air matanya.
Mata Lestari terbuka, yang pertama kali dia lihat adalah wajah suaminya yang tampak lusuh, Lestari tau kalau suaminya itu sehabis menangis.
"Kenapa kamu menangis, Reno?"
Reno menggeleng pelan, dia berusaha tersenyum walaupun sebenarnya hatinya masih terasa sakit akan penyakit yang diderita istrinya sekarang.
"Nggak apa-apa, Lestari. Bagaimana perasaan kamu sekarang, apakah masih sakit?" Reno mengusap perut istrinya.
"Masih sedikit sakit, tapi sudah terasa mendingan tidak seperti tadi. Aku kenapa Reno, aku sakit apa?"
__ADS_1
Mendapat pertayaan seperti itu dari Lestari, Reno mengedip ngedipkan matanya sembari menatap langit-langit ruangan itu agar air matanya tak kembali jatuh.
"Reno, aku kenapa?" tanya Lestari lagi, karena suaminya itu tak kunjung menjawab pertanyaannya.
Reno menghela nafasnya yang terasa sesak, dengan tangannya yang gemeter dia meraih tangan Lestari kedalam genggamannya, saling menguatkan dengan keadaan yang mereka hadapi saat ini.
"Lestari, apapun yang akan kamu dengar, berjanjilah untuk tetap kuat"
"Kamu tuh kenapa sih? kayak aku udah mau mati aja. Aku tuh cuma sakit perut biasa, Reno"
Lestari terkekeh, dia merasa lucu melihat tampang menyedihkan suaminya.
"Kamu terkena kanker rahim, Lestari. Dan dokter akan melakukan pengangkatan rahim" ucap Reno sendu. Dia sendiri saja merasa sakit mengatakannya, lalu bagaimana dengan istrinya yang mendengarkan?
Deg... Dunia Lestari seakan berubah dalam sekejap. Dia menggeleng gelengkan kepalanya, berharap apa yang didengarnya barusan, adalah salah.
"Kamu bohong kan Reno? itu gak mungkin! Rahim ku baik-baik saja, aku hanya sakit perut biasa, kamu berbohong Reno, kamu pasti bohong!" hatinya hancur mendengar kenyataan pahit itu, padahal baru beberapa hari yang lalu dia membahas masalah anak dengan Reno, dan sekarang dia malah mendapat kenyataan yang membuat harapannya itu sirna, dan nanti tidak akan ada lagi janin yang akan tumbuh didalam perutnya.
"Kamu harus kuat, Lestari. Kamu harus kuat demi aku dan Aditya" Reno memeluk erat tubuh Lestari yang bergetar, kedua sama-sama merasakan sakitnya direnggut paksa dari sebuah harapan yang sudah mereka impikan.
Perlahan suara tangisan Lestari mereda berganti kan dengan isakan pilu, tapi bukan berarti dia ikhlas dengan apa yang terjadi sekarang.
Tiba-tiba saja bayangan wajah David terlintas di benaknya.
"Apakah ini karma untukku?" lirih nya.
.
.
.
Bantu ramaikan yukπππ
__ADS_1