Dendam Istri Yang Tak Dianggap

Dendam Istri Yang Tak Dianggap
BAB 50


__ADS_3

"Ya ampun Ma, kenapa kita bodoh begini sampai melupakan desa orangtuanya Alya" Tyson menepuk jidatnya sendiri.


"Iya ya Pa, kenapa kita bisa sampai lupa kalau kita pernah memberitahu Alya tentang desa itu dan nek Minah" Herlina pun menatap suaminya juga dengan menepuk jidatnya.


"Jadi maksud Papa dan Mama, Alya sekarang berada di desa itu?" tanya David antusias.


Tyson dan Herlina menatap putranya sebentar, lalu kembali saling menatap tanpa menjawab pertanyaan putra mereka.


"Tapi Pa, kalau benar Alya pergi ke desa itu, kenapa nek Minah tidak memberitahu kita?" ucap Herlina.


"Mungkin saja dia sengaja Ma, dulu kan Papa sempat bertengkar dengan nek Minah memperebutkan untuk mengasuh Alya, bisa saja kan Alya datang kesana dan dia sengaja tidak memberitahu kita karena keinginannya sudah tercapai" ujar Tyson menerka-nerka.


"Pa, Ma beritahu aku dimana desa itu? akan kesana menjemput Alya" David yang sedari tadi diabaikan kembali bertanya.


Lagi, Tyson dan Herlina menatap putranya. "Besok kita akan kesana" ucap Tyson lalu beranjak dari duduknya hendak meninggalkan ruang makan namun David menahannya.


"Pa tunggu dulu, beri tau aku dimana desa itu? aku akan pergi kesana sekarang menjemput Alya, Pa"


"Tidak sekarang David, jangan gegabah dan turuti Papa, kita akan pergi bersama besok!" ujar Tyson tak ingin dibantah.


"Dan kau, masih ada hutang penjelasan soal kepergian Alya ini. Tidak mungkin dia tiba-tiba pergi tanpa ada sebab nya, selama ini Papa diam tidak menanyakan nya karena Papa tidak ingin menambah kacau suasana hatimu, tapi nanti kau harus menjelaskan nya langsung pada Papa dihadapan Alya nanti!" tekan Tyson, lalu meninggalkan ruangan itu dan disusul oleh istrinya meninggalkan David yang masih berdiri mematung ditempat nya, memikirkan jawaban soal pertanyaan Papa nya.


Yah, kepergian Alya, Tyson dan Herlina sama sekali tidak tahu apa penyebab nya, mereka menahan diri untuk tidak bertanya karena melihat putranya yang begitu kacau, dan David pun tidak pernah memberitahukan pada orangtuanya tentang kesalahpahaman Alya sebelum pergi, karena David hanya sibuk mencari istrinya dan lebih banyak mengurung diri didalam kamarnya saat pulang ke rumah.


Saat David ingin kembali ke kamarnya, ponselnya berdering dan menampilkan nama Kevin di layar ponselnya. David pun mengangkat panggilan telepon dari Kevin sambil melangkah menuju kamarnya.

__ADS_1


"Halo David" David hanya menjawabnya dengan deheman.


"Hmm"


Sementara diseberang sana, Kevin menatap jengah layar ponselnya hanya mendapat deheman dari orang yang di telepon nya.


"David, apa setidaknya kita minta bantuan pada polisi saja agar kita bisa cepat menemukan keberadaan Alya" usul Kevin.


"Ini sudah lebih sebulan kita mencari Alya, tapi tidak ada hasilnya bahkan kita juga sudah menyebar poster Alya ke berbagai tempat dengan hadiah yang sangat tinggi bagi siapapun yang menemukan Alya, tapi apa... " Kevin menjeda kalimat nya dengan helaan nafas panjang.


Sementara David kini sudah berada di dalam kamarnya, seperti bisanya sofa yang sudah seperti kasur empuk bagi Alya adalah tumpuan utama nya setiap kali memasuki kamarnya, semenjak Alya tidak ada. David menyunggingkan kan senyum mendengar dengan jelas helaan nafas Kevin disebrang sana, ternyata lelaki yang beberapa tahun lebih muda darinya itu juga sangat mengkhawatirkan istrinya yang sudah dianggap nya seperti adik sendiri. Walau awalnya David mengira Kevin dan Alya memiliki hubungan karena mereka begitu dekat, namun saat kejadian dikamar hotel waktu itu Kevin meminta David datang untuk membantu Alya yang saat itu berada dalam pengaruh obat perangs*ng, membuat David yakin jika kedekatan Kevin dan Alya tidak seperti yang dibayangkan nya. Padahal, Kevin bisa saja memanggilkan dokter untuk memberikan penawar pada Alya, bahkan jika Kevin mau ia bisa saja menggunakan kesempatan itu, namun yang dilakukan Kevin membuat David begitu bangga pada nya.


"Tidak Kevin, tidak perlu meminta bantuan polisi" ucap David dengan santai.


David tertawa pelan namun masih bisa didengar oleh Kevin, dan Kevin pun mengerutkan keningnya mendengar tawa David seolah tidak ada beban padahal ia melihat sendiri bagaimana frustasi David ditinggalkan oleh Alya.


"Ada apa ini David? apa kau sudah menyerah untuk mencari Alya? huh! hanya segini rupanya perjuangan mu, baiklah kalau begitu biar aku yang mencari Alya" Kevin kesal, ia hendak menutup sambungan telepon nya namun ia urungkan mendengar ucapan David disana.


"Apa kau mau ikut? besok kami akan pergi menjemput Alya"


"Apa? jadi kau sudah tau dimana Alya" Kevin yang kesal pun seketika mengembangkan senyum.


"Yah, dan besok kita akan pergi menjemputnya" ucap David yakin, padahal itu hanya baru perkiraan orang tuanya saja.


"Baiklah kalau begitu, besok aku akan ikut bersama kalian menjemput Alya" Kevin begitu semangat, ia tak kalah senang nya David mengatakan sudah mengetahui dimana Alya.

__ADS_1


Kevin pun langsung mematikan sambungan telepon nya, ia ingin segera tidur agar ia besok bangun pagi pagi supaya tidak ditinggalkan oleh David.


Sementara David berdecih, Kevin langsung mematikan sambungan telepon nya.


"Cihh, sebenarnya suaminya Alya itu siapa sih? aku atau dia, kenapa dia yang begitu semangat mau menjemput Alya.


"Dasar!"


David pun juga segera merebahkan tubuhnya di sofa yang sudah menjadi tempat tidurnya selama sebulan ini, ia juga ingin tidur agar bisa bangun esok lebih awal, ia akan mempersiapkan untuk menjemput Alya besok. Sebelum memejamkan matanya, David tersenyum senyum membayangkan ia bertemu Alya besok.


Besok ia akan menuntaskan kerinduannya pada istrinya itu, dan akan memberikan hukuman karena sudah berani pergi meninggalkan nya, sekaligus menjelaskan kesalahpahaman Alya padanya tentang apa yang sudah dilihat nya di apartemen waktu itu bersama Lestari.


Membayangkan istrinya itu, David benar-benar sudah tak sabar ingin mendekap erat Alya dalam pelukannya dan tidak akan membiarkan Alya pergi lagi darinya.


...


Pagi-pagi sekali Kevin sudah berada di kediaman Riccardo, ia tidak ingin ketinggalan untuk menjemput Alya.


Setelah semuanya sudah siap. David, Papa Tyson, Mama Herlina dan juga Kevin segera berangkat menuju tempat yang diyakini ada Alya disana.


David dan keduanya orangtuanya menggunakan satu mobil yang sama dengan Papa Tyson yang mengemudikan nya, karena Papa Tyson yang lebih tau tempat itu. Desa asal kedua orangtua Alya, Herman dan Melinda.


Sementara Kevin mengendarai mobilnya sendiri, sepanjang jalan senyum terukir diwajahnya karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan sosok wanita yang sudah dianggap nya seperti adiknya sendiri.


Namun tak lama, Kevin mengerutkan keningnya saat sudah memasuki area yang mereka tujuan.

__ADS_1


__ADS_2