Dendam Istri Yang Tak Dianggap

Dendam Istri Yang Tak Dianggap
BAB 42


__ADS_3

Hari ini tepat satu bulan sudah alya tinggal di desa asal orangtuanya, selama itu pula alya sudah banyak mengenal dan dekat dengan warga sekitlagi


Kini Alya pun sudah bekerja di pabrik juga mengolah rempah-rempah hasil dari tanaman desa itu sendiri, yang terletak di ujung desa. Dan rempah-rempah itu nantinya yang akan dikirim ke kota untuk di olah lagi menjadi berbagai macam obat-obatan herbal, tak jarang rempah-rempah itu juga dikirim ke luar kota karena saking banyaknya peminat.


Dan tempat Alya bekerja itu adalah milik keluarga Denis, Lelaki yang sebulan lalu bertemu Alya di pos ronda dan yang mengantarkan Alya ke rumah Nek Minah.


Denis pun senang karena Alya mau menerima tawarannya untuk bekerja di pabrik itu, dengan begitu Denis lebih mudah untuk bisa mendekati Alya. Namun itu semua tidak begitu ditanggapi oleh Alya, karena yang Alya inginkan adalah menjalani hidupnya dengan tenang tanpa bayang-bayang seorang Laki-laki dihidupnya.


Seperti biasanya, pagi-pagi sekali sudah bersiap-siap untuk berangkat ke tempat kerjanya. Namun, pagi ini entah kenapa ia merasa tidak enak badan dan kepalanya terasa pusing, ia pun membawa tubuhnya duduk di kursi yang berada di teras rumah sambil memijit kepalanya untuk meredakan pusing yang dirasakan nya sebelum berangkat ke tempat kerja nya.


Nek Minah yang melihat itupun segera menghampiri Alya dan duduk disamping nya.


"Kamu kenapa, Alya? " tanya Nek Minah khawatir.


"Gak tau Nek, tiba-tiba aja badan rasanya gak enak kepala aku juga terasa pusing" jawab Alya.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu gak usah pergi kerja, biar Nenek nanti yang pergi mengizinkan kan ketempat kerjamu" ucap Nek Minah, sambil memijit tengkuk Alya.


"Gak apa-apa kok Nek, dibawa kerja juga nanti bakal enakan kok" jawab Alya merasa tidak enak.


"Tapi Nenek khawatir kamu malah kenapa-kenapa lagi nanti kalau dipaksakan buat kerja"


"Enggak kok Nek, Nenek Jangan khawatir ya


aku gak apa-apa, aku pamit dulu ya Nek assalamu'alaikum" Alya mencium punggung tangan Nek Minah yang duduk di sampingnya lalu beranjak dari tempat duduknya. Namun, baru beberapa langkah pusing di kepala nya semakin menjadi dan seketika Alya ambruk, melihat itu Nek Minah begitu panik iapun berteriak memanggil warga.


"Tolong... tolong... Alya bangun, kamu kenapa jadi begini" Nek Minah pun menangis, ia benar-benar khawatir pada Alya.


Mendengar teriakan Nek Minah, bebera warga pun datang berbondong-bondong menghampiri rumah Nek Minah, dan mereka pun sama terkejutnya melihat Alya sudah tidak sadarkan diri.


Para warga pun beramai-ramai mengangkat tubuh Alya lalu membawanya ke puskesmas desa.

__ADS_1


Di atas langit yang sama namun ditempat yang berbeda, waktu sebulan rasanya seperti bertahun-tahun bagi David. Namun, seharipun ia tidak pernah berhenti mencari keberadaan Alya, ia pun tidak menghiraukan lagi keadaan sekitarnya. Dan perusahaannya pun dengan terpaksa Tyson turun tangan kembali untuk mengelolanya karena yang menjadi prioritas David saat ini adalah hanya mencari Alya saja, bahkan dirinya sendiri pun sudah tak terurus, waktu sebulan membuat David terlihat kurus karena jarang makan, rasanya ia begitu sulit untuk menelan makanan.


David benar-benar kehilangan arah dalam hidupnya semenjak kepergian istrinya.


Semenjak Alya pergi, David tidak pernah lagi tidur di ranjangnya. Setiap kali pulang sehabis mencari Alya, ia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang selalu ditempati Alya tidur dengan memeluk selimut yang Alya pakai tidur, hanya memeluk tanpa memakai selimut itu.


Tok... tok... tok...


"David, ayo sarapan dulu Nak, Papa sudah menunggu di ruang makan" ucap Herlina memanggil putranya walaupun ia tahu pasti putranya itu akan menolaknya, tapi setidaknya ia tetap berusah.


Herlina dan Tyson pun begitu khawatir melihat perubahan David saat ini, mereka berharap Alya segera ditemukan dan David akan kembali lagi semangat hidupnya.


Tak lama pintu kamar David pun terbuka, David melangkah keluar dengan menggunakan pakaian biasa seperti yang selalu ia pakai selama sebulan ini. Tidak ada lagi jas dan dasi yang melekat di tubuh David, selain kaos oblong dan juga celana kain panjang.


"Ayo Nak, kita sarapan dulu" Mama Herlina menggandeng lengan putranya, namun David melepaskan lingkaran tangan Mama nya yang merangkul lengannya.

__ADS_1


"Enggak Ma, aku harus segera pergi, aku tidak mau sampai terlewatkan sesuatu dan itu akan membuat ku semakin sulit menemukan keberadaan Alya" David pun melangkah meninggalkan Mama nya.


Kini Alya sudah berada di puskesmas desa, dokter pun segera memeriksa nya. Sementara Nek Minah dan beberapa warga yang membawa Alya ke puskesmas, menunggu di ruang tunggu dengan perasaan cemas.


__ADS_2