Dendam Istri Yang Tak Dianggap

Dendam Istri Yang Tak Dianggap
BAB 49


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, Nek Minah sedikit cemas sambil menatap pintu kamar Alya yang masih tertutup rapat. Pasalnya, sejak tadi siang Alya sama sekali tidak keluar dari kamarnya untuk makan siang, apalagi Alya saat ini tengah hamil yang seharusnya lebih banyak membutuhkan asupan nutrisi untuknya dan juga bayi dalam kandungan nya.


Awalnya nek Minah membiarkan, karena menurutnya mungkin saat ini Alya sedang mempertimbangkan nasihatnya kemaren yang meminta Alya untuk kembali pada keluarga dan juga suaminya demi calon anak nya.


Tapi, jika sudah sore begini apa yang sedang dilakukan oleh Alya didalam kamarnya, sementara ia tidak keluar untuk makan siang.


Rasa khawatir semakin mendera, akhirnya nek Minah pun memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Alya.


Tok tok tok..


"Alya, ayo makan dulu ini udah sore, kamu udah seharian loh gak makan nanti kamu sakit" tiga kali ketukan pertama tidak ada sahutan dari dalam kamar Alya, nek Minah pun mencobanya lagi barangkali Alya sedang tidur pikirnya.


Tok tok tok...


"Alya makan dulu yuk, kalau kamu malas makan, setidaknya makanlah sedikit demi anak kamu, dia butuh asupan nutrisi agar dia tumbuh sehat" Lagi-lagi masih tidak ada Jawaban.


Tok tok tok.


"Alya kamu sedang tidur ya?"


setelah beberapa saat berpikir, mengetuk pintu juga percuma karena si penghuni kamar tidak merespon akhirnya nek Minah pun masuk kedalam kamar Alya yang kebetulan tidak di kunci.


ceklek....


"Alya...

__ADS_1


.


.


.


Saat sudah menjelang malam, David masih betah dengan posisi yang rebahan di sofa padahal Mama nya entah sudah kali berapa memanggilnya untuk makan malam bersama namun David selalu menjawabnya dengan kata 'nanti'.


David pun berdecak kesal saat ponselnya berdering, mengganggu ketenangannya saat ini.


"Siapa sih yang menelpon malam-malam begini? ganggu aja" gerutunya namun tetap melihat siapa yang menelponnya.


David langsung merijek panggilan itu, melihat yang menelponnya dari nomor yang tak dikenal, lalu meletakkan kembali ponselnya di atas meja yang berdekatan dengan sofa.


Dengan kesal David pun menjawab panggilan itu.


"Halo! ini siapa ajh sih? ganggu orang aja" ucap David dengan sedikit menaikan nada suaranya. Ia kesal karena ada orang yang sudah berani mengganggu ketenangan nya.


"M-af Pak" jawab si penelpon dengan terbata, ia sedikit takut saat yang menjawab panggilan nya sedikit membentak nya.


Sementara David hanya diam menyimak apa yang akan di katakan oleh yang menelponnya.


"Saya seorang supir Taksi, Pak. Saya mengambil nomer bapak dari poster yang tertempel di warteg" sambung si penelpon.


"Iya, lalu ada apa?"

__ADS_1


"Saya mau memberitahu, kalau perempuan yang ada di poster itu pernah naik taksi saya, Pak" ucap si penelpon itu lagi, dan membuat David disana seketika berdiri dari tempat duduknya.


"A-pa? jadi istri saya pernah naik taksi bapak. Kemana, kemana bapak mengantarkan istri saya? tolong bapak jemput saya sekarang dan antarkan saya ke tempat bapak mengantarkan istri saya"


"Iya Pak, waktu itu tepatnya sekitar sebulan yang lalu terakhir saya mengantarkan istri bapak ke stasiun yang sebelumnya istri bapak meminta di antarkan ke apartemen" cerita si penelpon yang tak lain adalah supir Taksi yang mengantarkan Alya sebulan lalu ke stasiun.


"Untuk selebihnya saya tidak tau lagi Pak, maaf sudah mengganggu hanya itu saja yang saya ingin sampaikan dan semoga bisa menjadi petunjuk untuk menemukan istri bapak" sambungnya lalu mematikan sambungan telepon nya.


"Tunggu... " belum sempat David berbicara, si supir Taksi itu sudah mematikan sambungan telepon.


Tanpa berpikir panjang lagi, David segera berlari keluar kamarnya ingin memberitahukan pada Papa dan Mama nya.


"Papa... Mama... " David berlari menuruni anak tangga sambil berteriak memanggil Papa dan Mama nya.


Tyson dan Herlina yang masih berada di ruang makan terlonjak kaget melihat putra mereka berlarian sambil berteriak seperti itu.


"Mama, Papa... " nafas David tersengal-sengal karena berlarian.


"David ada apa? Papa Tyson pun menyudahi makannya lalu berdiri di samping putra nya.


Sejenak David mengatur nafasnya sebelum ia menceritakan pada Papa dan Mama nya tentang percakapannya dengan supir Taksi yang menelponnya.


Setelah mendengarkan cerita David, Tyson kembali duduk di tempatnya semula. Papa Tyson terlihat sedang memikirkan sesuatu, begitu juga dengan Mama Herlina yang juga kembali duduk di tempat nya semula, sementara David menjadi bingung melihat respon kedua orangtuanya setelah ia menceritakan perihal cerita si supir Taksi yang baru saja menelponnya.


"Stasiun... "lirih Tyson dan Herlina berbarengan lalu kemudian saling menatap.

__ADS_1


__ADS_2