Dendam Istri Yang Tak Dianggap

Dendam Istri Yang Tak Dianggap
BAB 72


__ADS_3

Memaafkan seseorang atas apa yang sudah mereka lakukan atau katakan kepada kita memang tidak mudah karena membutuhkan hati yang seluas samudra serta ketulusan hati untuk melakukannya.


Namu, hal tersebut dapat menghindarkan dari sifat benci dan dendam, yang hanya akan merusak diri sendiri dalam hidup.


Memaafkan atau mengampuni kesalahan orang lain bermanfaat bagi diri sendiri karena hal tersebut dapat membuat hatimu menjadi lebih tenang dan penuh kedamaian


Tapi, itu semua kembali kepada diri masing-masing bagaimana cara menyikapinya. Ada orang yang memilih untuk mengalah dan memaafkan semua kesalahan seseorang kepada nya. Namun, ada juga yang memilih untuk memendam semuanya dengan diam tapi tidak mau memaafkan, dan itu bisa jadi karena lantaran sudah merasa terlalu sakit.


Hubungan antarmanusia itu memang rumit. Terkadang membawa kebahagiaan dan bisa saling membantu. Namun tak jarang juga jalinan itu membuat kamu merasakan kesedihan. Adanya salah paham, permasalahan, sikap ego, amarah, dan juga penghianatan membuat sebuah hubungan seseorang menjadi renggang.


............ ...


Alya kini sudah dipindahkan ke ruang perawatan, begitu juga dengan bayi nya yang sekarang berada di dalam ruangan khusus perawatan bayi


Didepan ruang bayinya di rawat, entah sudah berapa jam David berdiri di sana menatap bayinya dari luar ruangan karena Dokter belum mengizinkan siapapun untuk masuk ke ruangan itu selain Dokter dan juga perawat.

__ADS_1


"Anaknya Papa yang sehat ya, Nak. Kamu harus kuat" David menyunggingkan senyum di bibir nya, tangannya terus meraba dinding kaca yang menjadi penghalang serta mata nya sampai tak berkedip menatap bayinya di dalam sana.


"Nanti kalau kamu ketemu Mama kamu, bilang ya sama dia Papa minta maaf, Papa sayang kalian berdua, Papa ingin berkumpul jadi keluarga kecil yang bahagia sama kalian berdua"


Di dalam ruangan itu, terlihat Dokter dan Suster masih tengah sibuk merawat bayi kecil itu. Bayi yang terpaksa harus lahir di usia kandungan yang belum cukup 9 bulan dengan cara Caesar karena si Ibu nya mengalami pendarahan hebat.


Beberapa saat terus memperhatikan bayi kecil nya itu, tiba-tiba David teringat seseorang dan ia pun mengeluarkan ponsel nya dari dalam saku celananya kemudian menghubungi nya.


"Halo, Kevin. Apa kau sedang sibuk? Aku sekarang sedang berada di rumah sakit, apa kau bisa kesini sekarang? Alya sudah melahirkan" ucap David antusias, ia senang saat memberitahu Kevin kalau Alya sudah melahirkan karena secara tidak langsung ia juga mengatakan kalau saat ini ia sudah menjadi seorang Ayah.


"Apa? Alya sudah melahirkan? Tapi kan, usia kandungan nya belum cukup 9 bulan" Kevin disana menjadi bingung, ia yang tadinya sedang memeriksa beberapa dokumen di meja kerja nya seketika langsung berdiri saat David menelpon nya.


"Baiklah kalau begitu, kirimkan alamat rumah sakit nya nanti aku akan segera kesana" Kevin mematikan sambungan telepon nya dan langsung membereskan semua dokumen yang tercecer di meja nya. Dan setelah mendapat pesan singkat dari David yang berisikan alamat rumah sakit tempat Alya dan bayi nya di rawat, Kevin langsung menyambar kunci mobilnya dan segera menuju rumah sakit.


............ ...

__ADS_1


"Pa, aku ingin melihat bayi ku" Sedari tadi Alya terus memaksa Papa Tyson untuk mengantarkan nya melihat bayi nya.


"Iya, tunggu dokter dulu ya, Nak. Papa tidak berani membawa kamu keluar dari ruangan ini tanpa seizin dokter terlebih dahulu. Lagian kamu juga belum boleh banyak bergerak, luka jahitan mu belum kering benar" Papa Tyson juga terus membujuk Alya agar menunggu dokter terlebih, tadi mam Herlina dan nek Minah sudah pergi memanggil dokter.


Tak lama dokter datang dan langsung mengecek kondisi Alya terlebih dahulu. Setelah mendapatkan izin dari dokter, Papa Tyson akhirnya membawa Alya menggunakan kursi roda untuk melihat bayi nya di ruangan khusus perawatan bayi.


Papan Tyson langsung menghentikan langkah nya yang mendorong kursi roda Alya, melihat ada David yang berdiri di depan ruangan itu terus menatap ke arah dalam sana.


Begitu juga dengan Alya yang langsung membuang muka saat melihat Laki-laki itu lagi. Papa Tyson yang melihat itu mengusap puncak kepala Alya agar tenang, Papa Tyson tahu kalau Alya tak ingin melihat Putra nya itu.


"Apa perlu Papa menyeretnya pergi dari sini?"


Mendengar ucapan Papa Tyson itu, Alya langsung mendongakkan kepala nya menatap Papa Tyson lalu menggeleng.


"Biarkan saja dia melihat anaknya, Pa. Tapi, Papa tolong jangan biarkan dia mendekati aku" ucap Alya dan Papa Tyson mengangguk lalu kembali mendorong kursi roda Alya menuju ruangan bayi.

__ADS_1


David belum menyadari kedatangan Alya dan Papa Tyson. Netra nya tak lepas menatap bayi didalam sana yang sedang di tangani Suster, serta senyum nya juga tak pernah pudar dari wakahr.


"Anak Papa" gumam nya. Dan itu semua tak luput dari perhatian Alya dan Papa Tyson.


__ADS_2