
David tersenyum saat menemukan ide untuk nanti bisa menemui istrinya tanpa ketahuan oleh Papa nya, namun saat mengingat notifikasi yang masuk di ponsel nya tadi membuat nya mencengkeram erat stir mobilnya.
"Awas saja kau, Lestari!"
"Sudah cukup sekarang, aku tidak akan membiarkan lagi kau bersenang-senang dengan uang ku, pokoknya kau harus aku singkirkan dari kehidupan ku!"
David pun menambah kecepatan laju mobilnya agar cepat sampai rumah, ia ingin mengistirahatkan tubuhnya karena esok ada banyak rencana yang akan ia buat.
"Alya tunggu aku, aku pasti akan datang menjenguk mu" bayangan saat Alya mengalami kecelakaan terlintas di ingatan David, David pun menghentikan mobilnya sejenak, dan menetralkan segala perasaannya yang berkecamuk entah sudah bercabang berapa, setelah merasa sedikit lebih tenang ia melajukan lagi mobilnya.
.....
"Akhh... sialan kau Reno! kau tidak menggunakan pengaman lagi" umpat Lestari kesal, setelah adegan panas nya bersama Reno selesai.
"Sudahlah Lestari, kenapa kau membahas itu terus. Apa kau lupa? sejak awal kita berhubungan dari 2 bulan yang lalu aku memang tidak pernah menggunakan pengaman karena rasanya tidak enak, lebih enak seperti ini" ucap Reno, lalu tangan nakal nya kembali menelusuri tubuh Lestari yang masih polos.
"Kita coba sekali lagi ya, aku masih pengen" ucapnya lagi dengan tatapan memohon.
"Kau gila Reno! bagaimana kalau aku sampai hamil"
"Kau ini kenapa pusing memikirkan kan soal itu, kalau kau hamil minta saja si David itu yang bertanggung jawab, kau juga sering melakukannya dengan David bukan?" goda Reno, tangan nakalnya tidak bisa dikondisikan, lagi, ia menarik Lestari lalu kembali mengungkung nya dibawah tubuh kekar nya.
"Tapi dia sudah lama tidak pernah menyentuhku lagi, terakhir itu 1 bulan yang lalu" ucap Lestari dengan suara parau menahan desah*nnya akibat ulah bibir Reno yang bermain-main diatas tubuhnya.
Reno menghentikan aktivitas nya, ia menatap Lestari yang berada dibawah tubuhnya.
"Kau pernah bilang kan, kalau waktu itu David tidak menggunakan pengaman seperti biasanya" Lestari mengangguk.
"Terus...
" Kau ini kenapa bodoh sekali Lestari, seandainya kau hamil itu bisa menjadi senjata mu untuk meminta pertanggungjawaban David" ucap Reno, lalu kembali menyerang Lestari, ia benar-benar sudah tak tahan. Sementara Lestari menyunggingkan senyum, karena ucapan Reno tadi ada benarnya.
__ADS_1
Senyum Lestari ikut terbang melayang bersama kenikmatan yang diciptakan Reno pada tubuhnya. Suara desah*n kenikmatan pun kembali terdengar didalam kamar apartemen yang dulunya selalu digunakan oleh David dan Lestari memadu kasih saling berlomba mencapai kepuasan bersama seperti yang dilakukan Lestari saat ini bersama Reno.
"Kau benar-benar luar biasa Reno!"
"Tentu! aku yakin, aku pasti lebih gagah dibandingkan David"
"Akhhh iya... apa kau menggunakan obat kuat? kenapa kau tidak pernah lelah, aku sampai kewalahan"
"Tentu saja tidak, aku kan memang kuat, dan aku yakin hanya aku laki-laki satu-satunya yang akan selalu memuaskan mu"
"Kau benar Reno, bahkan David tidak sekuat dirimu"
"Hahaha" Reno tertawa renyah di sela pergulatan panasnya mendengar ucapan Lestari.
.....
Keesokan harinya...
Saat ini David sedang menikmati sarapan yang ia buat sendiri. Jika sebelumnya David begitu malas menyentuh makanan karena terus kepikiran dengan Alya yang entah dimana, dan setelah Alya ditemukan David kembali sarapan lagi karena ia harus kuat dan sehat untuk sebuah rencana, terutama untuk istrinya.
Bagaimana ia bisa bertemu dengan Alya kalau dirinya sakit, sementara saat ini ia harus berjuang lebih keras lagi karena Papa nya melarang dirinya untuk bertemu dengan Alya.
Setelah menghabiskan sarapan nya, David membawa piring bekasnya ke dapur lalu kembali lagi ke kamarnya. David menyunggingkan senyum melihat pesan masuk di ponselnya.
"Reno...ckck, kau benar-benar perempuan jal*ng Lestari!"
David pun menelpon seseorang yang mengirimkan pesan padanya. "Kerja bagus, bayaran kalian akan aku tambah kalau kalian bisa memberikan informasi yang lebih memuaskan lagi" David pun mematikan sambung telepon nya.
"Dan ini hadiah untukmu Lestari. Blokir!!!"
......
__ADS_1
Dengan semangat 45 David berangkat ke rumah sakit tempat Alya dirawat, kali ini ia pergi sendiri tidak mengajak Kevin karena tidak ingin merepotkan nya terus.
Sepanjang perjalanan Davide terus mengembangkan senyum diwajah tampan nya, yang membuatnya semakin terlihat tampan.
Ketampanannya itulah yang mampu membuat Alya terpikat sejak remaja, belum lagi saat itu David selalu perhatian pada Alya sebelum perubahan tubuh Alya yang menjadi gendut.
Namun itu semua sudah tidak ada harganya lagi dimata Alya atas apa yang sudah diperbuat David padanya, yang ada hanya dendam dan kebencian yang begitu mendalam.
David pun telah sampai dirumah sakit, namun ia harus menelan kekecewaan karena mendapati ternyata Alya sudah tidak berada dirumah sakit itu lagi, Tyson sudah memindahkan Alya tanpa memberitahukan padanya. Segitunya kah Papa nya itu ikut membencinya?
Tyson bahkan dengan tega nya meminta pada pihak rumah sakit untuk tidak memberitahu pada David dirumah sakit mana ia memindahkan Alya.
Semangat David menguap begitu saja, padahal sejak dari rumah ia sudah begitu bersemangat untuk bertemu Alya walaupun dengan menyamar sebagai petugas bersih-bersih. Dan Papa nya itu sudah menggagalkan semua ide-idenya yang sudah ia rancang sejak kemarin.
"Aku tidak boleh menyerah, aku pasti bisa menemukan dirumah sakit mana Alya dirawat"
......
"Pa, apa kita tidak terlalu jahat menyembunyikan Alya dari David. David berhak tau keadaan istrinya, Pa. Dan seharusnya David ada disini menemani Alya" sejak semalam Herlina terus membujuk suaminya yang akan memindahkan Alya ke rumah sakit lain, agar memberitahu David namun Tyson seperti orang tuli tidak mau mendengarkan istrinya.
Tyson tetap pada keputusan awalnya, ia tidak ingin David menemui Alya karena sesuatu hal.
"Sudah berapa kali Papa katakan pada Mama, dan Papa harap Mama mengerti dan menuruti keputusan Papa. Jangan sampai Mama memberitahu David Alya berada disini, karena kalau sampai itu terjadi maka Papa akan.... huh!"
Tyson menghentikan kalimat nya kemudian menghela nafasnya, ia mendekati istrinya lalu meraih kedua tangan istrinya kedalam genggaman nya.
"Ma, Papa mohon untuk sekali ini saja tolong jangan bantah Papa. Papa melakukan ini semua bukan karena tidak ada sebabnya, tapi untuk sekarang Papa tidak bisa mengatakannya pada Mama, tapi Papa janji suatu saat nanti Papa pasti mengatakan pada Mama tentang alasan Papa melakukan ini semua"
Herlina pun mengangguk, ia sudah mengenal suaminya ini, ia yakin apa yang dilakukan suaminya ini pasti ada alasan yang kuat.
"Terima kasih, Ma"
__ADS_1