
"Lestari...." Saat David masuk kedalam kamar apartemen nya ia mendapati Lestari sudah tergeletak di atas lantai, iapun segera menghampiri Lestari.
"Lestari bangunlah" David menepuk-nepuk pipi Lestari guna untuk menyadarkan Lestari, David pun memapah tubuh Lestari dan merebahkannya diatas ranjang.
"Lestari ayo bangunlah, ini Aku David aku sudah datang" David masih berusaha untuk menyadarkan Lestari namun tak kunjung juga sadar, David pun menjadi kebingungan dan memikirkan cara lain untuk bisa menyadarkan Lestari.
Seketika David menggelengkan kepalanya saat terlintas dipikiran nya untuk menyadarkan Lestari dengan cara memberikan nafas buatan. "Oh tidak, itu tidak mungkin. Tapi, bagaimana ini?" David benar-benar kebingungan.
Jika didalam apartemen itu, tepatnya didalam kamar David sedang kebingungan karena Lestari tak juga kunjung sadar. Lain halnya diluar apartemen, Alya berdiri menatap bangunan didepannya dengan tatapan kosong, entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini. Perlahan ia melangkahkan kakinya menelusuri bangunan itu menuju dimana suaminya berada, dan kini ia sudah berada didepan kamar yang ia yakini didalam sana ada suaminya bersama mantan kekasihnya itu.
Sementara David didalam kamar benar-benar kebingungan, akhirnya iapun memutuskan untuk memberi nafas buatan untuk Lestari.
"Lestari maafkan aku, aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya ingin menolong mu" David pun mencondongkan kepalanya dan mendekatkan bibirnya pada bibir Lestari, dan bertepatan dengan itu pintu kamar terbuka dengan diiringi tepukan tangan.
Prok...orok...prok... "Wow! Benar-benar pasangan yang serasi, aku kagum pada kalian, kalian pasangan yang begitu romantis" ucap Alya membawa langkah kaki nya memasuki kamar itu dengan masih bertepuk tangan, namun percayalah hatinya saat ini benar-benar sakit melihat suaminya hendak mencium wanita lain dihadapannya.
__ADS_1
Seketika David membelalakkan matanya melihat tiba-tiba Alya berada didalam kamar itu, dengan cepat David berdiri dan membiarkan Lestari begitu saja.
"Alya. Tidak, ini tidak seperti yangkau lihat, kau salah paham aku bisa menjelaskan ini" ucap David begtu paniknya, ia segera menghampiri Istrinya, namun Alya merentangkan tangannya mengentikan langkah David untuk mendekatinya.
"Stop kak David! Jangan mendekat, dan kak David tidak perlu menjelaskan apapun karena yang aku lihat ini sudah sangat jelas. Aku tidak menyangka, rasanya aku ingin sekali menggosok mulut Kak David itu dengan abu gosok. Mudah sekali meminta maaf, namun kak David sendiri masih saja menggunakan mulut itu untuk hal yang menjijikkan seperti ini. Kalian berdua benar-benar sudah seperti sampah! Sarkas Alya, lalu iapun keluar dari kamar itu dengan perasaan yang begitu hancur, sakit? Sudah pasti sakit.
David hendak mengejar Alya, namun saat diambang pintu ia menoleh pada Lestari yang masih juga belum sadarkan diri. David benar-benar bingung saat ini. Jika ia mengejar istrinya, lalu bagaimana dengan Lestari yang masih belum sadar itu? Tentu ia tidak tega meninggalkan Lestari sendirian dalam keadaan seperti itu. Namun, jika ia tidak mengejar istrinya dan memilih untuk menemani Lestari sampai ia sadarkan diri, bisa-bisa Alya akan semakin salah paham padanya.
"Maafkan Aku Alya, nanti Aku akan menjelaskan ini semua padamu ini tidak seperti yang kau pikirkan" David menatap sendu selulit tubuh istrinya yang yang kian menjauh, namun saat ini ia memilih untuk mengurus Lestari terlebih dahulu baru nanti ia akan pulang dan menjelaskan semuanya pada Alya.
David pun kembali masuk ke dalam kamarnya, ia mencari minyak angin di dalam laci. Setelah menemukan minyak angin, David menuangkan ke telapak tangannya lalu menggosokkan nya di telapak kaki Lestari dan juga tangannya. Dan tak lama, Lestari mulai membuka matanya.
"Iya Lestari ini aku, David. Sebenarnya apa yang terjadi dengan mu, kenapa kau bisa sampai seperti ini?"
"Aku juga tidak tau, David. Beberapa hari ini kepala ku sering sakit" ucap Lestari dengan terus mengusap kepalanya.
__ADS_1
"Bagaimana perasaan mu sekarang? Ah ya, ayo aku antar kerumah sakit" David pun ingin memapah Lestari, namun Lestari segera menolaknya.
"Ah tidak David, tidak usah kerumah sakit. Aku sudah mendingan sekarang" tolak Lestari, ia tidak ingin pergi kerumah sakit karena sudah pasti rencananya akan ketahuan kalau sebenarnya ia hanya berpura-pura sakit. Itu semua hanya untuk bisa memancing David datang dan menjeratnya kembali ke atas ranjangnya, namun Lestari tidak menduga bahwa Alya akan datang, itu semua diluar rencana Lestari.
"Apa kau yakin sudah tidak apa-apa? Apa tidak sebaiknya Aku membawamu kerumah sakit saja" tawar David lagi, ia melakukan ini hanya semata-mata bagian dari bentuk pertanggungjawaban nya.
"Gak usah David, beneran kok aku udah mendingan"
"Em baiklah kalau begitu, Lestari aku pamit pulang dulu ya" David pun beranjak pergi, namun Lestari menarik tangannya hingga David terjatuh tepat di atas Lestari, seketika mata mereka bertemu bibir mereka hampir bersentuhan, ingatan ingatan akan pergulatan panas mereka di atas ranjang itu seketika terlihat di memory David. Namun, iapun segera menepis itu semua, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak berhubungan lagi dengan Lestari bahkan dengan wanita manapun selain Istrinya, Alya.
David pun segera menarik tubuhnya menjauh dari Lestari.
"David maaf Aku tidak bermaksud seperti itu, aku benar-benar tidak sengaja" ucap Lestari, merasa bersalah dengan tindakannya yang menarik tangan David.
"Iya tidak masalah, maaf Lestari Aku harus segera pergi ada hal penting yang harus Aku selesaikan" dan di angguki oleh Lestari.
__ADS_1
Setelah David pergi, Lestari pun bangkit dari pembaringannya tersenyum menatap pintu yang baru saja tertutup.
"Aku yakin setelah ini rumah tanggamu tidak akan baik-baik saja, David" ucapnya tersenyum menyeringai. "Sebenarnya ini semua hanya pancingan agar kau datang kemari karena aku sangat merindukanmu, lebih tepatnya merindukan belaian mu yang memabukkan itu" ucapnya lagi sembari mengusap-usap sprei kasur tempatnya dulu memadu kasih bersama David. "Tapi aku tidak menyangka kalau istrimu juga ikut terpancing datang kemari, dan itu benar-benar keberuntungan besar buatku karena Aku tidak perlu repot-repot memikirkan cara untuk menghancurkan rumah tangga kalian, dan menjeratmu lagi kedalam pelukanku, David.