Dendam Istri Yang Tak Dianggap

Dendam Istri Yang Tak Dianggap
BAB 7


__ADS_3

Hari ini tepat satu minggu sudah Alya mengunakan cream penghilang bekas luka yang diberikan oleh Kevin, semakin hari bekas luka diwajahnya itu semakin memudar dan Alya pun senang karena bekas luka diwajahnya sedikit demi sedikit sudah mulai memudar.


"Wah Alya bekas luka diwajah mu Mama perhatikan sekarang sudah mulai memudar ya, kamu pakai apa sih?" Tanya Herlina, ia ikut senang melihat bekas luka diwajah Alya sudah mulai memudar.


"Iya nak kamu makin terlihat cantik sekarang, kamu pakai apa sih kalau Papa boleh tau?" Tanya Tyson juga menimpali.


Alya tersenyum pada kedua paruh baya yang sudah membesarkannya itu.


"Ini Pa, Ma aku pakai cream yang diberikan oleh Kevin" jawabnya.


"Cream? Kevin?" Ucap Tyson dan Herlina berbarengan.


"Iya Ma, Pa. Oh ya aku lupa memberitahu Mama dan Papa kalau Kevin itu pengusaha produk kecantikan dan dia juga yang sudah memberikan aku salah satu produknya untuk menurunkan berat badanku" ucap Alya tersenyum, ia menjelaskan siapa Kevin.


"Dan sekarang Kevin juga membuka cabang di kota ini" Sambungnya.


"Oh ya? Wah kalau begitu Papa ingin bertemu langsung dengan Kevin dan mengucap banyak terima kasih karena sudah baik dan banyak membantu Putri Papa ini" kata Tyson, ia merangkul Alya.


"Iya Pa, ternyata sekarang masih ada pemuda yang sebaik Kevin itu" ucap Herlina menimpali. Herlina tersenyum, ia jadi membayangkan putranya juga seperti Kevin. Namun kenyataannya Herlina tau selama ini putranya itu tidak memperlakukan Alya dengan baik.


"Oh ya, dimana kamu bertemu Kevin dan bagaimana kamu bisa bertemu dengannya? Dan sebenarnya kemana kamu selama ini, apa selama 6 bulan kamu tidak ada, kamu tinggal dengan Kevin? " Tanya Tyson dan membuat Alya terperangah, pasalnya semenjak ia kembali, belum pernah ia mengatakan sesuatu dan sekarang Tyson menanyakannya.


Alya bingung harus menjawab apa?

__ADS_1


Jika ia mengatakan kalau ia bertemu Kevin dipinggiran hutan di luar kota dan tidak sengaja hampir menabraknya, pasti Tyson akan menanyakan lagi kenapa ia bisa ada di pinggiran hutan luar kota.


Lalu, jika ia mengatakan bahwa Ia diculik lalu dibuang ke hutan itu, pasti Tyson juga akan menanyakan siapa penculiknya dan kenapa tidak pernah meminta tebusan.


Ah, Alya tidak bisa menjawab semua pertanyaan pertanyaan itu. Karena jawabannya adalah putra Tyson sendiri lah menjadi penyebabnya. Namun Alya tidak bisa mengatakan kebenarannya karena ia tahu Tyson pasti akan murka pada suaminya itu, dan jika itu terjadi, David pasti akan semakin membencinya.


Alya terdiam, ia mencoba menyusun kalimat untuk menjawab pertanyaan Tyson. Yah walaupun itu dengan berbohong, asalkan Tyson tidak tau kebenarannya untuk saat ini, dan Alya berharap semoga saja Tyson percaya dengan jawabannya nanti.


"Alya kamu kenapa, kamu baik-baik saja kan, Nak?'' Tyson memperhatikan Alya yang hanya diam dan tidak menjawab pertanyaannya, mungkin saat ini Alya belum siap untuk bercerita, pikirnya.


"Apa ada sesuatu yang di tutupi Alya ya? Kenapa dia terlihat seperti kebingungan saat aku bertanya, baiklah Nak, Papa tidak akan memaksamu untuk bercerita sekarang, tapi Papa akan menunggu sampai kau sendiri yang bercerita pada Papa, walaupun sebenarnya Papa sangat penasaran tentang apa yang terjadi padamu selama 6 bulan kau tidak ada"


"Ah, aku gak apa-apa kok Pa" Alya tersenyum, walau pikirannya sekarang sedang kalut memikirkan bagaimana untuk menjawab pertanyaan Tyson.


"Gak apa-apa kalau kamu tidak ingin menjawab pertanyaan Papa tadi, kamu bisa menjawab nya nanti" kata Tyson, sejujurnya ia sangat penasaran, belum lagi Alya terlihat kebingungan, Tyson yakin kalau Alya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Semoga saja ini tidak ada kaitannya dengan David" Herlina berharap hilangnya Alya selama 6 bulan itu tidak ada sangkut pautnya dengan David, putranya. Mengingat betapa putranya itu sangat membenci Alya, tapi Herlina berharap itu tidak ada kaitannya dengan David.


Alya menatap kedua paruh baya yang sudah membesarkannya itu secara bergantian, sejujurnya ia merasa tidak enak karena tidak menjawab pertanyaan mereka, namun mau bagaimana lagi, jika ia menjawab, satu masalah baru akan timbul dan Alya tidak ingin itu terjadi.


"Maaf Pa, Ma" ucapnya sembari menundukkan kepalanya.


"Kenapa minta maaf, Nak. Kamu tidak salah apa-apa" ucap Herlina menyahuti.

__ADS_1


"Maaf karena untuk saat ini aku belum bisa menjawab pertanyaan Kalian berdua, suatu hari nanti pasti aku akan memberitahu kemana aku selama 6 bulan itu" ucap Alya dengan masih menundukkan kepalanya, ia tidak ingin kedua paruh baya itu melihat ada kebohongan dimata nya.


Herlina dan Tyson saling pandang, mereka tahu gadis yang sedang mendudukkan kepalanya dihadapan mereka itu menyimpan sesuatu yang ia rahasiakan sendiri. Namun jika gadis itu belum bisa memberitahu nya sekarang, itu bukanlah masalah, toh gadis itu juga sudah berjanji akan memberitahukan nya nanti di waktu yang tepat.


Herlina melihat ketidaknyamanan di wajah Alya, iapun berinisiatif untuk mengajak membuat kue. Barangkali dengan membuat gadis itu sedikit lebih nyaman, ia akan terbuka dan perlahan mau menceritakan perihal hilangnya ia selama 6 bulan itu.


"Alya, bagaimana kalau sekarang kita membuat kue saja. Sebentar lagi kan David pulang dari kantor, nanti kita bisa makan kue nya bersama" ajak Herlina pada Alya.


Alya dengan antusias menganggukkan kepalanya, ajakan Mama mertua nya itu untuk membuat kue tentu juga menjadi kesempatan nya agar bisa mengambil perhatian David, suaminya.


Herlina dan Alya pun menuju dapur untuk membuat kue, sementara Tyson sendiri memilih menuju balkon kamarnya untuk membaca koran disana sambil menunggu dua wanita berbeda usia itu selesai membuat kue nya..


Alya dengan cekatan menyiapkan semua bahan-bahan yang diperlukan, dan Herlina menyiapkan peralatan membuat kue nya.


Bukan hanya sekedar membuat kue, canda tawa dari Alya dan Herlina juga meramaikan dapur itu.


David yang baru saja pulang dari kantornya, mendengar suara cekikikan dari arah dapur. Karena merasa penasaran iapun pergi ke dapur untuk melihatnya, dan saat sampai didapur, David sedikit terpanah melihat pemandangan itu. Sosok wanita yang sudah melahirkannya kedunia dan juga wanita yang berstatus sebagai istrinya itu sedang membuat kue dan juga sambil bercanda tawa.


Melihat wajah serta kepala Herlina dan Alya dipenuhi banyak tepung, tak terasa David pun ikut tersenyum. Namun di detik berikutnya David meraup wajahnya.


"Apa apaan ini, kenapa aku merasa senang melihat keakraban mereka berdua" David bergumam, lalu ia pergi dari tempat itu menuju kamarnya.


Didalam kamar, David melemparkan jas nya ke sembarang tempat. Ia mengacak rambutnya karena masih teringat pemandangan yang ia lihat di dapur tadi.

__ADS_1


Iapun masuk kedalam kamar mandi dan mengguyur kepalanya dibawah pancuran shower untuk menjernihkan pikirannya.


"Hei David, kenapa kau malah teringat dia sih" David menjadi kesal pada dirinya sendiri, iapun mengepalkan tangannya dan meninju dinding kamar mandi itu.


__ADS_2