
Semenjak perdebatan pagi itu, David tidak pernah lagi menapakkan kakinya ke dalam rumah Alya. Dia hanya menatap dari kejauhan rumah itu dari dalam mobilnya, berharap dia dapat melihat dua wanita yang dirindukan. Dan benar saja, hampir setiap hari Alya membawa baby Nayla ke Taman, David hanya memperhatikan dari kejauhan tanpa berani mendekati dua wanita yang berbeda usia itu.
Begitulah setiap hari cara David untuk melepaskan rasa rindunya pada anak dan juga mantan istrinya. Hingga seiring berjalannya waktu, tak terasa 19 tahun pun telah berlalu.
Bayi mungil yang terpaksa lahir dengan cara di Caesar itu kini telah menjelma menjadi seorang gadis yang cantik.
Nayla Richardo, siapa yang tidak tertarik padanya. Wajah cantik, kepribadian yang ramah dan menyayangi semua teman-temannya tanpa membedakan diantara yang lainnya, serta kecerdasan yang dia miliki menjadikan dia kebanggaan keluarganya.
Namun, sayang, Nayla merasa kebahagiaan kurang lengkap karena kedua orangtuanya yang tinggal terpisah. Nayla ingin sekali kedua orangtuanya kembali bersatu, namun Alya selalu menolak dengan tegas setiap kali Putrinya itu memintanya untuk kembali kepada mantan suaminya, David Richardo.
"Pa, maaf ya, aku gagal lagi, Mama keras kepala banget!" Nayla mengerucutkan bibirnya, benar-benar kesal dengan Mama yang selalu menolak permintaannya untuk bersatu kembali dengan Papa nya.
David tersenyum, walaupun sedih karena kabar yang dibawa putrinya hari ini masih sama seperti sebelumnya, tapi David tidak mau menunjukkan kesedihan nya ya itu dihadapkan putrinya semata wayangnya ini.
"Udah gak apa-apa, jangan sedih gitu dong. Kalau Mama kamu memang gak mau balikan sama Papa lagi ya udah gak apa-apa, kamu jangan paksain Mama kamu terus, nanti kamu dimarahin loh" ucap David terkekeh. Dia berusaha terlihat tegar di hadapan putrinya, padahal hatinya sangat sakit selalu mendapat penolakan dari mantan istrinya.
"Yah Papa, kok ngomongnya gitu sih? Papa ayo dong, Pa. Papa semangat buat balikan sama Mama, aku pengen kayak teman-teman aku, orangtuanya lengkap" wajah Nayla menjadi murung. Dia mengingat teman-temannya yang selalu didampingi kedua orangtuanya setiap kali ada pertemuan di sekolah, tidak seperti dia yang hanya didampingi oleh salah satu orangtuanya, kalau tidak Papa nya, ya Mama nya.
"Pa, kok diam sih? atau Papa juga sama nih kayak Mama, gak mau balikan juga" wajah Nayla terlihat semakin kesal, melihat Papa nya hanya diam saja.
David tersenyum lagi. "Dari dulu sampai sekarang, Papa selalu berharap bisa balikan lagi sama Mama kamu, tapi yah kalau emang sudah gak ada jalannya buat balikan ya mau gimana lagi" David menggedik kan kedua bahunya, dia juga tidak tahu harus menggunakan cara apa untuk meluluhkan mantan istrinya itu.
"Ah Papa gak asyik, masa segini aja perjuangannya? ayo dong Pa, berjuang demi aku, Papa sayang sama aku kan?"
"Papa sayang banget sama kamu, Papa juga masih sayang sama Mama kamu. Tapi, Papa gak tau harus gimana, kakek dan nenek mu saja gak bisa bujuk Mama kamu" David tertunduk lesu, begitupun Nayla, dia menghela nafas panjang, kemudian memangku wajahnya di atas meja kerja Papa nya.
Ruangan ini itupun menjadi sunyi, Ayah dan anak itu larut kedalam pikirannya masing-masing. Suara ketukan dari luar mengagetkan keduanya.
__ADS_1
"Masuk" ucap David.
Pintu ruangannya pun terbuka, masuklah seorang pemuda tampan dengan membawa sebuah map ditangannya.
"Oh, Reyhan, ayo sini masuk"
Mendengar nama Reyhan, Nayla dengan cepat mengangkat kepalanya, kemudian menoleh menatap kakak tampan nya itu.
"Kak Reyhan, tumben pagi-pagi datang ke kantor Papa?"
Reyhan melangkahkan kakinya menuju dimana ayah dan anak itu duduk, kemudian ikut bergabung duduk di samping Nayla.
"Iya, Nay. Aku disuruh Papa bawa ini"
"Ini, Om. Papa nitip ini buat di tanda tangani sama Om. Papa gak bisa kesini karena lagi ada urusan" ucap Reyhan, meletakkan map yang dibawanya itu di atas meja kerja David.
"Terima kasih, Om" David menganggukkan kepalanya.
"Nay, kamu kok keliahatan nya lesu banget? lagi banyak tugas di kampus, atau jangan-jangan lagi putus cinta nih?"
"Aw aw, Nay sakit... " Reyhan mengusap usap lengannya yang terkena cubitan dari Nayla.
"Makanya, kalau ngomong itu jangan sembarangan! Aku tuh lesu gara-gara Papa sama Mama nih, gak ada yang mau ngertiin perasaan aku, kenapa sih susah banget buat balikan" Nayla kembali mengerucutkan bibirnya, dan itu terlihat menggemaskan di mata Reyhan.
Reyhan mengulurkan tangannya mengusap puncak kepala Nayla, diapun turut prihatin dengan adik bawelnya itu. Herannya, Nayla hanya bawel kepadanya saja.
Nayla sudah sering menceritakan kepada Reyhan tentang kedua orangtuanya. Nayla pun sering meminta bantuan pada Reyhan untuk membuat kedua orangtuanya bersatu kembali, tapi tidak ada satupun usaha mereka yang berhasil.
__ADS_1
David yang melihat kedekatan Putri nya, dan juga Putra sambung dari Kevin itu, tersenyum. Terbesit niat di hati David untuk menjodohkan keduanya.
Ponsel Nayla berdering, dilayar ponselnya menampilkan sebuah nama yang seketika membuat Nayla tersenyum.
"Pa, Kak Reyhan, aku berangkat ke kampus dulu ya" Nayla beranjak dari tempat duduknya.
"Papa anterin, ya" tawar David.
"Gak udah, Pa. Aku udah dijemput kok, tuh orangnya sudah ada di depan" Nayla pun keluar dari ruangan Papa nya, setelah mencium punggung tangan David, serta mendaratkan sebuah cubitan di lengan Reyhan.
"Anak Om ini kelewatan, suka banget cubitin aku, sampai biru-biru lengan aku dibuatnya.
Reyhan mengadu pada David, tapi pertanyaan yang diajukan oleh David seketika membuat rasa sakitnya hilang.
" Reyhan, kamu sudah punya pacar?"
Deg... Reyhan mematung, matanya tak berkedip menatap David. Pertanyaan yang sering ditanyakan oleh Mama dan Papa nya, kini di pertanyakan juga oleh David.
Reyhan menyunggingkan senyum, kemudian meng garuk-garuk pelipisnya.
"Gak ada sih, Om. Tapi, aku ada sih suka sama cewek, tapi gak tau dia juga suka sama aku atau enggak. Ya udah Om, aku pamit dulu ya, masih banyak kerjaan di kantor"
Reyhan pun keluar dari ruangan David, dia tidak ingin menjawab banyak pertanyaan seperti yang sering dialaminya ketika berada di rumah.
Di parkiran, Reyhan melihat Nayla berbincang dengan seorang Laki-laki, keduanya terlihat sangat akrab. Sesekali laki-laki itu mengusap puncak kepala Nayla seperti yang sering Reyhan lakukan, dan Nayla yang melempar senyum pada laki-laki itu. Melihat itu, Reyhan menjadi iri, ternyata bukan hanya dia yang sering melakukan itu pada Nayla.
Tak lama, Nayla masuk ke dalam mobil laki-laki itu, kemudian di susul oleh laki-laki yang juga masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Setelah mobil itu pergi, Reyhan pun juga masuk ke dalam mobilnya, melajukan nya menuju Kantor Papa nya.