
Dalam perjalanan hidup, selalu ada kisah yang mengiringi. Entah itu manis atau pahitnya pengalaman, akan memberikan banyak pelajaran hidup. Meski tak semua berjalan dengan mulus, namun percayalah setiap cerita yang hadir akan memberikan kesan yang membekas.
Kehadiran masa lalu mungkin akan menjadi hari yang sulit dalam hidupmu. Namun mau tak mau, kita harus melalui itu agar bisa mencapai ketenangan dan juga rasa nyaman. Tak sedikit orang yang mempunyai masa lalu yang kelam. Namun, jika niat hati bersungguh-sungguh untuk berubah dan memperbaiki kesalahannya, maka akan ada hasil baik yang telah menanti.
Jadi, jangan ragu belajar dari masa lalu, baik itu buruk ataupun baik. Karena ia akan menjadi guru terbaik yang akan selalu mengiringi mu.
Begitu juga dengan David. Ia tahu kalau kesalahannya di masa lalu sudah sangat fatal, mencaci, menghina, melakukan kekerasan menyakiti fisik maupun batin, bahkan mengkhianati istrinya dengan berhubungan dengan wanita lain yang berujung pada perzinahan dan dengan bodohnya mengabaikan istri yang sudah jelas-jelas halal untuknya.
Namun, apakah tidak ada kesempatan untuknya untuk memperbaiki itu semua?
Lalu bagaimana dengan Alya saat ini? apakah setelah melakukan hubungan suami istri dengan David membuatnya melupakan dendamnya, dan mau menerima dan memaafkan semua perlakuan suaminya dahulu. Bukankah dulu Alya sangat mencintai suaminya itu? Namun, apa yang telah dilakukan suaminya membuat cinta nya itu berubah menjadi dendam.
Dan, bukankah saat ini Alya sudah menjadi istri seutuhnya untuk David karena mereka telah menunaikan kewajiban mereka selayaknya suami istri walau itu terjadi karena sebuah peristiwa yang hampir membawa Alya kedalam masalah.
Bukankah Alya seharusnya bersyukur karena yang membantunya terlepas dari pengaruh obat yang membuatnya membutuhkan pelepasan adalah suaminya sendiri, dan bukan pria brengsek yang sudah dengan teganya hampir melecehkannya.
Namun, kembali lagi kepada keputusan Alya nanti, entah apa yang akan dilakukannya setelah ini?
__ADS_1
Didalam kamar mandi, Alya kini sudah selesai mandi.
"Ah sial! kenapa aku bisa sampai lupa membawanya tadi" yah, Alya lupa membawa paper bag yang diletakkan Kevin di atas nakas yang berisikan pakaian untuknya. Namun beruntung didalam kamar mandi itu ada bathrobe yang tersedia, iapun segera memakainya lalu keluar dari kamar mandi dan membiarkan rambutnya yang basah tergerai tanpa balutan handuk.
Alangkah terkejutnya Alya saat membuka pintu kamar mandi, David sudah berdiri dihadapannya dengan menenteng paper bag yang ingin ia ambil itu.
"Kau ingin mengambil ini kan? dan aku sudah membawakannya" ucap David mengangkat paper bag itu dengan senyuman yang ia buat semanis mungkin.
"Sini berikan paper bag itu" pinta Alya mengulurkan sebelah tangannya.
"Ayo aku akan membantumu" David menarik lengan Alya masuk kedalam kamar mandi.
"Terserah, bukankah aku sudah bilang tadi, kalaupun kau membunuhku aku tidak akan melawan"
"Kak aku mohon jangan bertingkah seperti anak kecil begini, tolong keluarlah" ucap Alya memelankan suaranya berharap David mau mendengarkannya.
Namun David tetap Keukeh dengan keinginannya untuk memakaikan pakaian Alya. Lalu ia mengeluarkan pakaian dari dalam paper bag itu.
__ADS_1
"Ayo lepaskan bathrobe nya" perintah David.
"Tapi kak" Alya menatap sayu David, ia benar-benar berharap David akan keluar dari kamar mandi dan ia akan memakai pakaiannya tanpa merasa risih dengan adanya David.
"Ayo lepaskan, atau aku yang akan melepaskan bathrobe itu dengan paksa" Ucap David dengan menaikkan sebelah alisnya.
Alya diam, lama-lama ia menjadi kesal, memohon tidak dihiraukan.
"Alya, kau ingin memakai pakaian mu atau tidak sih? oh, atau kau ingin aku memper..ko..sa.. mu lagi disini sekarang juga!" ancam David, namun ucapannya itu membuat Alya semakin menatapnya nyalang dengan mata memerah seperti banteng yang siap berlari menyeruduk musuhnya.
Plakkkk.... Satu tamparan keras mendarat di pipi David yang memang sudah dipenuhi banyak lebam karena perbuatan Alya, dan kini Alya menambahkannya lagi dengan tamparan yang keras.
David memegang pipinya yang terasa panas, serta telinganya yang berdenging akibat tamparan itu. Dan akhirnya, mau tidak mau David memberikan paper bag itu pada Alya lalu segera keluar dari kamar dengan sedikit berlari.
"Ya ampun, ternyata wanita kalau sudah marah sangat menyeramkan, bisa lebih kuat dari superhero"
David membawa tubuhnya duduk ditepi ranjang, menunggu Alya sambil mengelus-elus pipinya.
__ADS_1
Tak lama Alya pun keluar dari kamar mandi, ia melihat David yang mengelus-elus pipinya yang penuh lebam akibat perbuatannya. Namun Alya bersikap seperti biasa walaupun sebenarnya ia merasa kasihan melihat wajah David seperti itu, karena itu adalah salahnya sendiri.