Dendam Istri Yang Tak Dianggap

Dendam Istri Yang Tak Dianggap
BAB 67


__ADS_3

"Alya.....


Saat ini Alya tengah berada di taman yang berada di belakang rumah, jemari jemari lentiknya dengan lembut menyapu bunga-bunga yang merekah, sebelum kedua tangan kokoh itu mengagetkan nya yang tiba-tiba melingkar di pinggangnya dari belakang.


Alya memekik saat tiba-tiba David memeluk nya dari belakang, serta tangan David yang langsung mengelus elus perut nya.


Alya mencoba melepas kedua tangan David yang memeluknya namun David semakin mengeratkan pelukan nya.


"Alya, aku mohon tolong maafkan aku, terima aku kembali demi anak kita. Aku tau kesalahan ku sudah sangat banyak dan mungkin sudah tidak bisa dimaafkan lagi, tapi setidaknya tolong lakukan demi anak kita"


"Aku berjanji akan menjadi suami dan Ayah yang baik. Aku berjanji akan melindungi dan menjaga kalian berdua. Aku berjanji tidak akan pernah menyakiti mu lagi, Alya"


"Lepas, aku bilang lepas!


"Aaaaa... David seketika melepas pelukannya dari pinggang Alya lalu berjongkok mengelus kaki nya yang sakit karena Alya menginjak nya.


"Dengar ya Kak David! Aku membiarkan Kak David tinggal di sekitar ku hanya karena permintaan Kak David yang ingin melihat perkembangan anak ini sampai dia lahir. Dan Kak David harus ingat, setelah anak ini lahir, Kak David harus bersiap-siap, rela tidak rela, mau tidak mau, kita tetap harus bercerai karena aku benar-benar sudah muak dengan Kak David bahkan aku merasa jijik berdekatan denganmu,"


"Aku membencimu, sangat sangat membencimu! Jadi jangan pernah mencoba merayu ku untuk memaafkan Kak David dengan membawa-bawa anak ini, karena semuanya akan tetap sama dan tidak akan pernah berpengaruh apapun pada ku. Keputusan ku sudah bulat, setelah anak ini lahir, kita bercerai!" ucap Alya dengan tegas, lalu meninggalkan David ditaman itu sendiri.


Lagi-lagi David hanya bisa menatap langkah Alya yang meninggalkan nya.


"Aku menyesal Alya, tolong maafkan aku" Lirih nya.

__ADS_1


Setelah Alya hilang dari pandangan nya, David membawa tubuhnya untuk duduk dibangku Taman yang tersedia, ia meraup wajahnya dengan kasar lalu merem*as rambutnya sendiri seperti orang yang frustasi.


"Bodoh, bodoh bodoh!" David merutuki dirinya sendiri dengan memukul-mukul kepala nya.


David menundukkan kepala nya, semua perbuatan nya dulu terhadap Alya menari-nari dalam memorinya. Dan itu semua, ia lakukan dalam keadaan yang sadar se-sadar-sadar nya.


Setelah beberapa saat merenung, David dikagetkan dengan ponselnya yang berdering di dalam saku celana nya. Ia pun berdecak kesal melihat yang menelponnya itu dari nomor yang tidak di kenal.


Dengan malas, David pun mengangkat panggilan itu.


"Halo, ini siapa?" tanya David dengan nada jutek.


"Maaf Pak, apa benar ini bapak David Riccardo?" tanya seseorang wanita yang menelpon David itu.


"Iya benar, Anda siapa ya? dari mana bisa tau nomor ponsel ku?"


"Anda jangan bercanda ya, jelas-jelas istri saya berada dirumah, bagaimana mungkin istri saya berada dirumah sakit dan juga usia kandungan nya belum waktunya untuk melahirkan"


"Maaf Pak, istri bapak bernama Lestari kan? dan dia sekarang sedang di tangani oleh dokter, jadi mohon bapak segera datang kerumah sakit" panggilan pun terputus, dan David sampai membanting ponselnya sangat marah karena lagi-lagi Lestari membuat ulah dengan mengatakan kalau ia adalah suaminya pada pihak rumah sakit.


David kini sudah berada di rumah sakit, saat ia sampai dirumah sakit ternyata Lestari sudah melahirkan bayi berjenis kelamin laki-laki.


David pun tidak ingin melewatkan kesempatan ini, sebelum Lestari sadar, ia harus melakukan tes DNA pada bayi itu walaupun David sangat yakin kalau itu bukanlah anaknya, namun David tetap harus melakukannya untuk membuktikan pada semua orang kalau ia tidak berbohong dan juga agar Lestari tidak memiliki alat untuk memeras nya lagi.

__ADS_1


"Maaf Pak David, Bapak silahkan untuk meng-azani bayi Bapak" ucap Dokter yang menghampiri David yang hanya berdiri di luar ruangan.


"Maaf Dokter saya tidak bisa, kalau boleh saya meminta dokter yang meng-azani bayi itu"


Dokter itupun terdiam sejenak dengan manatap David, menurutnya ini aneh. Sebelumnya David meminta untuk di tes DNA dengan bayi itu, dan sekarang David menolak untuk meng-azani bayi nya.


"Tapi kenapa Pak David tidak bisa meng-azani bayi bapak sendiri?" tanya Dokter itu penasaran.


"Maaf Dokter saya tidak bisa memberitahu apa alasannya, jika Dokter tidak bisa meng-azani bayi itu tidak masalah, saya akan mencari orang lain untuk melakukannya"


Dokter itu menghela nafasnya, ia benar-benar tidak habis pikir, seorang Ayah menolak untuk meng-azani bayinya sendiri.


"Baiklah kalau begitu, Pak. Tidak perlu mencari orang lain untuk meng-azani bayi bapak, biar saya saja yang meng-azani bayi bapak"


"Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih banyak karena dokter sudah mau meng-azani bayi itu. Dan satu lagi dok, untuk masalah tes DNA itu jangan sampai bocor apalagi sampai diketahui oleh ibu dari bayi itu, dan nanti setelah hasilnya keluar dokter langsung segera hubungi saya langsung" dokter itu hanya menganggukkan kepala nya dan masuk kembali kedalam ruangan tempat bayi nya Lestari untuk meng-azani nya.


Setelah membayar semua biaya administrasi untuk Lestari dan bayinya. David pun meninggalkan rumah sakit itu tanpa memperdulikan atau melihat terlebih dahulu keadaan Lestari dan juga bayi itu.


Sementara Reno yang saat ini mendengkam di dalam penjara, sangat senang saat di beritahukan kalau Lestari saat ini sudah melahirkan dan bayinya berjenis kelamin laki-laki.


"Aku tau Lestari, anak itu pasti adalah anakku. Bagaimana pun keras nya kau mengatakan kalau anak itu adalah anaknya David, tapi aku tetap yakin kalau anak itu adalah anakku"


Semenjak berada di dalam sel, Reno tidak pernah sekalipun terlihat menampakkan senyum diwajahnya. Tapi saat mengetahui kalau Lestari sudah melahirkan, ia benar-benar senang dan binar kebahagiaan pun terpampang jelas diwajahnya.

__ADS_1


"Kalau benar anak itu adalah anakku, berarti sekarang aku telah menjadi seorang Ayah" Reno sampai mengucapkan syukur untuk itu.


"Lestari aku berjanji, setelah aku bebas dari sini aku kamu dan anak kita akan bersatu, walaupun hadirnya anak itu dengan sebuah kesalahan tapi aku senang sekarang aku sudah menjadi seorang Ayah, terima kasih Lestari karena sudah mempertahankan anak itu hingga dia lahir"


__ADS_2