
Kini Tyson telah sampai dirumah utama nya, rumah tempat ia membesarkan David dan Alya. Terdengar helaan nafas panjang sebelum ia melangkah masuk kedalam rumahnya, sebisa mungkin ia meredam kemarahannya untuk saat ini, biarlah putrinya yang sedang menunggu disana yang akan menyelesaikan semuanya.
Perlahan tapi pasti, Tyson dengan kewibawaannya melangkahkan kakinya menuju kamar Putra nya. Saat membuka pintu kamar David, Tyson mengerutkan kening nya melihat keadaan kamar David yang sudah seperti kapal pecah, benar-benar seperti kapal pecah karena bahkan isi lemari pakaian nya pun tak bersisa didalam lemari, semuanya berhamburan ke lantai.
"David! apa-apaan ini!"
David yang masih terduduk di lantai menoleh ke asal suara, dan langsung bangkit seketika melihat ada Papa nya berdiri di ambang pintu.
"Pa, Papa pulang bersama Alya kan Pa? dimana Alya Pa, aku harus bicara dengan nya Pa, berita itu bohong Pa, Lestari berbohong Pa dia menipu kita semua, itu bukan anak.....
Plak.....!
Belum selesai David berbicara, kalimat nya terhenti karena satu tampar*n keras yang mendarat di pipinya. Sudut bibirnya yang berdarah karena pukulan dari Kevin, kini berdarah lagi akibat tampar*n yang baru saja di layangkan oleh Papa nya.
"Pa....
David memegangi pipinya yang terasa panas, bahkan rasanya lebih sakit dari pada pukulan Kevin.
"Tampar*n itu tidak ada apa-apanya David! bahkan belum sebanding dengan apa yang sudah kau perbuat"
"Seharusnya Papa menghajar mu habis-habisan, tapi Papa tidak ingin membuang-buang tenaga Papa untuk menjadi hal yang tidak berguna seperti itu. Dan sekarang bersiaplah, ikut Papa ke suatu tempat"
"Kita mau kemana, Pa?"
"Tidak usah banyak bertanya, kau ikut saja, nanti kau akan tau sendiri" Tyson pun melangkah keluar dari kamar David, dan David pun mengikuti Papa nya tanpa mengganti pakaian nya terlebih dahulu yang sudah terlihat lusuh.
Sementara dirumah tempat Alya tinggal, Mama Herlina tiada hentinya meminta maaf pada Alya atas nama Putra semata wayang nya itu, Mama Herlina meminta maaf atas semua yang sudah dilakukan oleh putranya itu terhadap Alya, bahkan Mama Herlina sampai bersimpuh di kaki Alya agar Alya mau memafkan Putra nya itu.
"Ma, ayo berdiri Ma, aku mohon jangan seperti ini Ma, Mama tidak seharusnya melakukan ini" Alya mencoba untuk membuat Mama Herlina berdiri, tapi Mama Herlina semakin erat memegang kedua kaki Alya.
"Mama mohon maafkan David, Alya. Mama yakin David pasti sudah berubah, dan Mama yakin berita itu pasti bohong, perempuan itu pasti bohong"
__ADS_1
"Ma ayo berdiri Ma, aku mohon jangan seperti ini"
"Tidak Alya, sampai kau mau memafkan David Mama akan terus seperti ini"
"Ma, Papa sedang menjemput Kak David sekarang, nanti setelah dia datang kita akan bicarakan semua bersama"
Mendengar ucapan Alya itu, Mama Herlina mendongakkan kepalanya menatap Alya.
"Sungguh? David akan datang?" mata Mama Herlina berbinar, ia sudah sangat merindukan Putra nya itu, sejak Alya dipindahkan ke rumah itu ia memang tidak pernah bertemu David lagi.
"Iya Ma, Papa sudah pergi menjemputnya"
Mama Herlina pun berdiri, dan langsung memeluk Alya.
"Terima kasih, Nak. David akan datang ke sini, itu artinya kau sudah memaafkan David kan?"
"Nanti akan kita bicarakan setelah Kak David dan Papa datang, Ma"
Papa Tyson dan David kini telah sampai dihadapan sebuah rumah yang tak kalah mewahnya dengan rumah utama.
Pandangan mata David berkeliling menatap sekitarnya.
"Pa ini rumah siapa?"
Tyson mulai melangkah masuk sambil menceritakan tentang rumah itu. "Rumah ini sudah lama Papa siapakan, dan rencananya nanti akan Papa berikan padamu dan juga Alya tapi setelah kalian memiliki anak, tapi.... huh, sudahlah itu sudah tak penting lagi, lebih sekarang kita temui o:v didalam yang susah menunggu kita" seru Tyson dengan terus melangkah, sementara David mengikuti langkah Papa nya tanpa bertanya. Ia takut akan membuat Papa nya kembali marah jika ia bertanya, dan sampailah mereka pada sebuah ruangan.
Di sana terlihat seorang wanita yang sedang berdiri menatap kearah luar jendela membelakangi mereka, diruangan itu juga ada Mama Herlina dan nek Minah.
Mama Herlina yang melihat David datang, langsung berlari dan memeluk Putra nya, beberapa bulat tidak bertemu, rindunya sudah terobati sekarang.
"Ma, Mama ada disini? nek Minah juga" tunjuk David pada wanita lanjut usia yang berdiri di samping wanita yang tidak David ketahui siapa.
__ADS_1
'Dan siapa wanita itu? dimana Alya, apa dia ada disini juga?' batinnya bertanya.
"David, Mama kangen banget sama kamu" Mama Herlina semakin erat memeluk Putra nya.
"Aku juga kangen banget sama Mama, kenapa Mama gak pernah ikut Papa pulang?" tanya David, dan Mama Herlina langsung menatap suaminya, sementara Tyson langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Dan Mama Herlina pun menundukkan kepalanya. Sejenak ruangan itu menjadi sunyi, hingga terdengar suara nek Minah yang berpamitan untuk ke belakang.
"Nenek pamit ke belakang dulu" dan semua yang di ruangan itu menganggukkan kepalanya.
"Pa, sebenarnya ada apa Papa mengajak ku kesini? dan siapa dia, Pa?" tunjuk David pada wanita yang berdiri membelakangi mereka itu.
Papa Tyson terkekeh, lalu melipat kedua tangannya di dada.
"Apa kau tidak mengenalinya?'' David menggelengkan kepalanya.
Tentu saja David tidak bisa mengenali Alya jika hanya melihat dari belakang seperti itu, beberapa bulan ini, tubuh Alya yang sudah ramping itu terlihat sedikit berisi karena pengaruh dari kehamilannya, dan juga rambutnya yang sudah lebih panjang dari sebelumnya.
"Pa, apakah Alya ada disini juga? dimana dia Pa? aku mohon tolong izinkan aku bertemu dengan Alya Pa" David memohon, namun Tyson hanya menanggapinya dengan tatapan datar.
"Kau bicaralah dengan nya" tunjuk Papa Tyson pada wanita yang berdiri membelakangi mereka, yang tak lain adalah Alya.
"Ma, ayo kita pergi dari sini, biarkan mereka berbicara berdua saja" ajak Tyson, lalu menarik tangan istrinya pergi dari ruangan itu, mengisahkan Alya dan David yang masih sama-sama bungkam.
David benar-benar tidak tahu siapa wanita yang berdiri disana. Pandangannya berkeliling mencari sosok yang ia cari, sosok yang sudah sangat ia rindukan, dan ada banyak hal yang ingin ia sampaikan padanya, termasuk juga tentang berita hari ini, ia ingin menjelaskan bahwa berita itu tidak benar, Lestari berbohong!.
Juga Alya, seribu kata yang sudah ia rangkai sebelum nya menguap entah kemana. Lidah nya seakan keluh untuk memulai, padahal sebelumnya ia sudah dengan yakin akan mengatakan apa yang akan ia katakan pada Lelaki yang berdiri di belakangnya menatapnya bingung.
Perlahan David melangkahkan kakinya mendekat pada wanita yang membelakangi nya itu. Sementara Alya, entah kenapa perasaannya menjadi berkecamuk mendengar suara langkah yang terdengar jelas pada lantai yang beradu dengan sepatu yang digunakan David.
"Maaf, anda siapa?"
__ADS_1
.......