
Herlina dan Alya pun akhirnya selesai membuat kue, mereka membersihkan wajah terlebih dahulu sebelum menghidangkan kue yang mereka buat.
"Biar Mama yang siapin kue nya, kamu pergi panggil Papa dan suami kamu ke ruang keluarga ya" perintah Herlina pada menantu nya itu.
"Iya Ma" jawab Alya, iapun terlebih dahulu memanggil Papa mertuanya.
Tok tok tok... Alya mengetuk pintu kamar mertuanya itu.
Pintu kamar terbuka, dan lelaki paruh baya yang sudah membesarkannya dan kini telah menjadi Papa mertuanya keluar dari kamar itu.
"Kue nya sudah jadi ya, Nak" tanya Tyson, sembari tersenyum pada menantu nya itu.
Alya membalas senyuman itu dan juga menganggukkan kepalanya. "Iya Pa, Papa langsung ke ruang keluarga aja ya Pa, Mama sudah menunggu disana. Aku mau panggil kak David dulu" ucap nya. Lelaki paruh baya itupun menggangguk, dan Alya segera pergi ke kamarnya untuk memanggil lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu. Setelah Alya pergi, Tyson pun melangkah menuju ruang keluarga dimana Istrinya sudah menunggu disana.
Alya masuk ke kamarnya, terlihat sosok lelaki yang akan ia panggil ke ruang keluarga itu sedang duduk bersandar di kepala ranjang sambil memainkan ponselnya. Sudah pasti lelaki itu sedang chating dengan sekertaris bin kekasihnya itu.
"Kak David..."Alya memanggil David, namun lelaki itu hanya menatapnya sekilas lalu kembali menatap layar ponselnya tanpa menjawab.
Alya melangkah lebih dekat lagi kearah David, hingga ia berdiri di samping ranjang suaminya. "Kak, Kak David dipanggil Mama ke ruang keluarga sekarang"
Dan sama seperti biasanya, lelaki selalu mengabaikan Istrinya. Dengan malas David mengangkat pandangannya pada wanita yang berdiri di samping ranjangnya itu. Dan saat pandangan mereka bertemu, entah kenapa David malah menatap intens wajah wanita yang berstatus sebagai Istrinya itu, dan tidak langsung membuang muka seperti biasanya.
"Bekas luka diwajahnya sudah mulai memudar, sejak kapan? Kenapa aku baru menyadarinya sekarang" ucapnya dalam hati. Namun di detik berikutnya David kembali seperti biasanya, acuh dan ketus.
__ADS_1
"Ada apa?" tanyanya dengan nada yang terdengar cuek sambil mengetik sesuatu di ponselnya.
"Kak David, dipanggil Mama ke ruang keluarga" ucap Alya lagi mengulangi kalimat nya.
"Ya nanti aku kesana" kata David, lelaki itu masih sibuk dengan ponselnya.
"Pasti kak David lagi chating sama wanita itu" ucap Alya dalam hati, iapun keluar dari kamar itu dan menuju ruang keluarga dimana sudah ada kedua mertuanya yang menunggu disana.
Setelah Alya berbalik badan, David menatap punggung wanita itu hingga hilang di balik pintu, lelaki itupun menarik sudut bibirnya menyunggingkan senyum lalu kemudian iapun menyusul wanita itu ke ruang keluarga dan tak lagi menghiraukan pesan masuk dari wanita yang beberapa tahun ini mengisi hatinya.
••••••
Saat David tiba diruang keluarga, disana sudah ada Papa dan juga Mama nya. David langsung duduk di sofa yang berhadapan dengan Alya.
"Wah ada apa ni Ma? Banyak kue gini" ucap David, lalu mengambil potongan kue itu dan memasukkan ke mulutnya. "Oh ya, kenapa Mama memanggil ku?" tanyanya lagi.
"Oh jadi kue ini Mama sama Alya yang buat" ucap David pura-pura tidak tau, sambil mengunyah kue yang ada di dalam mulutnya.
"Iya, lebih tepatnya Alya yang buat kue nya, kalau Mama mah cuma bantu-bantu aja" ucap Herlina membenarkan.
"Oh"
"Gimana Vid, enak gak kue buatan istri kamu?'' tanya Tyson.
__ADS_1
"Lumayan Pa" jawab David sambil terus memakan kue itu.
"Kok lumayan sih, pasti enak lah. Itu kamu ketagihan makan kue nya, sudah pasti enak dong" kata Tyson.
"Hem" David hanya merespon dengan deheman, ucapan Papa nya.
"Masa aku harus memuji kue buatannya, nanti dia kegeeran lagi" kata David dalam hati.
Herlina, Tyson dan juga Alya ikut memakan kue itu.
Setelah semua kue buatan Alya itu habis tak bersisa keempat orang berbeda usia itu kembali kekamar mereka.
Saat menuju ke kamar, David sengaja berjalan dibelakang Alya dan membiarkan Alya berjalan mendahuluinya dengan tujuan agar bisa memperhatikan tubuh Alya yang sudah tidak gendut lagi dari belakang.
Didalam kamar, Alya langsung menunju kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan setelahnya akan mengolesinya dengan cream penghilang bekas luka. Sementara David, ia langsung menuju ranjangnya dan duduk disana, namun tatapan terus tertuju pada pintu kamar mandi yang baru saja tertutup.
David mengambil ponselnya yang terus bergetar diatas ranjang, ia hanya melihatnya lalu meletakkannya kembali di atas ranjang. Sementara wanita diseberang sana sudah mengeluarkan sumpah serapah nya karena David hanya membaca pesannya namun tidak membalasnya.
Tak lama Alya keluar dari kamar mandi dan David langsung merebahkan tubuhnya di ranjang berpura-pura tidur, sementara Alya ia hanya meliriknya sekilas lalu menuju nakas dan membuka laci kecil tempat ia menyimpan cream penghilang bekas luka nya.
David yang berpura-pura tidur, sesekali mengintip melihat Alya yang berdiri dihadapan cermin sedang mengolesi wajahnya yang entah David tidak tau itu apa.
"Apa yang dia oleskan diwajahnya itu ya? David penasaran dengan apa yang dioleskan Alya pada wajahnya.
__ADS_1
Dan Alya yang tau David hanya berpura-pura tidur melalui pantulan cermin, menarik sudut bibirnya menyunggingkan senyum.
"Bagaimana sekarang kak David, apa kak David mulai memperhatikan perubahan ku" kata Alya dalam hatinya.