
"Maaf mbak, kartu ini sudah tidak bisa digunakan lagi" ucap kasir di sebuah pusat perbelanjaan elite di ibukota.
Mata Lestari terbelalak, terkejut mendengarkan ucapan kasir itu.
"Tidak mungkin tidak bisa digunakan lagi, baru tadi Malam saya menggunakan nya, coba sekali lagi!" perintah Lestari, dan kasir itupun mencoba nya lagi namun hasilnya tetap sama.
"Beneran mbak, Kartu ini sudah tidak bisa digunakan lagi, kalau tidak percaya mbak bisa mencobanya sendiri"
Dan benar saja apa yang dikatakan oleh kasir itu, setelah Lestari yang mencoba nya sendiri Kartu nya memang tidak bisa digunakan lagi.
'Ah sial!!! ini pasti ulah David, awas saja kau, aku akan memberi perhitungan padamu karena sudah berani mempermainkan ku!'
"Maaf Mbak, apa Mbak ada kartu lainnya?" tanya kasir, membuyarkan lamunan Lestari yang kesal.
Lestari tidak menjawab, ia mengambil Kartu nya lalu meletakkan barang belanjaannya di meja kasir kemudian pergi dari sana.
"Mbak, Mbak ini belanjaannya gimana?" teriak kasir, namun tidak dihiraukan oleh Lestari dan malah melangkah semakin jauh tanpa mau menoleh lagi karena sudah sangat malu.
"Huh dasar! mau belanja tapi gak punya uang" gerutu kasir itu.
Tujuan Lestari sekarang adalah pergi menemui David untuk menanyakan soal Kartu nya yang tidak bisa digunakan lagi, namun saat sampai di perusahaan David Lestari tidak menjumpai David disana.
Lestari pun akhirnya menghubungi David untuk bertemu, dan sekarang keduanya telah berada di sebuah cafe dengan duduk berhadapan, tak ada lagi rasa diantara keduanya.
"Ada apa kau mengajakku bertemu disini?" ucap David dingin.
Lestari menatap David, namun tangannya merogoh tas nya mengambil Kartu dari dalam sana kemudian meletakkannya di atas meja.
"Apa maksudnya ini?"
"Maksudmu apa?" tanya David balik menatap Kartu itu, dan membuat Lestari bertambah kesal sampai menggebrak meja.
__ADS_1
"Jangan berpura-pura tidak tau, David! ini pasti ulah mu kan? Kartu ini tidak bisa digunakan lagi" ucap Lestari dengan nada tinggi.
David tertawa pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya serta melipat kedua tangannya di dada.
"Huh, Lestari Lestari. Gini ya, dulu kan aku memberikan Kartu itu untuk membiayai hidup kamu, bukannya untuk kamu foya-foya!"
"Dan untuk apartemen, kurasa kau sudah tidak pantas lagi tinggal disana, karena aku tidak sudi kau mengotori apartemen ku dengan kekasih baru mu itu" sambung David.
Bukannya terkejut karena David sudah mengetahui hubungannya dengan Reno, Lestari malah tertawa kencang.
"Hahahah, apa kamu bilang tadi? Kotor? hahahah, bukankah apartemen itu memang sudah kotor karena kita berdua kalau kau lupa!"
David diam, yang dikatakan Lestari itu adalah benar. Namun selama ini ia berusaha melupakan itu semua, berusaha memperbaiki diri, baginya itu adalah kenangan terburuk dalam hidupnya.
Namun, pesan masuk diponsel David seketika membuat nya tersenyum.
"Wah tidak ku sangka, ternyata kekasih barumu itu adalah seorang bandar narkoba"
Setelah beberapa saat terdiam, Lestari pun juga menyunggingkan senyum karena teringat sesuatu, ia pun merogoh tas nya dan mengeluarkan benda kecil dan meletakkan di atas meja tepat dihadapkan David agar David bisa melihatnya dengan jelas.
"Aku hamil!" ucap Lestari, dan membuat David langsung mendongakan kepalanya menatap Lestari yang berdiri.
Yah, setelah percakapan nya tadi malam dengan Reno, Lestari mengimbanginya, iapun teringat kalau dia sudah hampir 2 bulan ini memang tidak kedatangan tamu bulanannya. Dan Lestari pun akhirnya membeli testpack dan benar saja muncul 2 garis merah pada benda kecil itu.
"Terus... Oh oh, jangan bilang sekarang kau ingin mengatakan kalau itu adalah anakku dan aku harus bertanggung jawab, begitu? ucap David sambil terkekeh.
" Jangan mimpi! kau pikir aku percaya begitu saja hah!? aku tidak sebodoh itu Lestari, apa kau lupa? aku selalu menggunakan pengaman setiap kali kita melakukannya" ucap David sinis.
"Kau sepertinya melupakan sesuatu David! apa kau ingat, terakhir kali kita melakukannya waktu itu kau tidak memakai pengaman, jangan lupa itu David!"
Deg...
__ADS_1
Dalam hati David begitu terkejut, namun ia berusaha untuk tetap tenang. Ia mengingat-ingat lagi, dan memang benar waktu itu ia tidak menggunakan pengaman karena entah bagaimana ceritanya waktu itu ia sampai tidak sadar dan mengira Lestari adalah Alya.
"Tapi aku tetap tidak percaya kalau itu adalah anakku, dan aku akan mencari bukti untuk itu!" kemudian David pun pergi dari tempat itu, dengan perasaan yang benar-benar kacau.
Dalam hati ia begitu takut, bagaimana kalau benar, anak yang dikandung Lestari itu adalah anaknya? Memikirkan itu membuat kepala David serasa ingin pecah, belum selesai masalahnya bersama Alya dan juga Papa nya, dan kini malah timbul masalah baru.
Rasanya, David sudah serasa seperti gila dengan semua masalah nya.
Setelah kemarin berpikir dengan keras, akhirnya Tyson pun memutuskan untuk memindahkan Alya lagi, karena menurutnya cepat atau lambat David akan segera menemukannya jika Alya dirawat dirumah sakit. Namun, kali ini Tyson memindahkan Alya bukan ke rumah sakit lagi melainkan memindahkannya ke sebuah rumah mewah, dan tentu saja dilengkapi dengan peralatan medis serta dokter dan juga perawat pribadi yang akan merawat Alya dirumah itu, atas permintaan Tyson. Dan jangan lupakan nek Minah yang selalu setia menemani mereka.
Rumah itu sudah lama Tyson persiapkan, dan rencananya akan ia berikan pada David dan Alya setelah mereka mempunyai anak nanti, dan keberadaan rumah itu sudah Tyson pastikan David tidak mengetahui nya, bahkan Herlina pun baru mengetahui nya saat ini.
.....
Waktu begitu cepat berlalu, hingga tak terasa 6 bulan pun sudah terlewati semenjak hari di saat Alya mengalami kecelakaan.
Alya pun kini telah sadar dari koma nya sejak 2 hari yang lalu, namun saat ia sadar ia sedikit terkejut mendapati perutnya yang membuncit. Dan saat Papa Tyson menjelaskan semuanya, ia hampir tak percaya, bagaimana kandungan nya bisa selamat sementara ia saja sampai koma karena kecelakaan itu?
Namun, Alya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia nya, ternyata anak yang ia benci ayahnya, benar-benar bertahan dan tumbuh sehat dalam kandungannya meski saat ia tak sadar selama 6 bulan lamanya.
"Kau sedang melihat apa, Nak?" Alya yang sedang berdiri di balkon kamarnya menatap pemandangan hijau disana dikejutkan oleh Tyson yang tiba-tiba ada disampingnya.
Namun Alya tak menjawab pertanyaan itu, ia hanya tersenyum dengan terus menatap pemandangan hijau disana.
"Bagaimana perasaan mu sekarang, Nak? tanya Tyson lagi.
Alya menggelengkan Kepalanya tanpa melihat kepada Tyson yang berdiri di samping nya.
" Masih sama seperti dulu, Pa" jawab Alya datar.
"Papa akan mendukung apapun keputusan mu"
__ADS_1