
BAB 45
"Alya, apa kau baik-baik saja?" Denis melambai-lambai tangannya di depan wajah Alya yang melamun.
Alya pun terkesiap dari lamunannya lagi, ia tersenyum pada Denis, menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.
"Ah ya Denis, aku baik-baik saja"
"Tapi kenapa dari tadi aku perhatikan, kamu melamun terus, apa ada yang sedang kamu pikirkan?"
"Gak ada kok, Denis"
"Em, Alya apa aku boleh tanya sesuatu?" Tanya Denis, sudah lama ia ingin bertanya namun tidak ada keberanian, Denis pikir sekarang adalah waktu yang tepat untuk bertanya.
"Tanya apa, Denis?" Alya pun penasaran dengan apa yang ingin Denis tanyakan pada nya.
"Tapi sebelumnya, jangan tersinggung ya dengan pertanyaan ku ini" Alya pun menganggukan kepalanya.
"Em... Apa sebelumnya kau pernah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki sebelum datang ke desa ini?" Tanya Denis, sebenarnya ia tidak enak menanyakan hal itu pada Alya, tapi Denis juga benar-benar penasaran dengan status Alya.
Alya diam, ia bingung dengan jawaban apa yang akan ia berikan pada Denis.
Jika ia mengatakan sudah menikah, Denis pasti akan menanyakan lagi kenapa Alya bisa datang dan tinggal di desa itu.
Apakah sedang bertengkar dengan suaminya, lalu pergi menghindar?
__ADS_1
Dan, jika Alya berbohong dengan mengatakan ia belum menikah, ia takut Denis akan berharap padanya, mengingat Denis yang begitu baik dan perhatian padanya. Karena Alya memang tidak terpikirkan saat ini untuk berhubungan dengan lelaki manapun, luka yang ditorehkan oleh suaminya membuat Alya enggan untuk menjalin sebuah hubungan lagi, bahkan hingga sampai saat ini Alya masih sangat membenci suaminya itu.
Melihat Alya yang hanya diam, Denis pun merasa kalau ia sudah menyinggung perasaan Alya, iapun jadi tidak enak hati.
"Tidak usah di jawab, Alya. Maaf jika pertanyaan ku tadi menyinggung perasaan mu, lupakan saja pertanyaan ku tadi" Ucap Denis merasa tidak enak pada Alya.
Alya tersenyum. "Iya, gak apa-apa.
"Kalau begitu aku pamit dulu ya, Alya. Aku mau balik ke gudang lagi buat cek rempah-rempah yang akan dikirim ke kota, dan kamu pokoknya gak usah masuk kerja sampai kamu benar-benar pulih"
Setelah Denis pulang, Alya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi yang didudukinya, sebelah tangannya ia angkat membawanya pada perutnya lalu mengusap pelan. Kejadian sebulan lalu di kamar hotel itu kembali terngiang diingatan Alya saat ini, ia Benar-benar tidak menyangka ini semua akan terjadi.
.
.
.
Tak lama setelah Tyson pulang, David pun juga pulang, ia segera menhampiri kedua orangtuanya yang sedang berada di ruangan keluarga.
"Pa, bagaimana kalau kita membuat sayembara untuk menemukan Alya yang seperti Papa lakukan dulu saat Alya hi-lang, dan memberikan imbalan pada bagi siapa yang bisa menemukan Alya" Usul David. Namun ucapannya menyendu saat mengatakan kata 'hilang' karena dulu ialah yang menyebabkan istrinya itu menghilang.
Terlihat Tyson memikirkan usulan David, Tyson pun menoleh pada istrinya dan langsung di angguki oleh Herlina tanda ia juga setuju dengan usulan putranya itu.
" Baiklah kalau begitu, biar Papa yang mengurus semuanya.
__ADS_1
"Terima kasih, Pa"
"Oh ya, kapan kamu kembali lagi ke perusaan? " Tanya Tyson, ia benar-benar lelah mengurus perusahaan.
"Em, kalau untuk itu aku benar-benar minta maaf, Pa. Aku belum bisa kembali ke perusahaan selama Alya belum kembali, karena fokus ku hanya tertuju pada Alya"
Tyson menghela nafasnya. "Yah, Papa mngerti perasaan mu, Papa selalu mendoakan yang terbaik agar Alya bisa segera kita temukan dan kembali berkumpul bersama kita dirumah ini"
David pun mengaminkan nya dalam hati. Ia juga berharap bisa segera menemukan Alya dan menebus semua kesalahan nya, apapun akan ia lakukan asalkan Alya mau memaafkan nya.
Setelah kedua orangtuanya berlalu ke kamar mereka, David juga beranjak melangkah menuju kamarnya. Seperti biasa selama sebulan ini, saat memasuki kamarnya David langsung menuju sofa dan menjatuhkan tubuhnya di sana.
Netra nya menatap ke sekeliling kamar, rasanya berbeda sekali tidak ada Alya didalam kamar itu. Biasanya dihadapkan cermin besar itu, ada Alya yang berdiri di sana merias wajahnya.
Benar adanya, kalau sudah tiada baru terasa bahwa kehadirannya sungguh berharga.
"Alya pulang lah, aku mohon, berhenti menghukum ku seperti ini, aku tidak sanggup. Aku merindukanmu, Alya. Aku mencintaimu" Samar-samar David pun mulai memejamkan matanya, hanyut kedalam mimpi.
.
.
.
Alya pikir, setelah pergi dari kehidupan David ia bisa melupakan segala tentang David dan memulai kehidupannya yang baru, namun apa yang selalu dikhawatirkan selama ini benar terjadi.
__ADS_1
Kepergian nya ini bukan hanya membawa dendam dan kebencian nya pada David, namun juga hasil dari hubungan sehari didalam kamar hotel sebulan lalu.