Dendam Istri Yang Tak Dianggap

Dendam Istri Yang Tak Dianggap
BAB 79 SEASON 2


__ADS_3

Sore hari pun tiba, langit terlihat redup. Alya yang sedang menyusui baby Nayla menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 3 sore lalu kemudian menatap ke arah luar jendela.


"Sayang, cuacanya gak panas, kita jalan-jalan ke taman depan yuk, pasti bosen kan di rumah terus, iya kan?" Alya mengajak bayinya itu berbicara seolah baby Nayla sudah bisa berbicara saja. Sejurus kemudian Alya terkekeh sendiri.


"Ya udah yuk kita ke taman" Alya pun meletakkan baby Nayla ke dalam stroller kemudian mendorongnya keluar rumah.


Baru saja Alya membuka pintu, dia dikagetkan dengan David dan Kevin yang sudah berdiri dihadapan nya saat ini dengan posisi tangan David yang hendak mengetuk pintu.


"Loh Kak David, Kevin, bisa barengan gini datangnya, janjian ya?" Alya menatap kedua laki-laki itu dan kemudian dijawab dengan gelengan kepala oleh Kevin, sementara David dia langsung berjongkok memburu baby Nayla yang berada di dalam stroller.


"Hai cantiknya Papa mau kemana sih, pasti mau ke taman ya, sama Papa aja yuk" David menciumi pipi Putri nya itu yang semakin hari terlihat gembul.


"Enggak kok, Al. Kita gak janjian, tadi kebetulan sampainya barengan" ucap Kevin terkekeh.


"Al, biar aku aja ya yang bawa baby Nayla main ke taman" pinta David.


"Ya udah bareng aja sekalian" jawab Alya.


"Eh, aku juga ikutan dong ke Taman nya" sahut Kevin dengan bibir mengerucut dan membuat David dan Alya terkekeh melihat nya


Akhirnya, Alya, David, Kevin serta baby Nayla pun pergi ke Taman, David yang mendorong stroller nya baby Nayla.


Tak lama mereka pun sampai di Taman karena posisi Taman memang tidak jauh dari rumah yang ditempati Alya dan baby Nayla.


Alya dan Kevin duduk di bangku Taman sementara David membawa baby Nayla untuk berkeliling sekitaran Taman.


"Cantiknya Papa senang gak jalan-jalan sama Papa, ih gemesin banget sih" David pun kembali menghujani pipi baby Nayla dengan kecupan nya karena merasa begitu gemas.


"Papa tuh pengen banget, setiap Papa bagun tidur Papa bisa lihat kamu, tapi sayangnya gak bisa" ucap David sendu, netranya tak lepas menatap bayi mungil nya itu yang sesekali menggeliat karena ulah David yang terus mencolek colek pipinya.


David pun mengalihkan tatapannya pada Alya dan Kevin yang duduk di bangku Taman, keduanya sedang mengobrol dan terlihat sangat akrab, keduanya juga terlihat sesekali bercanda dengan saling melempar senyuman yang membuat David merasa iri melihatnya. Seandainya yang bercanda dengan Alya itu adalah dirinya.

__ADS_1


"Oh ya!?" Alya terpekik kaget mendengar cerita Kevin soal wanita yang tadi pagi datang ke kantornya, refleks tangan Alya menepuk bahu Kevin karena saking kagetnya, dan itu semua tak lepas dari tatapan David yang semakin merasa iri melihatnya.


Alya bisa tertawa lepas dengan laki-laki lain, yah walaupun Kevin menganggap Alya sudah seperti adiknya sendiri, tetap saja berbeda dengan pandangan David, apalagi sekarang dia dan Alya bukan suami istri lagi, besar kemungkinan Kevin bisa saja menggantikan posisi nya.


.....


Sebelumnya di Perusahaan Kevin Adiguna.


"Sebenarnya apa maksud anda? apa tujuan lain anda datang kemari, saya tidak mengerti" Tiba-tiba Kevin sedikit ngeri dengan tingkah wanita di hadapan nya itu.


Senyum menyeringai yang ditampilkan wanita itu perlahan meredup berubah menjadi sendu, dan membuat Kevin semakin bingung melihat perubahan ekpresi wanita di hadapan nya itu.


"Begini... " wanita itu menghela nafasnya sebelum mengutarakan niat sebenarnya datang menemui Kevin.


"Beberapa hari ini, mantan suami saya selalu datang ingin mengambil hak asuh anak saya dengan alasan saya tidak bisa memenuhi kebutuhannya, tapi saya bersikukuh untuk mempertahankan Putra saya, saya tidak ingin dia jatuh ke tangan Papa nya dan juga istri muda nya itu. Padahal, saya setiap hari sudah berusaha untuk memenuhi kebutuhan anak saya dengan berdagang keliling, tapi itu semua menurut mantan suami tidak layak untuk anak saya"


Kevin mengerutkan keningnya, sampai sini dia belum menangkap tujuan wanita ini, tapi dia menyimpulkan kalau wanita ini meminta nya untuk membantu mempertahankan hal asuh anaknya. Tapi, dengan cara apa Kevin melakukannya, dia bukan siapa-siapa nya.


"Maaf ya bukan maksud saya untuk tidak mau mendengarkan cerita anda, tapi bisakah anda perjelas maksud anda sebenarnya, apa?" ujar Kevin, sungguh dia tidak ingin berbasa-basi.


"Hu'uh, kalau begitu bisa katakan maksud anda sebenarnya, apa?" ulang Kevin.


"Begini... " wanita itu kembali menghela nafasnya, sebenarnya dia tidak enak mengatakan tujuannya ini, tapi mau bagaimana lagi, ini semua demi putranya, dan dia tidak tau harus meminta bantuan pada siapa lagi.


"Mantan suami saya itu akan membiarkan anak kami tetap berada pada saya, asalkan saya mempunyai pendamping yang mapan dan tentunya bisa membiayai semua kebutuhan anak saya"


"Terus... " Kevin sedikit penasaran.


"Jadi, saya ingin meminta bantuan anda untuk menjadi... Eh, maksud saya, untuk berpura-pura menjadi calon suami sa-ya" ucap wanita itu merasa tidak enak.


Sejenak Kevin terdiam, dia berusaha mencerna apa yang dikatakan wanita itu barusan.

__ADS_1


"Tunggu dulu, jadi maksud anda, saya harus berpura-pura menjadi calon suami anda untuk mengelabui mantan suami anda, begitu?" Kevin menaikan sebelah alisnya menunggu jawaban wanita itu.


Wanita itu pun mengangguk, canggung disertai senyum yang di buat-buat, benar-benar merasa tidak enak meminta bantuan seperti ini pada orang yang baru dikenalnya.


Ralat, bahkan belum saling mengenal, wanita ini mengetahui nama Kevin hanya dari kartu nama nya saja, belum berkenalan secara langsung. Dan Kevin, dia juga belum mengetahui nama wanita di hadapannya ini.


Kevin menghela nafasnya, membuat wanita itu merasa kalau Kevin pasti tidak mau membantunya.


"Saya mohon tolong bantu saya, ini tidak akan lama setidaknya sampai tabungan saya cukup untuk saya pergi jauh bersama putra saya, agar mantan suami saya itu tidak bisa menemukan kami lagi"


Kevin yang tadi nya akan mengucapkan sesuatu, kembali terdiam. Dia menatap wanita itu sebentar lalu menatap langit-langit ruangannya.


" 1 bulan. Saya akan membantu Anda hanya dalam 1 bulan" ucap Kevin dengan masih menatap langit-langit ruangannya, dan membuat wanita itu sangat senang.


"Terima kasih banyak, kalau begitu saya permisi" wanita itupun beranjak dari tempatnya duduknya, dan saat akan membuka pintu ruangan, Kevin menghentikannya.


"Tunggu dulu, saya belum mengetahui siapa nama anda?"


wanita itupun menoleh menatap Kevin.


"Keyla"


.......


"Keyla... Em, nama yang bagus" ucap Alya memanggut-manggutkan kepalanya.


"Jadi, kau serius akan membantunya?" tanya Alya.


"Hem, yah aku hanya kasihan kalau sampai dia benar-benar dipisahkan dengan anaknya sendiri" jawab Kevin.


Tak lama, David pun datang menghampiri mereka, beberapa saat terus memperhatikan interaksi Alya dan Kevin entah kenapa dia merasa tak suka, padahal sebelumnya Alya dan Kevin memang dekat, dan dia tak mempermasalahkan itu.

__ADS_1


"Alya, hari semakin sore, sebaiknya bawa Nayla pulang. Kevin, kita juga sebaiknya pulang" ucap David.


Mereka pun kembali pulang, dan setelah sampai rumah, David dan Kevin memasuki mobil mereka masing-masing untuk pulang dan Alya dia membawa baby Nayla masuk kedalam rumah setelah dua laki-laki itu pergi.


__ADS_2