
"Kamu siapa?"
Alya sedikit tersentak, kaget, saat tangan kokoh itu menyentuh bahunya. Sebisa mungkin ia mencoba untuk tetap tenang, rencana awalnya tidak boleh goyah hanya karena nanti Lelaki ini memohon meminta maaf padanya.
Alya mengangkat sebelah tangannya yang entah kenapa terasa kaku, lalu ia menyingkirkan tangan yang bertengger di bahu nya, namun ia masih belum juga membalikkan badannya, hanya helaan nafas yang terdengar jelas di telinga David sehingga membuatnya penasaran dengan siapakah wanita yang berdiri dihadapan nya ini dengan posisi membelakangi nya.
"Maaf, apakah aku mengenalmu?" kembali David bertanya, ia benar-benar penasaran dengan wanita dihadapan nya itu.
Masih tidak ada jawaban, David pun mulai merasa kesal. Melihat tidak ada siapa-siapa, David ingin menggunakan kesempatan ini untuk bertanya pada wanita dihadapannya itu tentang istrinya. Barangkali wanita ini tahu, pikirnya.
"Apakah kau juga tinggal disini? apakah dirumah ini ada istriku? oh ya, namanya Alya, apakah kau mengenalnya? apakah dia ada dirumah ini? apakah kau bisa mengantarkan aku bertemu dengannya?"
Pertanyaan beruntun yang diajukan David itu masih tidak ada jawaban dari wanita yang membelakangi nya itu, membuatnya benar-benar kesal lalu kemudian David kembali meraih bahu nya dan menarik dengan sekali sentakan sehingga posisi keduanya pun kini saling berhadapan.
David seolah tersihir, seketika tubuh nya mematung melihat dengan jelas wajah wanita yang sedari tadi berdiri membelakangi nya, matanya membulat sempurna menatap wajah yang sudah beberapa bulan ini dirindukan nya itu.
Sementara Alya, ia langsung membuang muka saat tatapan nya tertuju pada wajah yang ia benci itu.
"Al- Al-ya.... " David menyebut nama istrinya dengan terbata, ia sampai mengucek kedua matanya untuk memastikan kalau ia tidak salah lihat.
"Alya, sungguh ini kau?" David langsung merengkuh tubuh istrinya kedalam pelukannya, mendekap nya erat karena ia tahu Alya pasti akan berontak seperti yang sudah-sudah. Dan benar saja, Alya mendorongnya hingga terjuntal ke lantai sebelum ia melihat pada sesuatu yang terasa mengganjal saat memeluk Alya.
David meringis menahan sakit di bokongnya. Namun, saat ia hendak berdiri lagi-lagi matanya membulat saat tatapannya tertuju pada perut Alya yang membuncit.
"Alya... kau hamil?" dengan cepat David berdiri, melupakan rasa sakit di bokongnya lalu ia mendekat dan hendak memegang perut Alya, namun dengan cepat Alya menepis tangannya.
"Alya , kau hamil? aku akan menjadi Papa!" David begitu senang saat mengatakan dirinya akan menjadi Papa.
__ADS_1
"Yakin sekali kak David, kalau yang aku kandung ini adalah anak Kak David. Bagaimana kalau aku bilang, anak ini bukan anak kak David!" seru Alya.
"Itu pasti anakku, apa kau lupa? kita pernah melakukannya waktu itu...
"Huhh! Dan bagaimana kalau aku bilang, aku juga pernah melakukannya dengan orang lain!"
"Alya, kenapa kau berbicara seperti itu? aku yakin, hanya aku satu-satunya orang pernah menyentuh mu" ucap David yakin, ia beranggapan seperti itu karena waktu itu ia mendapati Alya yang masih suci.
"Kenapa Kak? kenapa Kak David tidak percaya kalau aku juga pernah tidur dengan Lelaki lain. Sementara di luar sana, ada yang dengan terang-terangan mengatakan didepan publik kalau anak yang di kandungnya itu adalah anak Kak David, tapi Kak David tidak percaya, kenapa!?"
"DeKarena aku yakin, anak yang di kandungnya itu bukanlah anakku!" ucap David berteriak, ia benar-benar frustasi semua orang tidak ada yang mau mempercayai ucapannya.
"Kenapa mengatakan yakin? kalau memang Kak David tidak merasa itu adalah anak Kak David, seharusnya Kak David mengatakan tidak pernah tidur dengannya dan bukannya mengatakan yakin!" Alya pun juga berteriak, entah kenapa ia merasa kesal mendengar jawaban David.
Deg....
David beku, apa yang harusnya dikatakannya sekarang?
" Alya.... "David mengulurkan tangannya hendak menyentuh perut Alya, tapi Alya dengan cepat menepis nya.
"Jangan sentuh aku, aku tidak sudi disentuh oleh laki-laki yang dengan mudahnya membiarkan tubuhnya disentuh oleh wanita yang bukan istrinya!"
"Alya... " David tidak menyerah, ia tetap berusaha mendekati Alya.
"Stop! aku bilang jangan sentuh aku! membayangkan Kak David dengan nya saja aku merasa jijik, apalagi bersentuhan dengan kak David yang tubuhnya bekas wanita lain!"
"Alya....
__ADS_1
"Aku meminta Papa memanggil Kak David kesini bukan untuk berbasa-basi, tapi aku ingin membicarakan tentang keputusan awal ku sebelum aku pergi dulu"Alya menatap David dengan penuh kebencian, namun David menatap Alya dengan penuh harap.
"Aku ingin kita bercerai!''
Deg....
"Alya... Aku mohon jangan katakan itu, apakah tidak ada sedikit saja ruang dalam hatimu untuk memaafkan aku demi anak kita" David menatap penuh harap matanya sudah berkaca-kaca, sekali lagi Alya mengatakan tidak, ia akan benar-benar menangis saat ini juga.
"Tidak! bahkan secuilpun tidak ada!" dan air mata David pun seketika menetes, jatuh di kedua pipinya.
David tersedu sedan, pikirannya benar-benar kacau saat ini. Untuk yang kedua kalinya Alya mengatakan ingin bercerai bahkan setelah beberapa bulan berlalu mereka bertemu kembali setelah beberapa bulan tidak bertemu.
Namun, saat mengingat suatu hal David pun sedikit tersenyum sambil mengusap sudut matanya. Yah, David akan mengatakan sesuatu yang mungkin Alya lupakan.
"Kita tidak bisa bercerai, Alya"
"Kenapa tidak bisa?"
"Lihatlah keadaan mu sekarang, bagaimana kita bisa bercerai dengan kondisi mu yang sedang hamil" tunjuk David pada perut Alya, ia yakin dengan itu Alya tidak akan meminta cerai lagi.
Alya melihat tangan David yang menunjuk arah perutnya, dan beberapa saat kemudian ia tertawa. Sedangkan David, mengerutkan keningnya melihat tanggapan Alya.
"Ya aku tau. Kita memang tidak bisa bercerai sekarang, tapi nanti setelah anak ini lahir, Kak David harus bersiap! dan aku tidak menerima penolakan!" tegas Alya.
Deg...
Lagi-lagi David meradang, ternyata dugaan nya salah, Alya akan tetap meminta cerai setelah anaknya lahir nanti.
__ADS_1
"Tapi Alya, apa kau tega membiarkan anak kita hidup dengan orang tua yang tidak lengkap. Membayangkan itu saja aku tidak sanggup Alya. Bagaimana nanti kalau dia bertanya tentang orang tuanya? bagaimana nanti kalau orang-orang mengatai nya anak broken home? dia pasti terluka Alya, jadi aku mohon pikirkanlah itu semua"
"Jangan menjadikan itu alasan, aku yakin anakku pasti akan kuat, anakku pasti akan mengerti keadaannya nanti. Malah aku tidak sanggup membayangkan kalau nanti anakku akan hidup di bawah naungan ayah seperti mu, dan lagipula Kak David juga akan memiliki anak dari wanita itu, jadi tidak usah mengkhawatirkan anakku"