
Tiga kali ketukan palu hakim, menandakan sidang perceraian itu telah resmi ditutup. Beriringan dengan itu, status Alya dan David yang kini telah berubah menjadi mantan suami-istri.
Para hakim telah meninggalkan ruang sidang, begitu juga dengan para pengunjung yang datang untuk menyaksikan sidang perceraian itu.
Papa Tyson, Mama Herlina dan Kevin juga sudah keluar dari ruangan sidang, dan menyisakan Alya dan David di dalam ruangan itu.
Melihat tidak ada siapapun lagi kecuali ia dan David. Alya beranjak dari tempat duduknya menghampiri David yang masih dengan posisinya awalnya duduk sembari menundukkan kepala.
"Kak David... " David mengangkat kepalanya mendengar namanya di sebut, ia pun menyunggingkan senyum melihat siapa yang tengah berdiri di hadapannya.
"Terima kasih karena Kak David sudah mempermudah urusan kita tak hari ini" ucap Alya lagi.
David pun beranjak dari tempat duduknya, terlihat ia mengusap sudut matanya.
"Alya, gimana perut kamu, apa masih sakit?" tanya David, ia tidak ingin membahas lagi soal status nya sekarang, ketukan palu hakim seakan masih terngiang-ngiang di telinganya. Benar-benar tidak menyangka jika hubungannya dengan Alya sudah berakhir.
"Udah mendingan" jawab Alya datar.
"Alya, maafin aku ya atas kejadian tadi malam, aku benar-benar gak bermaksud menyakiti kamu. Aku sendiri gak tau kenapa aku bisa berpikir untuk melakukan itu, aku marah, aku pikir dengan melakukan itu kita bisa tetap terus bersama-sama, tapi ternyata aku salah, aku malah membuat kamu kesakitan"
"Alya, kamu gak akan menjadi melarang aku buat ketemu Nayla kan? Setelah apa yang sudah aku lakukan tadi malam sama kamu"
"Awalnya aku berpikir seperti itu, Kak. Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, aku adalah orang yang paling jahat kalau aku sampai melakukan itu, memisahkan anak dari ayahnya" tutur Alya.
"Terima kasih, Alya. Aku benar-benar menyesal sekarang, aku memang sangat bodoh sudah menyia-nyiakan kamu, dulu"
"Sudahlah Kak, sekarang kakak harus membuka lembaran baru begitu juga dengan aku, aku do'akan semoga suatu hari nanti Kak David bisa menemukan pasangan yang baik untuk Kakak" doa Alya untuk David.
"Dan yang akan menjadi do'a ku setiap hari adalah, semoga Tuhan mempersatukan aku dan kamu lagi suatu hari nanti" ucap David diiringi dengan senyum yang di buat-buat.
"Itu urusan, Kak David. Kak David bebas mau berdo'a apa saja, dan aku akan dengan do'a ku sendiri" ucap Alya juga.
"Hem, iya" David memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Alya, apa aku boleh peluk kamu lagi? please, ini yang terakhir kalinya" Ucap David dengan tatapan memohon, tapi entahlah, ia tidak bisa menjamin ini yang terakhir kalinya, karena sebelumnya ia pernah meminta untuk dipeluk dengan kata terakhir kalinya, dan nyatanya hari ini ia memintanya lagi.
"Bukankah waktu di rumah sakit aku sudah memeluk Kak David, dan kakak bilang itu untuk yang terakhir kalinya, tapi kenapa sekarang meminta nya lagi"
"Iya aku tau, tapi kali ini berbeda. Maksudnya, aku meminta pelukan terakhir karena kita bukan suami istri lagi" jelas David.
"Yah itupun kalau kamu mau, kalau tidak mau ya tidak masalah" sambungnya. "Ayo kita keluar, Papa, Mama dan Kevin pasti sudah menunggu kita" ajaknya kemudian, karena Alya tak bergeming.
David pun membalikkan badannya hendak melangkah keluar, namun langkah nya terhenti saat kedua tangan Alya melingkar di pinggangnya dari belakang.
__ADS_1
"Alya...
" Kak, Kak David janji ya, setelah ini, nanti kalau mau datang menjenguk Nayla, kakak jangan melewati batasan kakak seperti tadi malam, karena kalau tidak, aku akan membawa Nayla pergi jauh dari kakak" Ucap Alya.
David menghela nafasnya, rasanya begitu nyaman saat ini Alya memeluknya. Namun saat mendengar ucapan Alya yang memberi peringatan sekaligus ancaman membuat nya delima, bagaimana kalau ia sampai khilaf lagi seperti tadi malam? Ia akan kehilangan dua wanita itu sekaligus pula.
"Terima kasih juga, karena dulu Kak David pernah menjadi kakak yang menyayangi aku" ucap Alya lagi, lalu melepaskan pelukan nya dari pinggang David, kemudian ia melangkah lebih dulu keluar dari ruangan itu meninggalkan David yang masih berdiri mematung ditempat nya.
Saat mencapai pintu ruangan itu Alya menoleh pada David " Kak, biar Kevin yang mengantarkan aku pulang, kakak langsung pulang saja sama Papa dan Mama" ucapnya lalu melanjutkan langkah nya, dan David pun juga keluar dari ruangan itu. Dimana, ruangan itu menjadi saksi dengan berakhirnya sebuah pernikahan.
.................
Eaaaa... eaaaaa.... eaaaaa....
"Aduh Adit, kenapa lagi sih nangis? kan tadi Mama udah kasih susu!" bentak Lestari pada bayi nya itu.
"Masih mau susu, iya? Ya udah abis ini awas kalau nangis lagi, Mama kirim kamu ke penjara tinggal sono sama Bapak kamu" Lestari pun pergi ke dapur untuk membuat kan susu untuk bayi nya, baby Aditya.
"Ck, susu nya udah mau abis lagi, mana uang aku juga makin menipis, syukur aku sempat narik uang sebelum David blokir kartunya, kalo enggak aku pasti udah gak ada uang lagi sekarang. Ini si Reno kapan keluar nya sih dari penjara, enak banget dia anaknya aku yang urus, semaunya aku beli Popok susu dan yang lain-lainnya, harusnya kan dia yang memenuhi semua kebutuhan anaknya" gerutunya sambil membuat susu untuk baby Aditya.
"Nih minum susunya terus tidur, jangan nangis lagi, udah pusing kepala Mama dengerin kamu nangis terus"
Setelah meminum susu, baby Aditya pun tidur, begitupun Lestari yang juga ikut tertidur di samping putranya. Tanpa Lestari sadari, tenyata sedari tadi di balik jendela dua orang laki-laki terus mengawasinya.
"Gimana, udah aman belum? " tanya salah seorang laki-laki yang mengintai rumah Lestari.
"Ya udah kalau gitu ayo kita langsung masuk tapi pelan-pelan jangan sampai menimbulkan suara yang bisa membangunkan perempuan itu"
Kedua laki-laki itupun masuk ke dalam kamar Lestari melalui jendela yang sudah mereka cungkil menggunakan obeng.
"Hus pelan pelan jangan sampai dia bangun, ayo kamu langsung geledah didalam lemari nya dan ambil semua barang berharga yang ada" perintah salah satu laki-laki yang ternyata memang adalah perampok yang sering berkeliaran di sekitaran tempat tinggal Lestari.
"Oke bos" ucap salah satu laki-laki itu dan langsung menggeledah lemari nya Lestari, dan laki-laki satunya lagi sedang berjaga jaga
"Bos hanya ada ini" laki-laki yang menggeledah lemarinya Lestari menunjukkan hasil temuannya di lemari Lestari, uang yang berjumlah 7 juta.
"Geledah di tempat lain!"
"Baik bos" Dan saat menggeledah bagian meja rias, ia tak sengaja menjatuhkan vas bunga dan itu membuat Lestari terbangun karena mendengar suara berisik.
"Aaaaaa.... Hei siapa kalian?!" Seketika Lestari berteriak, terkejut melihat ada dua pria bertopeng di kamarnya.
"Berisik!" Plak. "Perampok itu menamp*r Lestari dengan cukup kencang sehingga membuat sudut bibirnya berdarah.
__ADS_1
" Bos, sebaiknya kita pergi, disini tidak ada apa-apa lagi selain uang ini "
"Hei itu uang ku, kembalikan uang ku" Lestari ingin merebut uang nya yang di ambil perampok itu, tapi lagi lagi ia di tamp*r dan kali ini ia terpental dan kepalanya membentur sudut meja.
"Auuu" Lestari memegang kepalanya yang terbentur dan lagi lagi mengeluarkan darah.
"Bos ayo kita pergi, sebelum dia berteriak dan semua warga datang" kedua perampok itupun pergi melalui jendela tempat mereka masuk sebelumnya.
"Hei kembalikan uangku!" teriak Lestari, tapi kedua perampok itu sudah pergi jauh.
Beruntung perampok itu hanya mengambil uang dan sedikit melukainya, tidak melakukan hal-hal yang mengerikan seperti yang kebanyakan dilakukan oleh perampok pada umumnya, yaitu menganiay*, membun*h, bahkan memperk*sa.
"Ah sial! Mereka mengambil semua uangku, terus aku bagaimana sekarang, aku tidak punya apa-apa lagi" Lestari merem*s rambutnya, kepala nya sakit, memikirkan biaya anaknya sementara semua uang nya sudah ludes di ambil perampok.
"Aku harus menemui Reno, yah aku harus menemui Reno!"
Keesokan harinya...
Lestari datang ke kantor polisi untuk menemui Reno, barangkali laki-laki itu mempunyai harta benda yang bisa ia gunakan untuk menghidupi dirinya dan juga anaknya.
"Jadi benar kan, Les. Anak ini adalah anakku?" tanya Reno dengan mata berbinar.
"Iya" jawab Lestari malas.
Mendengar jawaban Lestari, Reno langsung menghujani banyak kecupan di pipi baby Aditya yang berada di gendongan nya.
"Namanya Aditya" lanjut Lestari memberitahu nama putra nya.
"Aditya Pratama" sambung Reno menambahkan nama putranya, mengambil dari namanya Reno Pratama.
"Lestari, aku janji, setelah aku keluar dari sini aku akan langsung nikahin kamu" ucap Reno begitu senang, ia tak hentinya mengecup pipi putranya.
Lestari pun pulang setelah menemui Reno, dan ternyata Reno juga sudah tidak memiliki apapun karena di sita. Dengan terpaksa Lestari menjual semua barang-barang di rumahnya, seperti TV, Kulkas, Mesin cuci dan beberapa perabotan lainnya yang sekiranya cukup untuk biaya hidup ia dan anaknya, sambil mencari pekerjaan sambilan sampai Reno bebas dari penjara.
Ah malang benar hidup Lestari. Dulu ia selalu hidup berkecukupan dengan fasilitas yang diberikan oleh David. Dan sekarang ia harus mencari pekerjaan yang tak pernah terbayang kan dalam benaknya, yaitu menjadi tukang cuci piring di sebuah rumah makan dan itu semua demi untuk membiayai putranya.
"David, berdo'a lah semoga di masa depan kita tidak bertemu lagi, karena kalau iya, aku akan membalasmu!"
.
.
......TAMAT......
__ADS_1
YEAY PART 1 NYA END YA, NANTI LANJUT PART 2 NYA DISINI JUGA 🤗
TERIMA KASIH UNTUK SEMUA NYA YANG SUDAH MEMBERIKAN DUKUNGAN NYA🙏