Dendam Istri Yang Tak Dianggap

Dendam Istri Yang Tak Dianggap
BAB 95 SEASON 2


__ADS_3

Satu bulan kemudian...


Lelaki paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan diusianya yang ke-47 tahun, menatap dirinya dipantulan cermin. Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman seiring dengan hatinya yang berbunga-bunga.


Bagaimana tidak? Setelah 20 tahun berlalu, wanita yang telah melahirkan putrinya baru saja menelpon, mengajaknya untuk bertemu di suatu tempat, katanya ingin membicarakan sesuatu.


Kemeja putih lengan panjang berbalut dengan jas berwarna biru dongker terlihat pas ditubuh kekarnya. Dan jangan lupakan parfume aroma aquatic yang fresh dan maskulin, aroma yang disukai oleh wanita.


Dan tidak lupa jam tangan branded yang melingkar dengan gagahnya di pergelangan tangan membuatnya semakin terlihat berkharisma.


"Alya, apapun yang akan kau bicarakan nanti, aku tidak perduli. Yang terpenting sekarang adalah bertemu denganmu. Aku sangat merindukanmu"


David pun membawa langkah kakinya yang terbalut sepatu pantofel, keluar dari kamarnya.


Sepanjang langkah menuruni anak tangga, senyumnya semakin merekah hingga kini dia sudah berada didalam mobilnya.


David menyalakan mesin mobilnya, dia juga menambah volume AC mobilnya, karena tiba-tiba saja keningnya dipenuhi dengan peluh, rasanya dia akan bertemu dengan polisi saja.


Sepanjang perjalanan menuju tempat yang sudah di beritahukan oleh Alya melalui pesan singkat, tiada hentinya David mengukir senyum diwajahnya membayangkan pertemuannya nanti dengan mantan istrinya yang dulunya juga adalah adik angkat nya.


Tak butuh waktu lama, hanya dalam 15 menit berkendara , mobil David sudah terparkir rapi di pelataran sebuah cafe yang terletak di ibukota.


Cafe tersebut tampak ramai, karena kebetulan hari ini adalah hari minggu. Banyak pengunjung yang datang dari berbagai kalangan.


David melangkahkan kakinya memasuki cafe itu, dan didalam cafe dia mengedarkan pandangannya mencari sosok yang mengajaknya bertemu. Hingga, tatapannya tertuju pada wanita yang tengah sibuk dengan ponselnya. Dialah Alya, wanita yang sudah 20 tahun ini dia rindukan, wanita yang telah melahirkan putrinya.


Sejenak David terpaku ditempatnya, tatapannya tak lepas menatap mantan istrinya itu. Sebuah senyuman terpampang jelas diwajahnya. Jantungnya mulai berdetak tak karuan, seolah dia sedang jatuh cinta pada pandangan pertama.


David mulai melangkahkan kakinya dengan perlahan, menuju dimana wanita yang sudah lama dirindukan itu duduk mengarah padanya. Namun, sayang mantan istrinya itu tak melihat kearahnya karena sedang sibuk dengan ponselnya.


Dan kini, David sudah mendudukkan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan mantan istrinya itu.

__ADS_1


"Alya...


Alya yang mendengar namanya disebut, sontak langsung mengangkat pandangannya menatap ke asal suara, dia tidak menyadari kedatangan mantan suaminya itu karena terlalu fokus pada layar ponselnya.


Seketika Alya menjadi gugup, ini adalah pertemuan pertamanya setelah 20 tahun berlalu. Jantungnya pun terpompa dengan cepat, dan dia sendiri tidak tau kenapa bisa seperti ini, padahal terakhir kali bertemu dengan mantan suaminya ini, Alya dengan beraninya menatap tajam laki-laki yang sekarang telah duduk dihadapannya, dan entah kenapa sekarang dia menjadi begitu gugup bertatap muka dengannya.


"Alya, apa kau baik-baik saja? tanya David, dia sedikit khawatir melihat raut wajah mantan istrinya terlihat berbeda, seperti sedang menahan sesuatu yang David sendiri tidak tau itu apa.


"A a-ku tidak apa-apa?" jawab Alya dengan terbata, sungguh saat ini dia benar-benar gugup. Padahal dia sendiri yang mengajak mantan suaminya ini untuk bertemu.


"Apa yang ingin kau bicarakan Alya?" tanya David lagi, setelah memastikan kalau mantan istrinya itu benar baik-baik saja.


"Kak, sebaiknya kita pesan makanan dulu, kebetulan aku juga belum makan siang, itupun kalau kak David tidak keberatan" Alya mengumpati dirinya dalam hati, kenapa juga harus memesan makanan dulu, itu hanya akan membuat nya semakin lama berhadapan dengan David, seharusnya dia mengatakan saja langsung apa yang ingin dibicarakan nya.


"Aku sama sekali tidak keberatan, dan kebetulan juga aku memang belum makan siang juga" ucap David, dia tersenyum, namun Alya segera mengalihkan tatapannya.


David memanggil pelayan untuk memesan makanan. Dan David memesan makanan kesukaan Alya.


Namun, didalam hati masing-masing masih terbesit rasa tak percaya jika hari ini mereka bertemu, rasanya seperti sebuah mimpi.


"Em, Alya sepertinya sebutan kakak sudah tak pantas lagi kau sebutkan padaku, mengingat usia kita sekarang sudah tak lagi muda" ucap David disela-sela makannya, memecah keheningan.


"Lalu, aku harus memanggil apa?" Alya menatap David sekilas, kemudian melanjutkan makannya.


Sejenak David tampak berpikir disela-sela mengunyah makanannya, Kira-kira sebutan apa yang cocok untuk Alya sebutkan padanya.


"Em, mungkin dengan sebutan Mas itu lebih cocok sekarang. Dan sebutan Papa apabila kita masih suami istri"


Uhuk uhuk... Tiba-tiba Alya tersedak mendengar kalimat terakhir David tadi.


"Ya ampun Alya, makannya pelan-pelan" David menyodorkan segera air putih pada Alya, dia sempat panik tadi melihat Alya tersedak.

__ADS_1


Dan Alya, dia mengambil segelas air putih dari tangan David, kemudian meminumnya.


David yang melihat sudut bibir Alya yang basah karena sisa air yang di minumnya, mengambil tisu kemudian mengusap sudut bibir Alya yang basah itu.


Sejenak pandangan mereka bertemu, dalam 20 tahun tatapan mata itu masih sama seperti dulu.


Menyadari posisinya sekarang, Alya dengan cepat memalingkan wajahnya, memutus kontak mata yang tak seharusnya.


Beberapa detik, suasana kembali hening. Tiba-tiba ponsel David berdering, tertera di layar ponselnya, Putri nya melakukan panggilan video call...


Sekilas David menatap Alya, kemudian mengusap icon berwarna hijau di layar ponselnya. Dan terpampang lah wajah cantik putrinya yang sedang tersenyum padanya.


"Wah, Papa lagi di mana nih? kok tempatnya rame banget" Dari sana, Nayla melihat dengan jelas orang-orang yang berlalu lalang dibelakang Papa nya.


Mendengar suara putrinya, Alya menjadi semakin gugup. Alya tau, putrinya itu pasti akan sangat senang bila mengetahui dirinya saat ini sedang bersama Papa nya. Tapi entah kenapa, Alya merasa gugup saja hari ini.


"Papa lagi di cafe, ini lagi makan siang" jawab David, dia juga tersenyum pada putrinya itu.


"Oh, Papa lagi makan siang bareng kliennya Papa ya"


David menggeleng, dan disana Nayla jadi sedikit penasaran, dengan siapakah Papa nya itu makan siang di cafe kalau bukan dengan kliennya.


"Kalau bukan dengan klien Papa, terus Papa makan siang di cafe bareng siapa dong? awas ya kalau Papa sampai deket dengan perempuan lain, aku gak bakal terima. Pokoknya Papa harus terus perjuangkan Mama, titik!"


Mendengar ucapan putrinya, hati Alya terenyuh, segitunya putrinya itu melarang Papa nya dekat dengan perempuan lain hanya demi dia bisa bersatu lagi dengan David.


"Kamu mau lihat gak? Papa makan siang bareng siapa?"


"Jawab dulu, Papa makan siang bareng cewek apa cowok?" tanya Nayla ketus, dia sudah siap menyumpah serapah Papa nya itu jika benar Papa nya sedang makan siang dengan wanita lain.


"Cewek, ceweknya cantik banget lagi" jawab David dan seketika terdengar teriakan putrinya dari dalam ponselnya.

__ADS_1


"Papa....


__ADS_2