
David seolah tahu apa yang akan diminta oleh Alya, iapun langsung berdiri dari duduknya dengan memijit pangkal hidungnya.
"Kak David, aku....
"Udah, stop Alya jangan diteruskan, aku tau apa yang akan kamu minta, dan aku tidak akan pernah mengabulkan permintaan kamu itu!" Tegas David, ia emosi seketika karena sebelumnya Alya meminta perpisahan darinya, dan ia yakin itulah permintaan Alya saat ini.
"Kenapa Kak? bukankah kakak tadi sudah berjanji akan mengabulkan apapun permintaan ku, terus kenapa sekarang tidak mau"
"Iya Alya, aku akan mengabulkan apapun permintaan M asalkan kau jangan meminta aku untuk menceraikan mu karena aku tidak akan pernah mengabulkan itu dan tidak akan pernah melakukan itu!" Tekan David, ia benar-benar kesal dengan permintaan Istrinya itu.
"Bagaimana kau bisa meminta cerai dariku setelah apa yang sudah kita lakukan tadi, dan bagaimana jika nanti kau hamil? Aku tidak mau anakku memiliki orangtua yang tidak lengkap" ucap David, ia benar-benar berharap Alya akan hamil setelah yang mereka lakukan itu.
Alya tersenyum sinis. "Yakin sekali Kak David kalau akan hamil, dan kalaupun iya aku bisa merawatnya sendiri tanpa adanya kak David"
"Sudahlah" Alya berdiri dari duduknya. "Lebih baik sekarang kita pulang saja, aku akan memberikan waktu pada kak David untuk memikirkan itu, dan aku harap kak David tidak akan mempersulitnya" ucap Alya lalu melangkah keluar dari kamar hotel itu.
"Alya tunggu, dengarkan aku dulu" teriak David, namun Alya tidak memperdulikannya dan terus melanjutkan langkahnya.
Disepanjang langkahnya Alya heran melihat orang-orang terus menatapnya dan ada juga yang berbisik-bisik seperti sedang membicarakannya. Namun ia tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Salah satu office girl yang melihat itu langsung menghampiri Alya dan memberitahukan kenapa orang-orang menatapnya.
__ADS_1
"Mba rambutnya dikeringkan dulu atuh, mana gak sisiran juga tuh rambutnya berantakan" tunjuk office girl itu menunjuk rambut Alya dengan sedikit cekikikan.
Seketika Alya memegang rambutnya yang ternyata masih basah dan juga berantakan. "Ya ampun, kenapa aku tidak menyadari ini, ini semua gara-gara kak David" ucap Alya geram dan iapun dengan langkah cepat segera kembali ke kamar hotel untuk merapikan rambutnya terlebih dahulu.
1 jam kemudian, Alya dan David kini sudah sampai dirumahnya.
"Loh Alya, kok baju kamu beda sama yang kamu pakai tadi pagi?" Tanya Mama Herlina memicingkan matanya menatap Alya.
"Em.. i-tu Ma...
"Ma, sini aku beritahu" David membisikkan Herlina langsung mencubit pinggang nya.
"Kenapa Mama nyubit aku sih? Sakit tau" adu David meringis mengelus pinggangnya yang seperti terkena sengatan listrik.
"Mama gereget tau sama kamu, semangat sih semangat tapi jagan merobek pakaian istri kamu juga kali, di mobil lagi" ucap Mama Herlina berceloteh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, iapun seketika tersenyum saat melihat Alya.
"Lain kali kalau David begitu lagi sama kamu, langsung hajar aja Alya" tutur Mama Herlina, gak bisa apa tahan-tahan sedikit gak begituan di mobil, sampai merobek baju kamu lagi" celetuk Mama Herlina,dan membuat Alya menatap tajam ke arah David. Bisa-bisanya suaminya itu mengarang cerita menjijikkan seperti itu.
"Ma, jangan mengajari Alya seperti itu, apa Mama tidak melihat wajah ku sudah lebam seperti ini" adu David mengusap wajahnya dengan ekspresi menyedihkan yang di buat-buat nya.
Mama Herlina yang baru menyadari kalau wajah putranya ternyata lebam langsung mendekati putranya dan memeriksanya. Tapi bukannya kasihan Mama Herlina malah menertawakan David.
__ADS_1
"Hahahaha rasain, syukurin"
"Ma, Mama kok gitu sih? Seharusnya Mama belain aku dong, itu kan juga karena aku ingin memberikan cucu pada Mama dan Papa. Apa Mama tidak mau mempunyai cucu dari kami"
"Ya iyalah Mama mau punya cucu, darimana lagi Mama bisa mendapatkan cucu kalau bukan dari kalian berdua" Mama Herlina menatap David dan Alya bergantian. "Tapi gak melakukannya di mobil juga kali, bagaimana kalau digrebek orang kan bikin malu"
Alya pun menjadi jengah mendengar percakapan tidak berfaedah antara Mama dan anak itu, iapun memilih untuk pergi ke kamarnya.
"Ma, Pa aku permisi ke kamar dulu ya" pamit Alya, dan di angguki oleh Herlina dan Tyson.
"Ma, aku ke kamar juga ya mau lanjut lagi" ucap David lalu segera berlari menyusul Alya ke kamarnya.
Herlina dan Tyson pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Udah lah Ma jangan mengurusi mereka, biarkan saja. Kita terima beres saja dan tunggu hasilnya" ucap Tyson baru membuka suara setelah dari tadi hanya menjadi pendengar.
"Iya Pa, tapi David kelewatan banget masa sampai begituan di mobil"
"Mama juga kalau mau kita bisa melakukannya di mobil, kayaknya memang asyik tuh Ma mobil bergoyang" ucap Tyson merayu Istrinya dan seketika mendapat serangan di pinggangnya.
"Sakit Ma, enggak Papa cuma bercanda kok" ucap Tyson cengengesan.
__ADS_1