
"Baik Pak, akan saya jelaskan mari ikut ke ruangan saya" ucap dokter itu pada akhirnya membuka suara, dan David pun melepaskan cengkeraman nya.
David mengikuti si dokter menuju ruangan nya bersama Kevin, sementara Denis lebih memilih menunggu di ruang UGD.
Denis segera berdiri saat pintu ruang UGD terbuka, ia langsung menghampiri Alya yang berada di ranjang pasien yang didorong oleh Suster.
"Maaf Pak, pasien akan kami pindahkan ke ruang perawatan nanti bapak bisa melihat pasien di sana" ucap salah satu Suster, melihat Denis yang langsung menggenggam tangan Alya.
"Bagaimana keadaannya, Sus?"
"Maaf Pak, bapak bisa menanyakan nya nanti pada dokter, permisi Pak" Suster itu kembali mendorong ranjang Alya membawanya ke ruang perawatan dengan Denis yang juga ikut mendorong ranjang Alya.
Setelah sampai diruang perawatan Alya, beberapa Suster yang mengantarkan Alya keluar dari ruangan itu setelah selesai mengecek semuanya.
Sementara Denis masih berada di dalam ruangan itu, ia berdiri di samping ranjang Alya memperhatikan wajah yang pucat yang terlelap itu terlihat begitu damai.
"Apa benar David suami kamu itu, memperlakukan kamu dengan tidak baik? sehingga kamu datang ke desa kami dan tinggal di sana, jujur awalnya aku menyukai kamu Alya. Makanya waktu itu aku menanyakan tentang statusmu" gumam Denis, mata nya tak lepas memandang wajah damai Alya yang terlelap.
Saat ingin menggenggam sebelah tangan Alya yang tidak terpasang selang infus, Denis dikejutkan dengan pintu ruangan itu yang tiba-tiba terbuka dan masuklah Papa Tyson, Mama Herlina, dan juga nek Minah. Melihat kedatangan mereka, Denis segera menjauh dari Alya dan membiarkan mereka mendekat.
Papa Tyson, Mama Herlina, dan nek Minah langsung berhambur ke sisi ranjang, mata mereka seketika berkaca-kaca melihat pemandangan didepan mereka.
Mama Herlina menggenggam tangan Alya yang terasa begitu dingin, sementara Papa Tyson mengusap usap pelan puncak kepala Alya yang terbalut perban, dan nek Minah ia sudah sesenggukan disamping mama Herlina.
Denis yang merasa tidak tega melihat nek Minah langsung memeluknya dan membawanya duduk di sofa yang berada di ruangan itu.
Dan lihatlah Tyson sekarang, mata yang berkaca-kaca menahan tangis itu kini berubah, sorot mata Tyson terlihat begitu tajam, seperti sebilah pisau yang akan menikam siapapun yang sudah membuat putrinya seperti ini.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak bilang nak?" ucap Tyson dengan nada yang bergetar. "Kenapa kamu tidak mengatakan pada Papa tentang perilaku David selama ini kepadamu? maafkan Papa, ini semua salah Papa karena Papa yang sudah menikahkan kamu dengannya, Papa kira itu akan membuat kamu bahagia tapi ternyata Papa salah, sekali lagi maafkan Papa, Alya"
Tyson pun menyeka air matanya yang berhasil lolos begitu saja, dengan kasar. Ia menatap dalam wajah Alya yang terlihat pucat, melihat itu Tyson mengeraskan rahang nya.
"Katakan pada Papa apa yang kamu inginkan? Papa akan menuruti semua, apapun keinginan mu, bahkan dengan menyingkirkan laki-laki bajingan itu sekalipun dari kehidupan mu akan Papa lakukan, asalkan kamu bahagia, nak"
"Pa... " mendengar kata laki-laki bajingan, Herlina tau yang dimaksud suaminya itu adalah David, putranya.
Tatapan Tyson beralih pada istrinya yang menyentuh pundaknya. "Jangan membela nya Ma, atau Mama akan tau akibatnya"
Herlina pun menarik tangannya dari pundak suaminya, ia tahu betul watak suaminya itu. Seorang Tyson Richardo tidak pernah pandang bulu, ia akan menghancurkan siapapun yang berani mengusik ketenangan nya, bahkan sekalipun itu adalah keluarga nya sendiri Tyson tidak perduli.
Beberapa saat kemudian Tyson mengalihkan tatapan nya menatap ke sekeliling ruangan, Denis yang mengerti Tyson sedang mencari seseorang langsung menjawabnya.
"David dan Pak Kevin sekarang berada diruangan dokter, Om" ucap Denis.
.
.
.
David dan Kevin pun kini sudah berada di dalam ruangan dokter, mereka berdua pun duduk berhadapan dengan dokter.
Melihat dokter yang masih diam namun sesekali tersenyum membuat David kebingungan, sebenarnya apa yang terjadi pada istrinya?
"Dokter, jangan buat kesabaran saya habis, sekarang cepat katakan bagaimana keadaan istri saya?" tanya David lagi dengan tidak sabar, yang entah sudah kali berapa dia bertanya.
__ADS_1
"Begini Pak, kecelakaan yang dialami istri bapak ini sangat parah tapi beruntung istri bapak bisa melewati masa kritisnya, saya dan beberapa suster sempat panik tadi karena pasien tiba-tiba mengalami kejang-kejang"
"Apa dok? istri saya kejang-kejang?" David seketika berdiri dari tempat duduknya.
"Iya Pak, bapak tenang dulu. Tapi pasien sudah melewati masa kritisnya, hanya saja kecelakaan itu menyebabkan istri bapak bisa saja mengalami koma bahkan bisa saja kehilangan ingatan nya, tapi bapak tidak usah khawatir karena ini hanya perkiraan saya dan semoga saja tidak terjadi"
Penjelasan dokter itu seakan ribuan jarum yang menusuk ulu hati David, ia bahkan tidak bisa berkata-kata lagi, tatapan nya menatap sendu pada dokter.
"Tolong sembuhkan istri saya dok, berapa pun biayanya saya tidak perduli asalkan istri saya bisa sembuh" ucapnya dengan nada pelan, David benar-benar tak kuasa menahan sakitnya, sakit karena keadaan istrinya.
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk istri bapak. Oh iya Pak, adalah satu hal lagi yang akan saya sampaikan pada Bapak, dan saya sendiri benar-benar tidak menyangka hal ini bisa terjadi" ucap dokter itu dengan tersenyum.
David dan Kevin saling tatap, tadi dokter itu mengatakan kalau Alya bisa saja koma atau kehilangan ingatan nya, tapi kenapa sekarang dokter itu malah tersenyum?
"Dok, jangan buat kami penasaran, apa maksud dokter?" Kevin yang sedari tadi diam kini angkat suara, ia benar-benar tidak mengerti dengan ekpresi dokter itu.
"Begini, ternyata pasien se..... " belum sempat dokter menyelesaikan kalimat nya, mereka semua dikagetkan dengan pintu ruangan dokter yang terbuka dengan cukup keras.
Di ambang pintu, Tyson berdiri menatap tajam ke arah putranya, iapun dengan cepat melangkah masuk lalu menyeret putranya keluar dari ruangan dokter.
Kevin dan juga dokter yang tersentak kaget segera ikut keluar dari ruangan itu.
Diluar ruangan, David langsung dihadiahi satu pukulan bogem mentah dari Papa nya sendiri, David yang tidak mengerti apapun tak kalah kaget nya dengan tindakan Papa nya.
"Kau benar-benar brengsek David! tega teganya kau memperlakukan istrimu sendiri seperti itu, Papa menyesal sudah menikahkan mu dengan Alya, kalau Papa tau lebih awal sudah lama Papa memusnahkan mu. Sekarang Papa tidak akan membiarkan kau menyakiti Alya lagi!" Tyson benar-benar murka saat ini, beberapa kancing kemeja David terlepas akibatnya.
"Pa, apa maksud Papa?"
__ADS_1