Dendam Istri Yang Tak Dianggap

Dendam Istri Yang Tak Dianggap
BAB 9


__ADS_3

Kegiatan rutin yang dilakukan oleh Alya selama satu bulan ini adalah mengolesi wajahnya dengan cream penghilang bekas luka yang diberikan oleh Kevin, seperti pagi ini Alya yang sudah mandi dan berpakaian lengkap berdiri dihadapan cermin berukuran besar tengah mengolesi wajahnya dengan cream itu.


Dan David yang baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk berwarna putih menutupi sebagian tubuhnya, tatapannya langsung tertuju pada Alya yang berdiri di depan cermin sedang mengolesi wajahnya dengan sesuatu sama seperti yang dilihat David tadi malam.


David pun melangkah menuju dimana Alya berada, ia berdiri tepat di belakang gadis itu. David yang bertubuh tinggi sedikit menundukkan kepalanya dan berbisik di telinga gadis itu.


"Kalau jelek tetap saja jelek, mau dipolesi seperti apapun tetap saja jelek tidak akan berpengaruh apapun" kata David, lelaki itu menegakkan kembali kepalanya lalu berbalik badan menuju lemari pakaiannya sembari tertawa.


"Hahahaha, dasar gadis payah, kalau jelek ya jelek saja" lirihnya, namun masih bisa terdengar ditelinga Alya.


Alya diam, ia tidak ingin menanggapinya dan membuat keributan di pagi hari. Ia melanjutkan kegiatannya sambil meredam sesuatu yang terasa sesak di dada nya. Lelaki itu tiada hentinya menghina dirinya.


"Silahkan hina aku sesuka hatimu kak David, akan aku pastikan suatu hari nanti penghinaan mu itu akan melukai dirimu sendiri"


Setelah selesai mengolesi wajahnya dengan cream penghilang bekas luka, Alya juga memolesi bibirnya dengan lipbalm serta menyisir rambut panjangnya yang masih sedikit basah lalu sedikit membenahi pakaiannya. Dan semua itu tak luput dari pandangan lelaki yang baru saja mengatainya, jelek.


"Rapi sekali si jelek itu, apa dia mau pergi. Tapi pergi kemana?" David penasaran melihat Alya yang tengah membenahi penampilannya.


"Ah apa peduliku, dia mau pergi kemanapun itu bukan urusan ku kan" David pun memakai pakaiannya juga, namun sorot matanya terus menatap gadis itu, dan kini matanya memicing tatkala melihat gadis itu mengambil tas mini selempang nya. Ah tebakannya benar, gadis itu memang sedang ingin pergi.

__ADS_1


David pun memutar otak untuk mengetahui kemana gadis itu akan pergi, dan tiba-tiba saja tatapan tertuju pada sepatunya.


"Hei jelek mau kemana kau? Mau main pergi-pergi saja, tidak lihat apa itu sepatu ku berdebu, di lap sana" perintahnya pada Alya.


Alya yang hendak keluar dari kamar langsung membalikan badannya dan mengambil sepatu lalu mengelapnya tanpa berkata sepatah katapun. Setelah selesai mengelap sepatu Suaminya, ia meletakkannya kembali ke tempatnya semula lalu melanjutkan lagi langkahnya hendak keluar dari kamar itu.


Dan David pun kembali mencari cara lain agar Alya tak segera pergi dari kamarnya, ia *******-***** kemeja yang dipakainya lalu kembali meneriaki Istrinya itu.


"Hei mau kemana? Tugasmu belum selesai, kau tidak lihat ini kemeja ku kusut sekali, di setrika dulu" perintah lagi. David pun melepaskan kemeja nya lalu melemparkannya ke atas ranjang.


Alya menarik nafasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan, sebisanya ia meredam sesuatu yang sesak di dada nya, dan ia tidak ingin memperlihatkan emosi nya pada lelaki menyebalkan itu. Alya kembali membalikkan badannya melangkah menuju ranjang lalu mengambil kemeja yang teronggok di atas ranjang itu kemudian menyetrikanya.


"Kau terlihat rapi sekali, mau kemana? Kau mau pergi kencan ya. Ah tapi apa ada lelaki yang menyukaimu, kau kan jelek, kalau ada kurasa lelaki itu sudah rabun penglihatannya" kata David iya terkekeh dengan ucapannya sendiri.


Alya hanya diam saja, namun tangannya mencengkram erat gagang setrika itu, andai Suaminya itu bukanlah putra dari orang yang sudah membesarkannya, pasti saat ini Alya sudah menggosok wajah lelaki menyebalkan itu dengan setrika agar sama jeleknya dengan dirinya.


"Ternyata selain jelek kau juga b!su rupanya, tapi kau sedikit beruntung karena tubuhmu sudah tidak gendut lagi" lagi-lagi David tertawa. "Hahahaha"


"Tapi aku penasaran, apa kau benar-benar ingin pergi berkencan? coba katakan padaku siapa lelaki itu, atau kalau perlu aku akan mengantarmu bertemu dengannya agar aku bisa melihat siapa lelaki kurang beruntung itu, hahahaha" David merasa puas mencerca Alya, namun juga sedikit kesal karena gadis itu sama sekali tidak merespon ejekan nya.

__ADS_1


"Apa sekarang kau juga menjadi gadis yang tul!, hah!? dari tadi kau diam saja tidak menjawab pertanyaanku" suara David mulai meninggi karena kesal.


"Ini kemeja nya sudah selesai aku setrika, apa masih ada yang lainnya lagi yang harus kerjakan? kalau sudah tidak ada, aku akan pergi sekarang" ucap Alya sembari menyodorkan kemeja itu pada suaminya.


David menatap kemeja itu lalu menatap gadis yang sering di katainya jelek itu.


"Oh jadi kamu sudah tidak sabaran ingin segera pergi menemui kekasihmu itu ya" ucap David dengan nada mengejek.


"Kak David ini kemeja nya sudah selesai aku setrika, apa masih ada yang lainnya lagi yang harus aku kerjakan sebelum aku pergi?" ucap Alya lagi.


David hanya menatap kemeja nya yang diulurkan oleh Istrinya itu dan tidak mengambilnya, lelaki itu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


Yah David sedang memikirkan cara untuk terus mencegah gadis itu pergi, setidaknya sampai Istrinya itu mengatakan kemana ia akan pergi.


"Pakaikan kemeja ku baru kau boleh pergi" ucapnya David tiba-tiba dan membuat Alya menganga.


"Apa..?'' Alya bertanya seolah ia tidak mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya itu.


"Apa kau tidak dengar, aku bilang pakaikan kemeja ku" ucap David dengan menaikkan nada suaranya.

__ADS_1


__ADS_2