
"Hahaha" David tertawa pelan mendengar kata 'menjijikkan' yang baru saja meluncur dari bibir Lestari, sementara Lestari tersenyum mencibir David yang menertawakan nya.
"Pemikiran yang konyol!" ucap David sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mengemis cinta kepada istri sendiri, bagaimana kau bisa mengatakan itu adalah menjijikkan? dasar kau ini, tidak pernah jatuh cinta, jadi yah wajar saja kau mengatakan seperti itu" ujar David menyindir Lestari.
"Apa yang kau katakan, David?" Lestari mendekati David dan bergelayut di lengan nya.
"Aku mencintaimu mu David. Kalau tidak, mana mungkin aku seperti ini"
David melepaskan tangan Lestari yang bergelayut di lengan nya. "Itu bukan cinta, Lestari. Kau hanya terobsesi saja padaku, karena aku ini seorang pewaris tunggal Richardo group, iya kan?!" David menatap tajam Lestari.
"Tidak David, tidak seperti itu" Lestari meyakinkan David jika ia memang tulus mencintai David, bukan karena David seorang pewaris.
__ADS_1
"Sudah Lestari, aku sudah malas berurusan denganmu. Kenapa sih, kau selalu mengganggu aku? aku sudah bilang, hubungan kita sudah berakhir dan aku akan memperbaiki semua kesalahan ku pada Alya"
"Mudah sekali kau mengatakan itu David, setelah apa yang sudah kita lakukan, bahka kita sudah tidur bersama dan kau... "Lestari menghentikan kalimatnya sejenak. "Kau adalah orang pertama yang mengambil kehormatan ku" sambung nya dengan mata yang memerah menyorot tajam pada David.
"Seharusnya kau bertanggungjawab dengan menikahi ku, bukannya memtusukan hubungan sepihak seperti ini hanya karena isterimu itu" ucap nya lagi, kali ini nada nya pelan dengan tatapan menyendu berharap David iba padanya.
David memalingkan wajahnya. Yah, ia tidak menyangkal itu semua, tapi bukankah mereka melakukan itu karena suka sama suka, dan rela sama rela sama sekali tidak ada unsur pemaksaan. Bahkan sebenarnya mereka saling menguntungkan. David mendapatkan kepuasan di atas ranjang, dan Lestari mendapatkan kemewahan bak istri seorang Sultan, David selalu memberikan apa yang ia mau asalkan Lestari bisa memberikan apa yang ia inginkan, yaitu servis terbaiknya diatas ranjang.
"Apakah yang aku berikan itu kurang, huh? Apartemen mewah beserta seluruh fasilitasnya, dan sebuah kartu yang tidak akan ada habisnya kau gunakan. Apakah kau pikir aku tidak tau, berapa uang yang sudah kau habiskan dari kartu yang aku berikan itu? ckckckck" David menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dalam waktu 2 bulan saja, kau sudah menghabiskan 500 juta! wah, luar biasa, Lestari. Kau sangat menikmatinya rupanya, lalu kenapa kau masih mengganggu ku, huh?" David tersulut emosi, ia mencengkeram wajah Lestari. "Dasar wanita murahan!" ucapnya lalu mendorong Lestari.
"Ini semua gara-gara kau! jangan pernah kembali atau aku akan melakukan sesuatu yang membuatmu tidak bisa melupakannya" Lestari begitu marah, ia merem*s sisa robekan poster Alya lalu melemparkannya ke jalan, dan Lestari tersenyum senang saat mobil melindas sisa robekan poster Alya itu, berharap itu adalah Alya.
.
__ADS_1
.
.
Semua poster yang David bawa kini telah habis ia tempelkan dan memberikan kepada beberapa pejalan kaki yang ia jumpai. David pun memutuskan untuk pulang saat ini, mungkin dengan merebahkan tubuhnya di atas sofa yang sudah menjadi kasur empuk bagi Alya akan membuatnya sedikit tenang hari ini, serta berharap alam mimpi akan membawanya bertemu dengan istrinya.
Saat sampai rumah, keadaan rumah begitu sunyi. David melihat jam di pergelangan tangannya, waktu menunjukkan pukul 1 siang yang berarti Papa nya masih berada di Kantor saat ini, serta Mama nya juga lebih sering menghabiskan waktu menemani suaminya itu seharian di kantor.
"Maafkan aku Pa, Ma" gumamnya lirih lalu melangkah menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya.
Setelah berada di dalam kamarnya, David membuka lemari pakaian Alya dan mengambil selimut yang selalu digunakan Alya untuk tidur lalu membawa ke sofa dan memeluknya. Hanya seperti yang selalu David lakukan selama sebulan ini, bahkan selimut itupun tidak pernah ia cuci, karena menurutnya akan hilang aroma istrinya jika di cuci dan hanya selimut itu satu-satunya benda yang disisakan Alya didalam kamar itu, makanya David begitu menyayangi nya soal selimut itu adalah Alya.
Perlahan David pun memejamkan matanya, ia tumpahkan segala rasa lelah nya di atas sofa itu sambil memeluk selimut istrinya.
__ADS_1
Namun, bagaimana pun lelahnya ia. David tidak pernah patah semangat terus mencari istrinya, ada banyak hal yang akan ia perbaiki setelah menemukan istrinya nanti. Walaupun setia harinya ia selalu gagal menemukan keberadaan istrinya itu, namun ia sama sekali tidak pernah terpikirkan untuk berhenti mencari.