
Beberapa saat menjadi hening, Alya menatap buket bunga yang kini berada di tangannya. Tanpa sadar dia menarik sudut bibirnya, seandainya dulu David seperti ini, pasti dia akan sangat bahagia. Tapi kenapa baru sekarang, setelah semuanya menjadi hampa.
"Kak, ada apa Kak David tiba-tiba memberikan aku buket bunga ini, aku tidak sedang ulang tahun loh?''
" Memangnya orang yang sedang ulang tahun saja yang boleh di kasih buket bunga?" David balik bertanya.
Alya pun diam, tidak tahu harus menjawab apa, tapi dia masih penasaran kenapa mantan suaminya ini memberikannya buket bunga? jika dia bertanya lagi, pasti urusannya akan semakin panjang. Dan Alya pun memilih untuk diam, dia pun akhirnya menerima saja buket bunga itu, kemudian meletakkannya di atas meja, lalu dia menghampiri baby Nayla yang berada di dalam stroller.
David pun menyusul Alya menghampiri baby Nayla. Dan sekarang, keduanya berjongkok dihadapan stroller nya baby Nayla menatap bayi mungil yang terlelap itu.
"Alya, coba deh kamu perhatian Nayla, dia mirip aku kan?" ucap David menatap Alya sekilas, lalu memperhatikan bayi nya lagi.
Mendengar ucapan David itu, Alya spontan menatap David, lalu menatap baby Nayla. Memang, baby Nayla memang terlihat mirip David, dan itu tidak bisa disangkal.
"Hem" Alya menjawab dengan deheman.
"Tapi semoga sifatnya menurun dari kamu, tidak dari aku" ujar David, masih dengan terus menatap baby Nayla.
"Bagus lah kalau nyadar" ucap Alya spontan. Sejurus kemudian dia membuang muka dan mengatupkan bibirnya, takut takut ucapannya barusan menyidir mantan suaminya ini.
"Apa? kamu bilang apa barusan?" David menoleh menatap Alya yang seperti mengatakan sesuatu tadi, tapi David tidak terlalu jelas mendengarkan nya.
"Enggak, nggak ngomong apa-apa kok" jawab Alya mengeles, dia lebih baik berbohong daripada harus berdebat dengan mantan suaminya ini.
"Oh, kirain tadi ngomong sesuatu, aku gak begitu jelas denger nya tadi"
"Bagus lah kalau gak denger" ucap Alya lagi, dan kali ini David bisa mendengar nya lebih jelas.
__ADS_1
"Nah tuh kan aku denger, tadi kamu ngomong apa? ayo bilang!" David sedikit memaksa.
"Engga kok, aku nggak bilang apa-apa''
Beberapa saat terus berdebat, keduanya berhenti karena mendengar suara ketukan pintu.
Nek Minah pun bergegas membuka pintu, dan ternyata itu adalah kurir yang mengantarkan pesanan David.
" Selamat pagi menjelang siang, Nek" ucap kurir itu pada nek Minah. Dan nek Minah hanya menjawab dengan sedikit mengangguk.
"Saya mau antarkan pesanan atas nama Bapak David Richardo, apa benar di sini tempatnya, Nek?" tanya kurir itu.
Nek Minah mengangguk. Dan David yang mendengar namanya di sebut, bergegas keluar.
"Oh iya, itu saya, David Richardo" ujar David.
Beberapa saat kemudian, David kembali dari dapur dengan membawa masing-masing 2 piring dan sendok, lalu meletakkannya di atas meja beserta pesanannya tadi.
"Alya, nek Minah, ayo sini" panggil David.
Alya dan nek Minah pun menurut kemudian duduk di sofa.
"Alya, ini aku belikan makanan kesukaan kamu, kamu pasti sudah lama kan tidak makan ini?" ujar David, dia membuka bungkusan itu, lalu menuangkan isinya kedalam piring.
"Ini untuk nek Minah, dan ini untuk kamu" David meletakkan dua piring itu dihadapan nek Minah dan Alya.
"Loh, kok cuma ada dua, Untuk Kak David mana?"
__ADS_1
David menyengir, dia dia sengaja hanya membeli dua saja, dia berharap Alya akan mengajaknya makan 1 piring berdua dengannya.
"Ya udah, ini untuk Kak David saja" Alya mendorong piringnya ke hadapan David.
"Eh, tapi inikah aku beli untuk kamu" David mendorong lagi piring itu ke hadapan Alya.
"Tapi, masa Kak David gak makan, kan Kak David yang beli"
David tampak berpikir sejenak, kemudian dia tersenyum. Ah, semoga saja Alya mau, doa nya dalam hati.
"Gini aja deh, gimana kalau kita makan nya berdua aja, sepiring berdua gitu" David mengedipkan sebelah matanya.
Melihat tingkah David seperti itu, tiba-tiba Alya menjadi kenyang, dia langsung beranjak dari tempat duduknya hendak pergi dari ruangan itu.
"Makanan itu untuk Kak David saja, sebenarnya aku juga masih kenyang kok" Alya pun pergi dari ruangan itu.
Sementara David, dia tidak tinggal diam, dia menyusul Alya yang masuk ke dalam kamarnya.
.
.
.
Mulai bosan ya🙃 sama, aku juga😔
Ternyata, menghalu tidak seindah yang aku bayangkan🙄🙄🙄
__ADS_1