Dendam Istri Yang Tak Dianggap

Dendam Istri Yang Tak Dianggap
BAB 26


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi, David yang tidur di sofa menggantikan Istrinya perlahan mulai mengerjapkan matanya. Kemudian ia duduk lalu merentangkan kedua tangannya ke atas kepala, sudah pasti badannya terasa sakit karena ia tidak pernah tidur di sofa, ia selalu terlelap dengan tenang di atas ranjang king size miliknya yang begitu nyaman.


"Aduh, badan ku terasa nyeri" David memijat mijat area badannya yang terasa sakit.


Setelah menetralkan rasa sakit di tubuhnya dan sudah merasa lebih rileks, ia berdiri lalu melangkah menghampiri Istrinya yang masih terlelap dengan tenang di atas ranjangnya. David pun duduk di sisi ranjang, ia menatap intens wajah yang terlelap itu.


"Jika Aku tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu, setidaknya aku masih bisa menjadi kakak yang baik untukmu. Bukankah dulu aku adalah kakak mu, apa kau masih ingat setiap kali aku pulang sekolah? aku selalu membelikan makanan kesukaan mu, dan kau sangat senang sekali. Tapi sayangnya kau malah menjadi hobi makan, sehingga membuatmu menjadi gendut. Dan bodohnya aku, aku malah membenci perubahan tubuhmu yang menjadi gendut, hingga saat Papa menjodohkan kita dan aku semakin membenci mu" Mata David mulai berkaca-kaca, ia mengingat saat dulu ia dan Alya masih kanak-kanak. Ia begitu menyayangi adik kecil nya itu, seorang putri kecil yang dibawah pulang oleh Papa nya.


David menoleh pada jam dinding berukuran besar yang berada dikamar nya, pukul 5:15. David berinisiatif untuk membuat sarapan untuk Istrinya, iapun perlahan beranjak lalu menuju dapur.


Tak berapa lama David kembali ke kamarnya dengan membawa segelas susu hangat dan juga sandwich, ia meletakkannya di atas meja kecil disamping ranjangnya lalu membangunkan Istrinya.


"Alya bangun lah, ini sudah pagi, katamu pagi ini kau akan ada pertemuan dengan partner kerjamu. Ayo bangun, aku sudah membuatkan sarapan untukmu" ucap David membangunkan Istrinya sembari menepuk-nepuk pelan pundak Alya.


Alya yang merasakan ada pergerakan di pundaknya, merentangkan kedua tangannya ke atas kepala sembari menguap. Melihat itu David menyunggingkan senyum dibibir nya, ternyata begitu indah melihat seseorang yang kita cintai terjaga dipagi hari.

__ADS_1


Saat matanya terbuka sempurna, Alya seketika bangkit dari pembaringannya melihat suaminya duduk disamping nya tengah tersenyum padanya.


"Ah ya tunggu sebentar, aku siapkan air hangat dulu" David menuju kamar mandi dengan langkah cepat menyiapkan air hangat untuk Istrinya mandi.


Sementara Alya menatap langkah cepat yang masuk ke dalam kamar mandi dengan tatapan sendu, belum lagi saat ia melihat segelas susu dan sepotong sandwich di atas meja, membuatnya hati nya menjadi bimbang dengan tujuannya sekarang untuk membuat suaminya itu merasakan apa yang ia rasakan dulu.


Namun Alya segera menepis segala rasa yang bergejolak didalam hatinya yang kian tak menentu, ia tidak ingin terkecoh, bisa saja suaminya itu hanya berpura-pura karena ingin mendapatkan tubuhnya. Bisa saja setelah mendapatkan apa yang diinginkan nya, suaminya itu kembali seperti dulu yang selalu menghinanya dan mencaci, bahkan tidak menganggapnya sebagai seorang istri.


Alya menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya, ia turun dari ranjang lalu berinisiatif merapikan selimut dan ranjang tempat nya terlelap semalam. Sungguh, tubuhnya merasa lebih nyaman tidur di atas ranjang daripada di sofa.


"Biar aku saja yang bereskan, kau pergilah mandi air hangat nya sudah siap, setelah itu sarapan aku sudah menyiapkannya" ucap David dengan menunjuk ke arah meja tempat ia menyimpan segelas susu dan sepotong sandwich yang ia siapkan untuk Istrinya sarapan.


Alya langsung membalikkan badannya dan melangkah menuju kamar mandi tanpa melihat ke arah meja yang ditunjukkan oleh suaminya. Didalam kamar mandi, Alya mengusap dada nya berdebar tak karuan. Sebenarnya ia senang diperlakukan seperti itu oleh suaminya, itulah yang ia harapkan dari dulu, dianggap sebagai istri. Namun, kenapa itu terjadi dengan terlambat, saat dendam dan kebencian sudah bertahta lebih tinggi dihatinya.


Kini Alya sudah berpakaian lengkap, sebenarnya David ingin protes melihat istrinya berpakaian sedikit terbuka, apalagi istri itu akan bertemu dengan partner kerjanya yang seorang pria. Bagaimana kalau pria itu menyukai Istrinya, belum lagi sekarang Alya sudah begitu cantik, siapa yang tidak akan tergoda dengan penampilannya. Namun, untuk saat ini David lebih memilih untuk diam dan mengikuti apa yang akan dilakukan oleh Alya, demi kenyamanan Istrinya itu.

__ADS_1


"Sekarang ayo sarapan" ajak David, ia hendak meraih tangan Istrinya Nami dengan cepat Alya menepisnya.


Alya menatap segelas susu dan sepotong sandwich yang berada di atas meja. Sejenak ia memejamkan matanya, menarik dalam nafasnya mengingat dulu ia selalu menyiapkan makanan untuk suaminya namun dengan tega dan tanpa perasaan suaminya itu malah menghancurkan makanan yang dengan sepenuh hati ia masak untuk suaminya.


"Tidak perlu menyiapkan apapun untukku, aku bisa makan dimana saja, itu untuk Kak David saja aku harus segera pergi" Alya meraih tas tangannya dan melangkah menuju pintu, namun dengan cepat David menarik tangannya.


"Baiklah, kalau begitu biar aku antar" tawar David.


"Tidak perlu, aku sudah memesan taksi" ucap Alya menolak ajakan suaminya yang ingin mengantar nya.


Alya pun keluar dari kamar, iapun sekarang telah berada didalam Taksi yang sudah ia pesan dan sebelumnya sudah berpamitan pada Herlina dan juga Tyson.


David yang masih berada di dalam kamar, membawa tubuhnya duduk di tepi ranjangnya, ia menatap sayu pada segelas susu dan sepotong sandwich yang sudah ia siapkan untuk Istrinya, namun istrinya tidak mau memakannya. Ia mengusap wajahnya kasar, ingatannya masih merekam jelas saat dulu ia selalu menghancurkan makanan yang sudah dimasak istrinya untuknya.


Dan kini Alya sudah sampai disebuah cafe tempat ia temu janji dengan seorang pria yang akan menjadi partner nya sebagai Brand Ambassador bersama di perusahaan Kevin. Dan kali ini Kevin tidak ikut bersamanya karena sedang ada urusan lain, namun sebelum nya Alya sudah memberitahu Kevin dimana ia bertemu Partner kerjanya.

__ADS_1


Dan Kevin pun berinisiatif menyusul Alya ke cafe setelah urusannya selesai.


__ADS_2