
Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi tapi David belum juga berangkat ke kantornya, didalam kamar ia terus mondar-mandir sambil mengingat lagi perkataan istrinya sebelum masuk kedalam kamar mandi.
David sendiri bingung kenapa ia terus mengingat ucapan Istrinya, seketika dia menjadi gelisah karena Istrinya itu ternyata mengetahui hubungannya dengan Lestari.
Apakah Alya juga tau, dia sering bermalam dengan Lestari?
Apa Alya juga tau, kalau ia lah bersama Lestari yang sudah merencanakan penculikannya dan membuangnya ke tengah hutan di luar kota?
"Ah, bagaimana ini?" David menekan pelipisnya karena merasa pusing dengan segala pemikirannya, bagaimana kalau Istrinya benar-benar sudah mengetahui semuanya. Padahal baru saja ia ingin memulai awal yang baru bersama istrinya.
Ceklek, pintu kamar mandi terbuka.
Alya yang baru saja selesai mandi, keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang menutupi sebagian tubuhnya. David yang melihat itu sedikit tertegun dengan pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya dari Istrinya itu, namun ia hanya bisa berdiri mematung ditempatnya tanpa berani mendekati istrinya.
Sementara Alya yang mengira suaminya sudah berangkat ke kantor, dengan santainya melangkah menuju lemari pakaiannya tanpa menyadari suaminya terus menatapnya.
Alya menutup kembali lemari pakaiannya setelah mengambil pakaian yang akan dipakainya, seketika matanya membulat saat ia membalikkan badannya dan tatapan tertuju pada suaminya yang berdiri di dekat jendela sedang menatapnya. Alya pun segera berlari ke kamar mandi dengan membawa pakaiannya serta memegangi lilitan handuk agar tidak terlepas.
"Sial! Kenapa aku bisa seceroboh ini" umpatnya saat sudah berada didalam kamar mandi, sementara David tersenyum kecut melihat ekspresi terkejut Istrinya saat melihatnya.
Alya sudah memakai pakaiannya, iapun keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia melangkah menuju meja riasnya dan mengabaikan suaminya yang masih berdiri di dekat jendela menatapnya, seolah tidak terjadi apapun dan juga seolah tidak ada Suaminya didalam kamar itu.
David masih berdiri di tempatnya memperhatikan gerakan Istrinya. Dan Alya dengan santainya melakukan kegiatannya, menyisir rambut, mengolesi wajahnya dengan cream penghilang bekas luka lalu menutupinya dengan foundation serta rangkaian makeup lainnya, dan terkahir ia mengolesi bibirnya dengan lipbalm.
"Cantik" gumam David, entah ia menyadari atau tidak pujiannya pada Istri yang selalu ia hina fisiknya. Matanya terus saja menatap wanita yang masih berkutat dengan wajahnya didepan cermin.
Setelah di rasa cukup, Alya mengambil tas mini tangan mini lalu berbalik hendak keluar dari kamar itu. David yang menyadari Alya akan keluar, segera menyusulnya dan lebih dulu meraih gagang pintu saat Alya akan membukanya.
__ADS_1
"Kau mau kemana, Alya?" Tanya David dengan suara yang terdengar datar.
"Aku ingin pergi" jawab Alya juga dengan suara yang datar, ia mengulurkan tangannya untuk membuka pintu namun David segera menepisnya.
"Pergi kemana? Dengan siapa?" Tanya David dengan suara pelan namun penuh penekanan.
"Kevin" jawab Alya singkat, ia mengulurkan tangannya lagi untuk membuka pintu namun lagi-lagi David menepis tangannya bahkan dengan kasar. Dan detik berikutnya, David mendorong tubuh Alya hingga terbentur ke dinding dan kemudian ia menghimpit tubuh istrinya juga mencengkeram wajahnya.
"Kemarin kau sudah pergi bersamanya hingga pulang larut malam, dan sekarang kau ingin pergi dengannya lagi" David mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya, hingga Alya bisa merasakan hembusan nafas suaminya yang terasa hangat.
Dengan sekuat tenaga Alya berusaha mendorong tubuh suaminya, namun David lebih kuat dan semakin erat menghimpit tubuh Alya dengan tubuhnya.
"Apa sebenarnya mau mu, Kak David?" Alya menatap nyalang suaminya tepat dimatanya.
"Aku ingin kau berhenti bertemu Kevin" ucap David dengan dengan menekankan kata terkahir nya.
"Karena aku suamimu!'' jawab David dengan meninggikan suaranya.
"Hahahaha" Alya tertawa mendengar ucapan lelaki yang tidak pernah menganggapnya sebagai istri, malah menyebutkan statusnya sebagai suaminya.
"Kenapa kau tertawa? apa ada yang salah dengan ucapanku!" David tersulut emosi karena Alya yang tertawa, dan semakin mengeratkan cengkeraman tangannya di wajah Alya.
"Apa aku tidak salah dengar? Kak David tadi bilang, kalau Kak David suamiku? hahahah" Alya tertawa lagi.
"Diam Alya!" bentak David, emosinya semakin memuncak karena lagi-lagi Alya malah tertawa.
"Lepaskan aku Kak David!" ucap Alya juga membentak suaminya. "Untuk apa membuang waktumu dengan menahan ku disini, pergi saja sana temui kekasih Kak David dan biarkan aku pergi. Bukankah Kak David selama ini tidak pernah menganggap ku sebagai istri Kak David, jadi tidak perlu menyebutkan status Kak David padaku" Sambungnya dengan lembut namun penuh penekanan.
__ADS_1
Deg... kali ini David tak salah dengar, Istrinya benar-benar sudah mengetahui tentang hubungannya dengan Lestari.
David diam, perlahan ia melepaskan cengkraman tangannya dari wajah Alya dan menjauhkan tubuhnya yang menghimpit tubuh Alya dan memalingkan wajahnya.
Namun beberapa saat kemudian David berbalik lagi menatap Istrinya, kali ini tatapannya sendu seperti menaruh harap disana. Ia meraih tangan Istrinya yang mengepal, David tau Istrinya kini sedang menahan sesuatu.
"Alya, maafkan aku" ucapnya dengan menggenggam kedua tangan Istrinya. "Bisakah kita memulai semua ini dari awal?" tanyanya dengan menatap mata Istrinya. "Dan malam ini, aku ingin kita tidur bersama selayaknya suami istri" sambungnya.
Mendengar itu, dengan kasar Alya menarik tangannya dari genggaman suaminya.
"Maaf Kak David. Aku bukan wanita murahan yang bisa seenaknya diajak tidur setelah sekian lama dicampakkan, lagipula bagaimana dengan kekasih mu kalau dia tau Kak David tidur dengan wanita lain, itu sama saja Kak David menghianati nya bukan?''
"Tidak, Alya. Aku akan memutuskan hubunganku dengannya, demi kamu" David ingin meraih tangan Alya lagi, namun si pemilik tangan dengan cepat menarik tangannya.
"Tidak perlu berkorban demi aku, Kak dan David. Sekarang aku harus pergi, permisi" Alya melewati David begitu saja dan keluar dari kamar itu. Sementara David, ia hanya diam mematung menatap Istrinya keluar dari kamar. Kata-kata Istrinya, begitu menohok hatinya.
Alya melewati ruang tamu, disana ada Tyson dan Herlina yang tengah menikmati teh hangat.
"Mau kemana, Nak?' tanya Tyson yang sedang membaca koran, melihat Alya akan pergi.
"Iya Nak, kamu mau kemana?" tanya Herlina juga, sambil menyeruput teh hangat nya.
"Aku mau pergi sebentar Pa, Ma" jawab Alya. "Mau ke makam" sambungnya.
Mendengar Alya akan ke makam, Tyson langsung melipat koran nya lalu meletakkannya di atas meja.
"Ayo Papa antar" tawar Tyson, ia hendak berdiri namun di urungkan nya lagi.
__ADS_1
"Lain kali saja, Pa. Aku sudah telanjur meminta Kevin yang mengantarkan ku, dan tidak lama lagi dia akan sampai"