
Beberapa saat kemudian, pintu ruangan itu terbuka beriringan dengan dokter yang keluar dari sana. Dan Papa Tyson pun segera mendorong kursi roda Alya mendekati dokter.
David tercengang saat menyadari ternyata sudah ada Alya dan Papa Tyson disana, namun ia lebih memilih untuk menghampiri dokter untuk bertanya tentang bayi nya.
"Dokter, apa saya sudah boleh masuk melihat anak saya?"
"Boleh, Pak. Tapi, hanya dua orang saja ya" Jawab dokter itu.
"Baiklah dokter, kalau begitu saya dan Putri saya yang akan masuk" Papa Tyson mendorong kursi roda Alya hendak masuk ke dalam, tapi dengan cepat David mencegat nya.
"Tidak bisa begitu, Pa. Aku sudah dari tadi menunggu disini, jadi aku yang akan lebih dulu masuk"
"Apa kau tidak dengar apa yang dikatakan dokter? Hanya dua orang yang boleh masuk, dan Papa yang akan lebih dulu masuk bersama Alya" Tekan Papa Tyson.
"Tapi aku juga ingin melihat anakku, Pa. Jadi biar aku yang masuk lebih dulu bersama Alya, Papa nanti saja bersama Mama" Ucap David mengatur.
"Maaf, Pak. Kalau begini caranya, lebih baik untuk saat ini jangan ada yang masuk dulu kalau hanya akan memicu keributan di dalam" Ujar dokter, menegur.
"Tidak dokter, saya akan masuk untuk melihat bayi saya bersama istri saya" Dengan gerakan cepat, David mengambil alih kursi roda Alya dari Papa Tyson dan langsung mendorongnya masuk ke dalam ruangan dimana bayi mereka di rawat.
Alya hanya bisa mendengus kesal, ia tidak bisa berontak kali ini karena luka jahitan di perutnya. Tapi, Alya tahu kalau David akan senekat ini, jadi untuk ke depan nya ia akan lebih waspada lagi. Sementara Papa Tyson di luar ruangan, masih berdiri mematung di tempatnya menatap pintu ruangan yang baru saja tertutup.
"Nanti setelah kedua orang tua si bayi sudah keluar, Pak Tyson juga bisa masuk ke dalam" Ucap dokter membuyarkan lamunan Papa Tyson.
Dokter itu sedikit heran dengan drama yang barusan di saksikan nya, kesannya seperti sedang memperebutkan si bayi.
"Ah iya, dokter. Terima kasih" Ucap Papa Tyson, dan dokter itu pun pamit pergi dari sana.
Didalam ruangan, David dan Alya sama-sama diam, tapi mata mereka berdua tak lepas memandang bayi mungil yang terlelap begitu damai.
Bayi berjenis kelamin perempuan itu, seakan tak merasakan kehadiran kedua orang tuanya.
"Alya, apa kau sudah memiliki nama untuk bayi kita?" Tanya David, namun ia sama sekali tak mengalihkan tatapan nya dari bayi mungil itu.
__ADS_1
"Belum" Jawab Alya singkat.
"Apa boleh, aku yang memberikan nya nama?'' ucap David lagi, dan matanya masih memandang bayi kecil nya itu.
" Terserah" Jawab Alya malas.
"Nayla... " David menyunggingkan senyum. "Nayla Richardo. Bagaimana Alya, apa nama itu bagus?"
"Hem" Alya menjawab dengan deheman.
"Hai cantiknya Papa, sekarang nama kamu Nayla" Ucap David begitu antusias.
Beberapa saat terus memandang bayi nya, David sesekali melirik ke arah Alya yang juga terus menatap bayinya.
"Aku harap, dengan kehadiran Nayla, awalan baru juga akan hadir" Ucap David, kata-kata nya itu tertuju untuk Alya.
Dan Alya tahu, ucapan David barusan itu tertuju untuknya.
David menghela nafas nya yang lagi lagi mulai terasa sesak, sejenak ia memejamkan matanya. Ia tahu benar, apa maksud ucapan Alya barusan.
"Aku mohon, Alya. Mengalahlah sedikit saja demi anak kita" Ucap David memohon, dan sekarang ia bersimpuh di hadapan Alya yang duduk di kursi roda.
Alya menepis tangan David yang hendak menggenggam tangannya. "Aku yakin dia akan baik-baik saja walaupun tanpa seorang Ayah disamping nya" Ucap Alya dingin.
"Tapi Alya, apa kau tega memisahkan anak dan Ayah nya?"
"Aku tidak akan memisahkan kalian. Tapi maaf, Kak. Untuk kembali bersama kakak itu sudah jauh dari angan ku, tapi Kak David tenang saja, aku tidak akan melarang Kak David kapanpun ingin bertemu dengannya" Ucap Alya.
Alya memberanikan diri menatap mata David, menatap Laki-laki yang dicintainya, tapi itu dulu. Cinta itu perlahan pudar beriringan dengan semua luka yang diberikan oleh Laki-laki ini tepat didasar hatinya.
"Menatap mata Kak David saja, aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi. Jadi, aku tidak mempunyai alasan untuk bertahan"
"Alya....
__ADS_1
"Aku sudah memafkan, Kak David. Tapi, untuk kembali, maaf Kak aku tidak bisa"
David seketika tertunduk lesu mendengar jawaban Alya, matanya mulai berkaca-kaca. Sungguh, bukan ini yang ingin ia dengar, tapi mau bagaimana lagi, Ibu dari anaknya ini sudah bulat dengan keputusannya. Bahkan, mungkin ia bersujud di kaki nya pun, wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya ini tidak akan merubah apapun keputusan nya.
"Kak David.... " David mengangkat kepalanya, ia menyunggingkan senyum, namun senyum yang dipaksakan.
"Aku mohon, Kak David jangan mempersulit ini. Aku harap, kita bisa berjalan sendiri-sendiri walaupun berbeda arah. Aku yakin, Kak David pasti bisa"
"Aku tidak tau, Alya. Aku bisa atau tidak" David menatap Alya lagi, kali ini tatapannya dalam yang mengartikan ia memohon sekali lagi agar wanita ini mau merubah keputusan nya dan mau menerima dirinya lagi menjadi keluarga kecil yang bahagia bersama Putri mereka, Nayla.
"Maaf, Kak. Aku benar-benar tidak bisa"
"Walaupun demi anak kita?"
Alya menggeleng. "Sekali lagi, maaf Kak"
Helaan nafas berat terhembuskan dari kerongkongan David, memang sudah tidak ada harapan lagi untuknya. Tapi, setidaknya Alya masih berbaik hati untuk mengizinkan nya bertemu dengan Putri nya kapan saja ia mau. Jika tidak, entah bagaimana nasib David, kehilangan dua wanita sekaligus.
"Alya, apa aku boleh memelukmu, sekali saja" David memohon, dan mungkin ini adalah permohonan terakhirnya sebelum semuanya benar-benar berakhir dan status mereka berdua akan berganti.
Sejenak Alya diam, ia memikirkan untuk mengiyakan atau tidak. Jika iya, bukankah ia merasa jijik disentuh oleh Laki-laki di hadapan nya ini. Dan jika tidak, ia adalah wanita egois, karena walau bagaimanapun juga Laki-laki di hadapan nya ini masih berstatus sebagai suami nya saat ini.
Alya mengangguk, dan David pun tersenyum lalu dengan segera mendekap tubuh Alya lebih dalam ke dalam pelukan nya memeluk dengan se erat-eratnya.
Walau Alya agak merasa sesak karena David memeluk nya dengan kencang, namun ia membiarkan saja karena toh ini adalah yang terakhir kalinya. Dan setelah ini tidak akan ada lagi kontak fisik di antara keduanya.
"Terima kasih untuk semua nya, Alya. Terima kasih, karena kau telah menghadirkan bidadari kecil di antara kita walaupun nanti status kita sudah berbeda. Dan maafkan atas semua kesalahan ku di masa lalu. Dan nanti, jangan lagi mengingat aku sebagai Laki-laki yang pernah menjadi suami yang kejam padamu, tapi ingatlah aku sebagai kakak yang menyayangimu. Karena sebelum menjadi suami yang sudah memberikan banyak luka padamu, aku adalah seorang kakak yang sangat menyayangi mu"
Dan kali ini, David sudah tidak bisa lagi menahan air matanya agar tidak jatuh. Air mata nya lolos begitu saja dan jatuh di pundak Alya.
"Iya, Kak. Mungkin dengan begitu akan lebih baik. Walaupun nanti kita bukan suami istri lagi, tapi kita masih bisa menjadi kakak beradik seperti dulu"
Dan David pun semakin mengeratkan pelukan nya, hingga terdengar suara tangisan bayi mereka yang melerai nya.
__ADS_1