Dendam Istri Yang Tak Dianggap

Dendam Istri Yang Tak Dianggap
BAB 48


__ADS_3

Senyum kebahagiaan terlihat jelas diwajah David saat ini, melihat wanita yang sebulan ini dirindukan nya sedang larut dalam kegiatannya beradu di dapur membuatkan makanan yang diinginkan David. Sementara David sendiri diminta oleh Alya menunggu di ruang makan yang berhadapan langsung dengan dapur sehingga David begitu leluasa memperhatikan istrinya itu yang dengan lihai nya memasakkan makanan untuknya.


Tak sabar menunggu, David pun beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah menghampiri istrinya. Alya pun memekik kaget saat dua tangan kekar melingkar di pinggangnya dari belakang.


"Ah Kak David bikin kaget aja" ujarnya dengan mengelus dadanya.


"Kalau aku tadi gak sengaja pukul Kak David pakai spatula ini gimana coba? panas tau Kak" sambungnya sambil mengangkat spatula yang dipakainya mengongseng.


"Aku kan suruh Kak David tunggu disana" ucap Alya menunjuk ke arah ruang makan. "Ngapain sih kesini, bikin kaget orang lagi" gerutu Alya kesal.


Namun David tak menggubris omelan istrinya, ia malah semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Alya. Rasanya begitu nyaman dan hangat, ia seperti tidak ingin melepaskan tubuh yang sebulan ini ia rindukan.


"Kak lepasin dong, gimana aku bisa selesaikan masakannya kalau Kak David meluk aku kencang gini" rengek Alya meminta dilepas pinggangnya dari dekapan suaminya itu.


Sementara David bukannya melepaskan pelukannya, malah semakin mengeratkan nya lagi dan menyandarkan kepalanya di bahu Alya lalu memejamkan matanya.


"Jangan meminta aku melepaskan mu Alya, karena aku tidak pernah melakukan itu. Teruslah berada di dekat ku seperti ini dan jangan pernah pergi lagi. Aku mencintaimu Alya, sangat mencintaimu"


David terus bergumam hingga tak terdengar lagi suara Alya yang meminta di lepas pelukannya.

__ADS_1


Dan suara ketukan pintu pun terdengar, mengagetkan David dan membuatnya segera membuka matanya.


David pun mengelus dadanya dengan mengatur nafasnya yang terengah-engah, lalu meraup wajahnya dengan kasar.


"Ya ampun, hanya mimpi rupanya, tapi rasanya begitu nyata" lirih nya.


Tak lama suara ketukan pintu dari luar kamarnya kembali terdengar, kali ini si pengetuk pintu, mengetuk pintu sembari bersuara.


"David, kamu ada didalam kan? Mama masuk ya" ucap Mama Herlina dari balik pintu.


Mendengar suara Mama nya, David bergegas menetralkan kesadaran nya lalu berdiri kemudian melangkah untuk membuka pintu kamarnya.


"Gimana Nak? apa hari ini sudah ada yang menghubungi memberikan informasi tentang Alya? kamu sudah menyebar semua poster Alya kan" pertanyaan beruntun dari Mama Herlina saat sudah duduk di samping putranya.


David menganggukan kepalanya lalu meraup wajahnya lagi. "Sudah Ma, semua poster Alya sudah aku sebar di setiap sudut kota ini, Kevin juga ikut membantu, tapi sampai sekarang belum ada kabar apapun, apa imbalan nya kurang banyak ya Ma? sampai orang-orang tidak ada yang memberikan informasi apapun''


" Bukan seperti itu Nak, yah mungkin mereka memang belum ada yang menemukan keberadaan Alya, kamu yang sabar ya Nak" ucap Mama Herlina mengusap pundak putra nya.


"Atau jangan-jangan, Alya malah sudah tidak ada di kota ini ya Ma sampai-sampai kita kesulitan begini menemukan keberadaan nya" ucap David berandai-andai.

__ADS_1


"Yang sabar Ya Nak, Alya pasti segera ditemukan" Mama Herlina tidak tau harus berkata apalagi, melihat putranya ia ikut merasakan kegusaran nya.


.


.


.


Didalam kamarnya, Alya terus mondar-mandir memikirkan tentang perkataan nek Minah kemarin.


"Gimana ya kalau nek Minah sampai nekat memberitahu mereka kalau aku ada disini, tanpa sepengetahuan ku?" Alya merasa cemas memikirkan itu, bagaimana kalau nek Minah benar-benar pergi memberitahu keluarga Tyson keberadaannya saat ini.


"Aduh Nek, kenapa sih nenek tidak mau mengerti aku, seharusnya nenek mendukung aku"


"Aku harus melakukan sesuatu sebelum itu terjadi, yah harus!" ucapnya yakin.


Lelah memikirkan itu semua, Alya membawa tubuhnya duduk di tepi ranjang yang hanya bermuatan untuk 1 orang saja. Dan sebelah tangannya ia angkat lalu mengusap perutnya yang masih rata.


"Untuk kamu, kamu harus tetap tumbuh sehat ya didalam perut Mama, kita berjuang sama-sama dan kamu akan menjadi penyemangat nya Mama. Mama tidak akan membenci kamu seperti Mama membenci Papa kamu, karena bagaimanapun kamu tetap anak Mama. Kamu harus janji sama Mama, kamu jadi anak yang kuat ya kemanapun Mama pergi kamu harus kuat dampingi Mama" lalu Alya pun membaringkan tubuhnya di ranjang kecil itu, setelah beberapa saat menatap langit-langit kamarnya sambil terus mengusap-usap perut nya, ia pun memejamkan matanya terlelap menghilangkan segala keresahan hatinya.

__ADS_1


__ADS_2