Dendam Istri Yang Tak Dianggap

Dendam Istri Yang Tak Dianggap
BAB 76


__ADS_3

Tak terasa waktu 2 bulan sudah berlalu sejak kelahiran baby Nayla. Saat ini, Alya dan baby Nayla tinggal di rumah yang sudah lama dibeli Papa Tyson, yang katanya akan diberikan kepada Alya dan David setelah mereka memiliki anak. Di rumah itu, Alya ditemani oleh nek Minah. Sementara Papa Tyson dan Mama Herlina kembali ke rumah utama, tapi hampir setiap hari mereka berkunjung untuk menjenguk baby Nayla.


Begitu juga dengan David, seperti janji Alya yang akan mengizinkan nya kapan saja ingin bertemu dengan baby Nayla. Saat pagi David sudah datang, dan akan pulang saat sudah larut setelah baby Nayla sudah terlelap.


Tapi, berbeda dengan malam ini. Saat baby Nayla sudah tidur David terus menatap wajah lelap bayinya itu seolah tidak ingin pulang. Sesekali ia melirik Alya yang sedang merapikan pakaian baby Nayla.


Besok adalah hari sidang perceraiannya, dan malam ini David ingin membicarakan nya sekali lagi pada wanita itu sebelum besok terdengar ketukan palu hakim, dan semuanya akan benar-benar berakhir.


Perlahan David beranjak dari tempat duduknya, ia melangkah ke arah di mana Alya berada.


"Alya, apa aku bisa bicara sebentar?" Alya yang posisinya membelakangi David, terkejut karena tiba-tiba David sudah berdiri di belakangnya.


Alya pun melangkah keluar dari kamar menuju ruang tamu dan diikuti oleh David. Dan kedua nya pun kini duduk berhadapan.


"Alya, besok adalah sidang perceraian kita. Apakah selama 2 bulan ini, hatimu tidak tergerak untuk membatalkan perceraian kita" ucap David membuka suara.


"Kalau kau tidak bisa melakukan nya demi aku, setidaknya lakukanlah demi anak kita, Nayla" sambungnya dengan tatapan memohon.


Di hadapan David, Alya diam dengan menatap kedua mata David. Dan sekali lagi, Alya ingin mencari sebuah rasa yang pernah ada dengan menatap Lelaki itu, tapi sayangnya rasa itu memang sudah tidak ada lagi.


"Kalau hanya perbuatan kasar dan kata hina yang pernah Kak David lontarkan padaku, mungkin aku bisa saja membatalkan perceraian ini. Yah, dan itupun hanya demi Nayla. Tapi maaf, Kak. Aku tidak bisa tidur dengan memeluk Laki-laki yang tubuhnya bekas wanita lain. Kalau saja dulu hubungan Kak David dengan Lestari hanya sebatas sepasang kekasih dan bukannya partner ranjang, mungkin aku tidak akan sebenci ini pada Kak David. Aku benar-benar minta maaf, Kak. Maaf karena rasa yang pernah ada untuk Kak David, sekarang sudah terkubur dengan kebencian ku"


"Pulanglah Kak, besok kita bertemu di pengadilan dan aku mohon jangan mempersulit apapun lagi" ucap Alya, ia berbicara dengan menundukkan kepala nya. Alya tidak melihat kalau David menatapnya dengan tajam.


Entah setan apa yang merasuki David, ia berdiri dan langsung menarik tangan Alya masuk ke dalam kamar. Didalam kamar David langsung menghempaskan tubuh Alya ke atas ranjang.


"Kak David, apa yang kau lakukan?" Alya meringis kesakitan, dan disaat ia hendak bangun David langsung naik ke atas ranjang dan menindih tubuhnya.


"Kak, apa-apaan ini, kau sudah gila!" Alya hendak mendorong David, tapi David dengan cepat menangkap kedua tangan Alya dan menguncinya ke atas kepala Alya.


"Kau ingin bercerai dengan ku kan? baiklah kalau begitu besok kita akan bercerai! Tapi kau harus ingat, malam ini aku masih suami mu jadi sekarang kau harus melayani aku dulu" David dengan beringas mencium bibir Alya, me lu mat nya dengan rakus, tak membiarkan Alya bersuara sedikit pun.


Bibir David berpindah dari bibir Alya ke leher Alya, dan disitulah Alya baru bisa mengeluarkan suaranya dan mengumpati David sejadi-jadinya.

__ADS_1


"Dasar breng sek! Lepaskan aku laki-laki bajing an! kau memang tidak pantas di sebut suami!" Alya terus memberontak tapi tenaganya tidak cukup kuat dari David, bibir David terus bermain di leher Alya tanpa menghiraukan umpatan nya.


"Lepaskan aku breng sek! kau menyakiti aku, perut ku sakit, lepas!" bekas jahitan di perut Alya mulai terasa nyeri karena David menindih nya belum lagi ia yang terus bergerak memberontak melakukan perlawanan tapi hanya sia-sia tenaga David begitu kuat.


Tapi David seakan tuli, ia tak menghiraukan Alya yang berteriak kesakitan di perut, ia malah semakin menjadi dan dengan sekali tarikan, pakaian Alya robek hingga menampakkan pembungkus gunung kembar nya.


Saat kedua tangannya terlepas dari David, Alya langsung memegang perutnya yang terasa semakin nyeri bahkan sudah terasa lembab Alya meraba perutnya yang ternyata sudah mengeluarkan darah.


David yang hendak membuka pakaian juga seketika turun dari atas tubuh Alya saat tatapannya tertuju pada jahitan di perut Alya, bekas Caesar yang sudah berdarah.


"Alya, perut mu berdarah" David pun menjadi panik, dengan cepat ia membuka kemeja nya dan langsung membalutkan nya di perut Alya.


"Alya, maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu" David merasa bersalah, seandainya saja tadi ia tidak emosi dan melakukan ini pada Alya, pasti Alya akan baik-baik saja dan tidak menyakiti perut nya seperti ini.


Dan Alya ia semakin kesakitan, ia tidak memperdulikan lagi keadaannya sekarang, tubuh bagian atas nya hanya tinggal menyisakan pembungkus gunung kembarnya.


David semakin panik, jalan satu-satunya sekarang adalah membawa Alya ke rumah sakit sekarang juga. David pun berlari keluar dari kamar mencari keberadaan nek Minah untuk menjaga baby Nayla.


Nek yang kebetulan berada di dapur hendak mengambil air minum, terpekik kaget saat tiba-tiba David langsung menarik tangannya, dan segelas air putih di tangan nek Minah pun terjatuh ke lantai.


Tapi David tidak menjawab, ia terus menarik nek Minah hingga mereka sekarang berada di dalam kamar Alya.


Nek Minah yang melihat Alya meringkuk di atas ranjang langsung menghampiri nya dengan panik.


Sementara David membuka lemari pakaian Alya untuk mengambilkan baju untuk Alya dan juga dirinya, beruntung Alya mempunyai kaos oblong yang bisa di pakai oleh lelaki juga.


"David, ada apa ini? kenapa perut Alya bisa sampai berdarah seperti ini, apa yang kau lakukan pada Alya, apa kau memaksanya, huh!" nek Minah pun marah. Nek Minah yakin pasti David meminta haknya dengan cara memaksa, apalagi melihat keadaan keduanya, David yang tidak memakai baju serta Alya yang tinggal mengenakan pembungkus gunung kembarnya.


"Nek aku minta maaf, tapi aku tidak bermaksud untuk menyakiti Alya. Nek, sekarang aku minta tolong nenek buat jagain Nayla, aku harus segera membawa Alya ke rumah sakit. Tapi tolong, nenek jangan katakan apapun pada Papa dan Mama, setelah Alya selesai ditangani oleh dokter aku akan langsung membawa Alya pulang"


"Ya sudah kalau begitu cepat bawa Alya ke rumah sakit, perut tidak bisa di biarkan berlama-lama seperti ini"


"Iya nek, tolong bantu pakaikan Alya baju"

__ADS_1


Setelah memakaikan baju Alya, David segera menggendong Alya menuju mobilnya.


"Nek, tolong jaga Nayla ya nek" Setelah berpamitan pada nek Minah, David pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, mobil David pun sudah sampai di rumah sakit.


Dan tak berapa lama.Bekas luka jahitan Caesar Alya, kini sudah selesai ditangani oleh dokter.


Sementara David, ia semakin merasa bersalah setelah tadi dokter memberinya peringatan tentang bahaya, darah yang keluar dari bekas luka jahitan Caesar.


Dan kini, David dan Alya sudah berada di dalam mobil hendak pulang. Alya memilih untuk duduk di kursi penumpang di belakang, semenjak kejadian beberapa saat yang lalu ia semakin jijik untuk berdekatan dengan David.


David menoleh ke belakang menatap Alya, dan Alya langsung membuang muka ke arah jendela kaca mobil saat David menatapnya.


"Alya, aku minta maaf, aku tidak bermaksud menyakiti mu seperti tadi"


"Berhenti meminta maaf, aku sudah muak mendengar nya, kata maaf itu sudah tidak ada gunanya lagi" ucap Alya ketus. Selama 2 bulan ini, ia berusaha bersikap baik pada David walaupun ia tetap akan melangsungkan perceraian nya. Tapi, setelah kejadian beberapa saat yang lalu, rasanya Alya ingin mencabut kata-kata nya yang mengizinkan David untuk bertemu baby Nayla kapan saja.


Tapi, apakah itu tidak terlalu jahat, memisahkan anak dan ayahnya? Entahlah, Alya merasa semakin membenci lelaki yang duduk di kursi kemudi itu.


Setelah mengantarkan Alya pulang, David juga segera melajukan mobilnya pulang ke rumah utama. Sebenarnya David merasa enggan untuk pulang ke rumah itu, karena di rumah itu banyak sekali kenangan bersama Alya disana, mengingat itu semua membuat hati David semakin sakit saja.


Tapi itu semua adalah resiko dari semua perbuatan nya dahulu, dan ia harus menerima nya dengan lapang dada.


"Loh David, kamu kok pulang pakai baju kaos gini, bukannya tadi pagi kamu pergi pakai kemeja ya?" Mama Herlina mencoba mengingat lagi, baju apa yang di pakai David pergi tadi pagi mengunjungi baby Nayla, dan mama Herlina sangat yakin kalau tadi lagi David memakai kemeja bukannya kaos oblong seperti yang dipakai David sekarang.


"David, kamu gak macam-macam kan di luar sana? kamu seharian kemana sih, apa bener kamu pergi lihat baby Nayla?" Mama Herlina menatap Putra nya dengan tatapan menyelidik. Curiga, takut-takut Putra nya itu melakukan hal yang tidak tidak, seperti mengulangi kesalaha yang pernah dilakukan bersama Lestari.


"Apaan sih, Ma. Gak usah natap aku curiga gitu. Aku seharian ini bersama baby Nayla, aku gak ada pergi kemana-mana, dan ini saja aku pulang setelah baby Nayla tidur"


"Tapi kenapa kamu pulang nya bisa pakai baju kaos gini, kemeja yang kamu pakai tadi pagi itu kemana?" tanya Mama hHerlina penasaran.


"Ya ampun Ma, sama baju aja curiga banget. Ini tadi aku gendong baby Nayla terus dia pipis di kemeja aku, beruntung Alya punya baju kaos gini, kalau engga aku bisa gak pakai baju pulangnya" jawab David berbohong, ia tidak mungkin mengatakan apa yang terjadi sebenarnya, kalau Papa Tyson tahu, pasti dia dihajar habis-habisan lagi.

__ADS_1


"Ma, aku istirahat dulu ya. Besok pagi kita harus ke pengadilan agama" ucap David sendu, ia pun pergi ke kamarnya.


__ADS_2