
1 jam kemudian.....
"Kak David makan malam sudah siap, ayo keruang makan Papa dan Mama sudah menunggu kak David" panggil Alya dari balik pintu, ia merasa sungkan untuk masuk.
Dengan langkah malas lantaran kesal, David pun turun dari ranjangnya lalu melangkah ke arah pintu. Namun langkahnya terhenti dan berbalik arah menuju ponselnya di atas nakas yang berdering.
"Ya halo sayang, ada apa? Tanyanya pada seseorang di ujung telepon, siapa lagi kalau bukan kekasihnya, Lestari.
"Bagaimana keadaanmu sayang?" Tanya Lestari balik. "Apa kau sudah baikan sekarang? Apa kita bisa bertemu malam ini" ucapnya dengan nada manja.
"Maaf sayang, sepertinya kita tidak bisa bertemu malam ini. Aku sangat lelah dan juga sedang tidak enak badan sekarang" Dusta nya. "Sepertinya besok juga aku tidak bisa ke kantor, tolong kau urus semuanya ya sayang'' kata David, ia mengelus dadanya, baru kali ini ia berbohong pada kekasihnya itu.
"Apa kau sedang sakit, sayang?"
"Tidak, hanya saja akhir-akhir ini aku sering merasa kelelahan, oh ya aku tutup teleponnya dulu ya, Mama memanggil ku untuk makan malam"
Tut Tut Tut, David pun menutup telponnya. Dan Lestari disana yang belum selesai berbicara langsung melempar ponselnya ke atas ranjang karena David mematikan sambungan telepon nya.
"Sial! Aku belum selesai berbicara dia malah mematikan teleponnya, awas saja jika kau berani membohongiku David"
David keluar dari kamarnya, ternyata Istrinya sudah tidak ada dibalik pintu. David pun menuju ruang makan, dan benar disana sudah ada Mama, Papa dan juga Istrinya.
David sengaja duduk berhadapan dengan Alya, agar bisa leluasa memperhatikan Istrinya itu. Sementara Alya sendiri, ia tidak memperdulikan itu, menurutnya bagus jika suaminya mulai memperhatikannya. Jika suaminya itu mulai tertarik padanya, maka ia sendiri akan lebih mudah untuk membalas sakit hatinya.
Seperti biasa saat didepan Tyson dan Herlina, Alya berdiri dari tempat duduknya lalu melangkah dimana suaminya duduk. Alya menyendok kan nasi beserta lauk-pauk ke dalam piring suaminya, dan David menarik sudut bibirnya menyunggingkan senyum.
Makan malam itu pun seketika hening, hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu dalam piring yang terdengar di ruangan itu. Setelah selesai makan, Tyson dan Herlina pergi menuju ruang keluarga untuk bersantai terlebih dahulu sebelum beristirahat di kamar mereka. Sementara Alya yang juga baru selesai makan, menumpuk piring bekasnya dengan piring bekas Herlina dan Tyson lalu membawanya ke dapur tanpa menunggu suaminya itu menyelesaikan makannya terlebih dahulu.
David menatap langkah Alya hingga hilang di pembatas ruangan. "Dasar jelek, payah! Istri tidak tau diri" umpatnya saat Alya sudah berlalu.
David pun meninggalkan ruang makan tanpa menyelesaikan makannya, lalu pergi menyusul kedua orangtuanya di ruang keluarga. David pun duduk disamping Papa nya.
"Em Pa, bagaimana kalau besok malam kita makan malam di luar"
__ADS_1
"Ada apa? Tumben mengajak makan malam di luar" Tyson menautkan kedua alisnya.
"Tidak ada apa-apa Pa, aku hanya ingin saja, bukankah kita sudah lama tidak keluar bersama" kata David, dalam hati berharap Tyson menyetujui usulannya untuk makan malam di luar.
"Em baiklah, besok kita akan makan malam di luar" kata Tyson, dan seketika David menyunggingkan senyum.
Alya yang mendengar itu langsung menghubungi Kevin, dan memintanya untuk datang besok malam. Dan Kevin pun setuju karena ia juga sebenarnya memang akan menemui Alya untuk mengajaknya bergabung di perusahaannya dengan menjadi brand ambasador produk herbal penurun berat badan. Dan menurut Kevin ajakan Alya yang memintanya datang ke besok malam adalah waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu pada Alya.
Setelah perbincangan di ruang keluarga itu, David pamit untuk ke kamarnya. Tak lama Tyson dan Herlina pun pergi ke kamar mereka.
Didalam kamar, saat David masuk ia mendapati istrinya sedang rebahan di sofa yang menjadi tempat tidur Istrinya itu, sambil memainkan ponselnya tanpa menghiraukan dirinya.
"Besok malam kita akan pergi untuk makan malam di luar" kata David, ia duduk di pinggiran ranjangnya sambil menatap Istrinya itu.
"Ya, aku dengar tadi" jawab Alya, namun tatapannya terus tertuju pada ponselnya.
"Kalau kau sudah tau, terus kenapa kau masih berdiam diri disitu dan bukannya menyiapkan pakaian yang akan kau pakai besok malam. Dan pokoknya kamu harus terlihat cantik agar tidak mempermalukan keluar Richardo nanti"
Mendengar itu Alya pun meletakkan ponselnya lalu membenarkan posisi duduknya dan menatap lekat suaminya. "Sejelek itukah aku dimata Kak David, sampai hal itu saja aku harus di peringatkan"
"Kalau itu masalah nya, lebih baik tidak usah mengajak ku" Alya beranjak dari tempat duduknya ia mengambil ponselnya lalu hendak keluar dari kamar itu"
"Pokoknya kau harus ikut!" Teriak David, iapun menenggelamkan tubuhnya di balik selimut tak ingin mendengar penolakan istrinya itu.
"Dasar egois" umpat Alya sambil berlalu dari kamar itu.
Keesokan harinya...
David melihat jam branded yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah pukul 4 sore. Ia membereskan semua tumpukan dokumen di atas meja kerjanya lalu bersiap-siap untuk pulang.
Saat hampir mencapai pintu, tiba-tiba pintu ruangan dibuka dari luar. Tebak saja siapa yang membukanya? Yah itu adalah Lestari, sekertaris sekaligus kekasih David. Seketika David pun melenguh melihat siapa yang masuk, yah David tau apa tujuan Lestari datang ke ruangannya, sudah pasti ingin mengajak pulang bersama lalu kemudian akan berakhir di ranjang apartemen David.
"Sayang, kau sudah mau pulang?" Tanpa David minta pun, Lestari sudah menghampirinya lalu mengecup pipinya.
__ADS_1
"Iya. Tapi maaf ya sayang, hari ini aku tidak bisa pulang bersamamu, aku harus segera pulang karena Mama dan Papa mengajak ku makan malam di luar"
"Pasti bersama istrimu juga kan?" Lestari yang tadinya bergelayut manja di lengan David, kini menggeser posisinya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Yah mau gimana lagi, ini permintaan Papa dan Mama. Tapi aku janji, setelah itu aku akan menemui mu" David mengelus rambut kekasihnya itu.
Malam harinya....
Kini keluarga Richardo sudah berada disebuah restoran mewah di kota itu. David yang duduk berhadapan dengan Istrinya sesekali mencuri pandang, ia mengakui dalam hati kalau penampilan Istrinya malam ini sangat luar biasa, ternyata Istrinya itu cantik juga jika dipoles makeup, bahkan bekas lukanya pun tidak terlihat.
"Maaf, aku datang terlambat" ucap Kevin, lalu duduk disamping Alya.
Alya tersenyum pada Kevin, begitu juga dengan Tyson dan Herlina yang tidak merasa terkejut dengan kedatangan Kevin karena sebelumnya Alya sudah memberitahu mereka akan mengundang Kevin juga. Sementara David, ia mengepalkan kedua tangannya dibawah meja melihat Kevin datang apalagi Istrinya itu tersenyum pada lelaki itu.
Makan malam keluarga itupun tak berjalan dengan harapan David karena kehadiran Kevin, David merencanakan itu karena untuk membuka jalan agar bisa mendekati istrinya. Namun itu semua gagal karena Alya terlihat lebih akrab dengan Kevin daripada dirinya.
"Oh ya, Alya" Kevin menyodorkan sebuah map pada Alya.
"Ini apa Kevin?" Tanya Alya penasaran.
"Em begini Alya, Om, Tante dan David. Sebelumnya kan Alya pernah memakai produk herbal untuk menurunkan berat badan dariku, dan itu berhasil menurunkan berat badan Alya. Jadi, maka dari itu aku ingin mengajak Alya bergabung di perusahaanku dengan menjadi brand ambassador produk tersebut karena Alya sendiri sudah merasakan khasiat dari produk itu. Jadi bagaimana?" Kevin menatap satu-persatu orang-orang itu meminta persetujuan.
"Yah kalau Om, terserah pada Alya saja" kata Tyson, begitupun dengan Herlina yang menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana, Alya?" Kevin menatap Alya.
Tanpa menjawab, Alya membuka map itu dan langsung membubuhkan tanda tangannya di sana. Kevin pun terkesiap dengan tindakan Alya itu.
"Eh Alya, kau belum meminta izin pada suamimu"
"Kak David pasti mengizinkan, iya kan kak David?" Alya menatap suaminya itu dengan tersenyum.
"Yah Terserah Alya saja" kata David, namun didalam hatinya begitu kesal.
__ADS_1
"Bagus sekali Kevin, ternyata tidak sia-sia aku mengundangmu datang kemari. Kau membawakan kesempatan besar untukku" ucap Alya dalam hati.