Deritaku Ataukah Takdirku?

Deritaku Ataukah Takdirku?
Belanja


__ADS_3

" Ah, itu dia tokonya".


Nina kemudian melepas cincin, dan anting-antingnya. Kemudian berjalan ke toko perhiasan.


" Permisi mbak, saya mau menjual ini."


Menyerahkan cincin dan anting-anting pada salah satu karyawan toko.


" Suratnya mana? mau dijual apa ditukar?". Melihat perhiasan yang berikan ida.


" Dijual aja, Suratnya tidak ada. Itu Emas malaysia."


" Tunggu sebentar ya?"


" cincin dan anting-anting nya dibeli dengan harga xxx ".


" Mau dilepas atau dibawa lagi."


" Dijual saja mbak."


Wanita tadi berjalan ke belakang, kemudian menghitung sejumlah uang, dan menyerahkannya kepada nina.


" Saya hitung dulu ya mbak". Karyawan itu hanya mengangguk.


" Oke, pas. Makasi ya mbak". Dengan tersenyum nina meninggalkan toko perhiasan, dan menuju toko perabot.


Drrtt drtt drttt....


" Hallo mam".


" Ada dimana?, apa kalian sudah pindah?". Suara ibu di seberang sana.


" Aku ada di pasar, maaf aku menjual perhiasaan yang ibu berikan untuk membayar uang sewa dan membeli kasur." lirih nina.


" Iya tidak apa, nanti mama ganti."


" Terima kasih mam, kalau begitu aku matikan dulu, aku sedang berada di toko perabot sekarang."

__ADS_1


" Baiklah, hati hati dijalan".


tut.


Sambungan telfon dimatikan. Nina pun memasuki toko perabot. Setelah berkeliling dan memilih apa apa saja yang diperlukan, nina pun melangkah ke meja kasir untuk membayar.


" Tiga kasur busa ukuran 120 total xxx. empat bantal dan 4 guling, saya kasih harga termurah xxxx. Dua lemari plastik xxx. satu rak piring dan dispenser, saya kasih air + galon nya gratis. Jadi total semua xxx". ucap laki laki bermata sipit, berkulit putih.


" Tidak di kasih diskon ko?, saya beli banyak lo."


" haiya... oek sudah kasih galon+air gratis, lu orang masih minta diskon a." menjawap dengan nada khas orang berkulit putih, seperti suara uncle atong di film si botak kembar.


" Ah, ayolah koko, biar jadi pelanggan." ucap nina sambil tersenyum


" Okeh lah. Hey lu orang, antar semua barang-barang ke alamat ini." berkata sambil menunjuk salah satu pegawai nya.


" emm, koko. Apa saya boleh ikut baik pik up nya?, hehe, saya tidak bawa kendaraan".


" Baiklah, ikut saja. Biar tidak kesasar".


" Ah iya, terima kasih paman"


Tak perlu waktu lama, nina sampai di rumahnya, masuk ke dalam rumah dan dengan sigap, laki-laki tadi menurunkan barang, dan meletakkannya di tempat yang ditunjuk nina.


Dengan cekatan nina dibantu adik dan kakeknya menata barang yang barusaja di beli nina.


" Ini uang untuk membayar uang sewa kakek." ucap nina sambil menyerahkan sejumlah uang kepada kakek nya.


" Kakak, aku kesekolah naik apa?, sekolahnya jauh." rengek dwi.


" Ah, iya kakak lupa, biarkan kakak minta bantuan ayah. oke".


" Kakak janji ya?" meninggikan jari kelingkingnya. Nina membalas sambil tersenyum.


...****************...


Keesokan harinya, setelah selesai memasak, nina menelpon seseorang.

__ADS_1


" Hallo ayah. bisakah aku pinjam motor ayah? motor ayah kan banyak."


" bla bla bla bla bla bla" suara ayah mengoceh dipagi hari.


" Ayolah ayah, hanya 1. Motor matic." Nina memohon dengan suara semanja mungkin.


" Datanglah ke rumah ayah, dan ambil lah."


" Aku naik apa kesana, minta tolong abang hamdan saja, untuk mengantarkan motornya kesini."


" hah, baiklah baiklah."


" Hehe, terima kasih. Ayah baik deh."


" Kau anak laq..nat. Manis saat ada mau nya."


" Hehe, kan ayah guru nya."


" Hei berani nya kau."


tut


Nina memutuskan sambungan telfon nya.


...----------------...


...----------------...


...jangan lupa like...


...komen...


...vote...


...hadiah...


.......

__ADS_1


__ADS_2